Millennials (Friendly) Tourism “Who wins the future, wins the game”

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc. , Mentri Pariwisata

Minister Message

Generasi milenial telah menjadi segmen primadona dalam semua industri. Kehadiran segmen ini sangat signifikan mengubah lanskap bisnis, termasuk pariwisata. Oleh karenanya, saya merasa Kemenpar perlu lebih serius membuat perencanaan strategis untuk membidik

Seperti yang dikatakan Prof. Rhenald, generasi milenial kebutuhannya adalah esteem needs, atau ingin diakui. Sehingga menurut sebagian dari kita generasi di atasnya, mereka terlihat aneh. Contohnya, mengapa sekarang semua destinasi digital menjadi trending topic, karena mereka memang berkebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.

Mengapa mereka menyukai destinasi yang relatif baru? Karena mereka ingin diakui sebagai orang pertama atau sebagian kecil yang telah mengunjungi destinasi itu. Karenanya wisata petualangan (adventure) jadi ramai, atau wisata olahraga seperti maraton semakin digemari.

Mereka juga sangat digital. Malah saya berani mengatakan, kalau tidak digital, bukanlah milenial. Karenanya akan sulit memenuhi kebutuhan milenial kalau kita tidak menyediakan platform digital.

Generasi milenial jumlahnya sangat besar. Saya cukup surprise, 50% inbound traveller ke Indonesia kategori umurnya adalah milenial. Datanya mungkin sedikit salah, tapi kalaupun salah 10%, itu masih cukup besar. Dan mereka suaranya sangat lantang di media khususnya media sosial. Dengan jumlah yang besar dan bersuara kencang, mereka adalah customer yang sangat penting.

Kemudian, saya bertanya kepada diri sendiri, pernahkah kita berpikir bahwa iklan-iklan TVC yang kita produksi itu sudah millennial-friendly? Jawabannya adalah tidak pernah. Saya merasa sangat egois, iklan kita sangat product-oriented hanya menampilkan produk-produk (destinasi) yang kita punya, atau istilahnya masih “Marketing 1.0”.

Saya tidak memedulikan apakah iklan itu disenangi milenial atau tidak. Namun, ternyata (iklan) yang viral di milenial justru saya tidak menyukainya. Saat FGD ketiga kemarin terpaksa saya putar video berjudul Bali Cheap Paradise yang viral itu. Video seperti itulah yang disenangi anak-anak muda ‘gila’ itu.

Ada customer yang besar dan lantang, tetapi saya tidak peduli. Kita harus melakukan penataan ulang secara mendasar, apakah bahasa kita sudah sama dengan bahasa customer utama kita. Jadi, selain platform digital, harus disediakan juga kontennya. Mereka sudah tidak menonton TV, namun saya membayangkan iklan kita muncul di TV, sangat tidak nyambung.

Lalu ada pertanyaan lagi, apakah kita sudah membangun destinasi berdasarkan kebutuhan milenial? Akhirnya jadi terbalik-balik, kita mengklaim destinasi digital, nomadic tourism itu sebenarnya untuk milenial. Sama halnya dengan calendar of events (CoE) yang kita dukung, saya tanya ke Bu Eshty sebagai Ketua Pelaksana CoE, dari top of mind 100 CoE mana yang sudah didesain untuk milenial? Karenanya saya menginstruksikan 20% event di CoE 2019 sudah harus millennial-friendly.

Generasi ini selalu berorientasi pada masa depan, maka berikanlah masa depan itu pada saat ini. Karena anak-anak ini lahir tapi kebutuhannya di masa depan, sehingga datangkanlah (masa depan) itu sekarang. Akhirnya saya tulis, “who wins the future, wins the game”. Diperlukan pengembangan strategi marketing khusus sebagai suatu inisiatif untuk mengkapitalisasi potensi industri pariwisata ke depan.

Contohnya ketika kita membaca koran dengan konten orang dewasa, biasanya disisipkan lembaran-lembaran remaja untuk menyasar customer masa depan itu. Saya meyakini, kalau koran itu tidak diberi sisipan (konten) remaja, maka akan ditinggalkan. Sama halnya jika kita tidak menawarkan masa depan itu sekarang.

Salam Pesona Indonesia !!!

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)