Oma Lily, Strong Woman with A Strong Man

Almarhumah Lily Soeryadjaya (kiri), istri pendiri PT Astra International Tbk William Soeryadjaya saat bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di seremoni membuka patung William Soeryadjaya dalam rangkaian acara Grand Launching Menara Astra di Jakarta (Foto Dok. Astra).
Almarhumah Lily Soeryadjaya (kiri), istri pendiri PT Astra International Tbk William Soeryadjaya saat bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di seremoni membuka patung William Soeryadjaya dalam rangkaian acara Grand Launching Menara Astra di Jakarta (Foto Dok. Astra).

Kata orang bijak, di balik suami yang hebat pasti ada perempuan yang hebat. Atau sebaliknya, karena ada perempuan hebat, suami jadi hebat. Entah mana yang benar, tapi keduanya ada pada diri Opa William, pendiri Astra, dan Oma Lily, istrinya, yang baru saja dipanggil Bapa di Surga pada 29 Juni 2021.

Siapa yang tak mengenal kehebatan Opa William? Bukan hanya soal cara negosiasi dan upaya kuat untuk menggaet mitra besar sehingga Astra bisa menjadi besar pada zamannya dan tetap bertahan sampai saat ini. Namun, kehebatan dan kebesaran Opa William bukan pada saat beliau membentuk, mengembangkan, dan membesarkan Astra, tapi justru pada waktu ia rela melepas Astra sebagai bagian dari tanggung jawabnya secara moral dan spiritual untuk menyelesaikan persoalan perusahaan keluarganya.

Bagi saya, momen di tahun 1992 itu adalah momen terberat. Bukan hanya untuk Opa William dan keluarganya, tapi juga karyawan kecil seperti saya waktu itu. Opa dan Oma bukan hanya pemilik dan pemimpin, tapi juga sosok Ayah dan Ibu bagi kami, secara institusional dan individual.

Dan, kehebatan itu ternyata diteruskan oleh Oma Lily yang sejak 11 tahun lalu menjadi sendiri sebagai ikon founder Astra yang tidak dapat digantikan oleh pemegang saham mayoritas saat ini ataupun nanti.

Oma Lily tetap oma yang menganggap karyawan ―dari office boy sampai direksi― adalah anak-anaknya. Walaupun sejak saat itu beliau dan keluarganya tak memiliki saham Astra lagi, keterikatan hatinya dengan Astra tak akan pernah sirna atau diputus hanya karena ia bukan pemegang saham. Beliau adalah pemegang jiwa dan roh Astra yang dikenal dengan nama Catur Dharma, falsafah perusahaan yang tetap dipelihara sampai saat ini oleh Astra.

“Paulus, kalau ada waktu, bisa ke ruangan Tante?” demikian kata Tante lewat telepon ―waktu itu kami masih menyebutnya Tante. “Satu jam lagi boleh Tante, saya lagi menyelesaikan tugas yang harus saya serahkan ke pimpinan hari ini,” saya menjawabnya tanpa ragu walau beliau istri pemilik. “Ndak apa-apa, kowe saya tunggu ya,” ujarnya dalam bahasa Jawa karena beliau tahu saya orang Jawa yang waktu itu bahasa Indonesia saya masih bledag-bledug karena baru dari kampung.

Di kantornya ―sebetulnya adalah ruang makan direksi alias kantin bos― beliau lalu cerita apa saja yang menjadi kegundahan hatinya. Soal si Om, begitu beliau memanggil Om William; soal anak-anaknya; soal eksekutif yang beliau dengar kurang baik. Pokoknya, apa saja beliau ceritakan.

Tujuannya, tentu bukan untuk mendapat jawaban, apalagi nasihat, dari staf rendahan seperti saya waktu itu, tapi sekadar ada orang yang mau mendengar. Di akhir ceritanya, beliau selalu berkata, “Tolong, ye (kali ini pakai bahasa Belanda) doakan ya.” Beliau tahu, saya adalah pendoa dan sering diajak berdoa.

Setelah saya doa, pasti beliau memberikan ucapan terima kasih, berupa kue nastar, kadang apel atau cokelat. “Digowo pulang buat istri dan anak, ya,” ujar beliau yang selalu ingat istri dan anak saya.

Beliau pulalah yang menyediakan mobil dan kue pengantin ketika saya menikah, dengan pesan yang sangat jelas. “Pokoknya, mobil pakai mobil Tante ya, dan kue pokoknya Tante yang atur.” Kalau sudah begitu, artinya titik, jangan tanya karena beliau akan ribut.

Pada hari H, kebetulan mobil beliau bermasalah, jadi beliau yang sibuk meminjamkan mobil direksi Astra lain untuk mobil pengantin kami. Dan hanya pada hari H, kami tahu kue ulang tahunnya itu seperti apa. Pokoknya, pasrah total. Beliau memang sangat peduli kepada karyawan, walaupun saya masih belum punya jabatan yang cukup dibanggakan.

Sentuhan semacam ini bukan hanya untuk saya. Banyak orang yang disentuh Tante Lily, dan mereka pasti merasakan yang sama. Apa itu panti asuhan, pondok pesantren, orang kecil di pelabuhan, office boy, satpam dan petugas di bandara, kapten dan pramugari kapal udara, begitu melihat Tante, itu seperti the ultimate boss, dilayani luar biasa. Ya, karena ke-generous-an dalam merogoh kantong dan merogoh hati.

Itu sebabnya, eksekutif Astra yang masih dikenal beliau merasakan kehilangan sosok yang rendah hati dan mau membaurkan diri dengan karyawan tanpa sekat itu.

Nah, itulah yang membuat saya bingung, apakah karena Tante hebat, sehingga Om pun bisa hebat dan tegar menghadapi berbagai persoalan hidup, mulai dari pekerjaan, keluarga, sampai kesehatannya? Tak ada yang tahu jawabannya.

Namun bagi saya, ketika ada istri yang mendukung secara total, suami jadi enteng. Hidupnya jadi kreatif, karena tidak ada masalah serius di rumah yang membuat ia bisa mempraktikkan prinsip iman, pengharapan, dan kasih yang mereka lakukan setiap saat di rumah menjadi gaya hidup dalam memimpin di pekerjaan. Dan saya yakin, keluarga yang bahagia membuat pekerjaan di kantor jadi mudah karena konsentrasi kita jadi fokus.

Selamat jalan, Oma Lily. We will miss you. But for sure, we will meet you again in heaven. (*)

Paulus Bambang WS

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)