Jangan Korupsi! Bukan Jangan Pamer | SWA.co.id

Jangan Korupsi! Bukan Jangan Pamer

Ilustrasi (State Dept./D. Thompson)

Imbauan kepada para pejabat pemerintah untuk tidak pamer harta terus terang agak mengganggu logika berpikir saya. Dengan imbauan seperti ini, apa yang akan terjadi? Para pejabat akan segera menyembunyikan harta kekayaannya. Akun media sosialnya akan diprivat. Postingan-postingan yang bersifat pamer segera akan di-take down. Dan mereka akan tetap melakukan apa yang selama ini mereka lakukan, tapi dengan cara yang lebih aman. Jadi, imbauan untuk tidak pamer ini sesungguhnya sudah salah kaprah. Mestinya bukan jangan pamer, tapi jangan korupsi.

Pamer dan korupsi itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Jadi, dalam hidup itu ada tiga tingkatan. Tingkat pertama, yang paling mendasar, adalah kebenaran. Ini adalah masalah benar atau salah. Tingkat kedua adalah kebaikan, ini soal baik atau buruk. Tingkat ketiga adalah keindahan. Ini soal indah atau tidak indah.

Nah, korupsi itu adalah perbuatan di tingkat pertama, yaitu soal benar atau salah. Ini masalah yang sangat prinsip dan sangat fundamental. Sementara pamer itu bukan soal kebenaran, tapi soal baik atau buruk. Korupsi adalah soal hukum, pamer itu “hanya” soal etika dan moral. Korupsi itu adalah pelanggaran nilai primer, sementara pamer itu “hanya” melanggar nilai sekunder.

Di sinilah terdapat kesalahan yang cukup fatal dalam cara berpikir. Ada dua hal yang ingin saya katakan di sini. Pertama, nilai itu tidak sama pentingnya. Ada nilai yang lebih penting daripada nilai yang lain. Nilai yang bersifat primer lebih penting daripada nilai sekunder atau tersier.

Kedua, tingkatan nilai tersebut bersifat berurutan dan tidak boleh dilompati begitu saja.

Kebenaran selalu menempati tingkat pertama yang fundamental. Di sini kita berbicara mengenai kebenaran, kejujuran, integritas, keadilan, dan cinta kasih. Nilai kebenaran ini merupakan saringan yang pertama. Sebelum kita lulus dalam nilai kebenaran, kita belum boleh bicara mengenai kebaikan, karena memang tidak ada gunanya dan hanya akan menghasilkan sesuatu yang misleading (salah arah).

Nilai sekunder adalah nilai-nilai yang terkait dengan baik atau buruk. Komunikasi dan teamwork merupakan contoh nilai sekunder. Begitu juga dengan kompetensi seperti planning, organizing and controlling, juga customer focus. Pamer juga masuk kategori nilai sekunder.

Yang menarik, menerapkan nilai sekunder tanpa terlebih dahulu memenuhi nilai primer adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Ambilah nilai teamwork. Apakah teamwork itu baik? Belum tentu. Teamwork hanya baik kalau yang dikolaborasikan adalah sesuatu yang benar. Teamwork hanya baik bila ia telah melewati saringan kebenaran. Ketika belum lulus saringan kebenaran, teamwork menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.

Jadi, sebelum kita mempromosikan nilai teamwork, pastikan dulu bahwa yang kita lakukan adalah hal yang benar. Ini sangat penting karena para perampok yang efektif senantiasa menjalankan nilai teamwork ini. Tanpa adanya teamwork, mereka tidak akan efektif dalam menjalankan pekerjaannya. Ini jugalah yang dilakukan oleh para koruptor. Mereka bisa berhasil dalam menjalankan misinya kalau mereka menerapkan nilai teamwork ini dengan sebaik-baiknya.

Begitu juga dengan nilai komunikasi. Para penipu senantiasa menggunakan cara-cara berkomunikasi yang efektif untuk mencapai targetnya. Bahkan, mereka tidak akan berhasil bila mereka tidak mampu berkomunikasi dengan baik, mendengarkan pembicaraan korbannya dengan penuh empati, dan menampilkan diri dengan sebaik-baiknya.

Jadi, teamwork dan communication bisa menjadi sebuah kompetensi dan kemampuan yang sangat berbahaya bila orang yang memilikinya belum lulus dari saringan yang lebih awal, yang lebih mendasar dan fundamental, yaitu saringan kebenaran.

Sama dengan contoh di atas, ketika para pejabat mematuhi perintah atasannya untuk tidak pamer, malapetakalah yang akan terjadi. Dengan tidak pamer, korupsi akan semakin sulit diberantas. Coba bayangkan, kalau saja Mario Dandy tidak pamer dengan mobil Rubicon-nya, apakah masalah penyalahgunaan wewenang di Dirjen Pajak akan terbongkar?

Saya yakin, tidak. Justru masalah ini terbuka lebar karena adanya pamer harta ala Mario Dandy ini. Tanpa adanya pamer harta ini, Rafael Alun Trisambodo akan hidup damai dan sejahtera sampai hari tuanya. Begitu juga dengan teman-teman Rafael yang lainnya yang hidup dari memanipulasi pajak rakyat.

Jadi, yang harus ditegakkan adalah jangan korupsi. Ini soal benar atau salah. Selama orang masih korupsi, jangan dulu kita bicara soal pamer. Imbauan jangan pamer dalam situasi ini sangat kontraproduktif. Imbauan jangan pamer itu baru akan benar ketika sudah bisa dipastikan bahwa semua pejabat menaati imbauan pertama, yaitu jangan korupsi.

Yang menyakiti hati rakyat itu sesungguhnya juga bukan pamer. Banyak orang yang memamerkan kekayaannya di media sosial dan kita juga melihatnya dengan biasa-biasa saja, karena kita tahu bahwa harta yang mereka pamerkan itu bukan hasil korupsi. Yang menyakiti hati rakyat itu sesungguhnya bukan perilaku pamer, tetapi perilaku korupsi. (*)

Arvan Pradiansyah *) Motivator Nasional – Leadership & Happiness

www.swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)