Tekstual vs Kontekstual

Tekstual vs Kontekstual

“Jika kau ingin menguasai orang-orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama.” Ibn Rushd/Averroes

Ilustrasi (Foto: news.virginia.edu).
Ilustrasi (Foto: news.virginia.edu)

Seorang santri bertanya kepada K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), “Agama itu sebenarnya apa sih, Kiai?”

K.H. Ahmad Dahlan diam tidak menjawab. Beliau justru mengambil biola dan memainkan tembang Asmaradhana hingga membuat para santrinya terbuai.

Lalu, beliau bertanya, “Apa yang kalian rasakan setelah mendengar musik tadi?”

“Aku rasakan keindahan, Kiai,” jawab Daniel. “Seperti mimpi rasanya,” sambung Sangidu. “Semua persoalan seperti mendadak hilang. Tenteram,” tambah Jazuli. “Damai sekali,” tukas Hisman.

“Nah, itulah agama,” kata K.H. Ahmad Dahlan. “Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, rasa tenteram, damai karena hakikat agama itu sendiri seperti musik. Mengayomi dan menyelimuti.”

Setelah itu, Hisman, salah seorang santri, mencoba biola tersebut, dan menghasilkan suara menderit. Bikin pusing pendengarnya. “Wah, suaranya berantakan ya, Kiai?” tanya Hisman sambil tersipu malu.

“Nah, begitu juga agama. Jika kita tak mempelajarinya dengan baik, agama hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan terganggu,” kata sang Kiai. “Maka, carilah guru yang menguasai ilmu agama dengan baik, yang hidupnya baik dan menjadi teladan banyak orang, supaya kita menjadi baik dan dapat menjadi teladan semua orang. Banyak guru yang menguasai ilmu agama, tapi tidak semua bisa menjadi teladan yang baik.”

Semoga dengan memeluk dan menjalankan agama yang kita imani, kita dapat membawa kedamaian dan kesejukan dalam hidup bersama serta mampu menghargai perbedaan yang ada. Mustahil sesuatu itu ada jika Allah tidak berkehendak.

(Kisah di atas adalah tulisan Achmad Faiz ).

Demikianlah secuplik diskusi yang sangat bernilai. Bahwa belajar agama harus pada orang yang baik dan benar. Bahwa beragama memerlukan cara berpikir kontekstual. Karena, apa yang kita lakukan sebagai umat-Nya sering berpengaruh pada lingkungan sekitar.

Membicarakan agama adalah membicarakan kombinasi antara keyakinan dan akal sehat. Penerapan soal agama dengan menggunakan akal sehat adalah penerapan cara berpikir yang kembali, kontekstual, bukan sekadar tekstual. Berpikir kontekstual adalah berpikir dalam horizon yang luas terbuka. Berpikir dengan melihat segala sesuatu dalam gambaran besar (big picture) mengenai topik yang dipikirkan ataupun dibahas.

Gambaran besar itu meliputi dimensi yang luas, mulai dari lingkungan yang bersinggungan dengan subjek pemikiran. Juga termasuk dimensi waktu.

Soal dimensi waktu, pernah suatu saat saya baca tulisan jenaka. Seorang penumpang taksi meminta sopir taksinya untuk mematikan musik di mobil. Katanya, “Musik itu bid’ah, nggak ada di zaman dulu.” Si sopir taksi dengan nada sewot membalas, “Bapak saya turunin aja. Zaman dulu nggak ada mobil!”

Mengenai gambaran besar, sebagai contoh berpikir: pembahasan dalam suatu kelompok diskusi menentukan objek pembahasan soal gajah.

Seseorang bertutur soal gajah, “Gajah itu binatang yang badannya besar sekali. Belalainya saja panjang, seperti ular. Ya, seperti ular. Nah, ular ini, kita tahu, termasuk binatang berbisa. Tapi di India, ular malah menjadi makhluk yang dipelihara sebagai suatu bagian dari ritual. Beda dengan di Indonesia, ular itu hewan melata yang sangat ditakuti. Kalau terdesak, ia bisa membunuh bahkan memakan manusia.”

Kisah gajah itu adalah suatu contoh jelas, bagaimana banyak orang terbawa dan terjebak dalam alur pemikiran sempit dan menyesatkan. Topik besar tentang gajah terabaikan, sementara pemikiran sudah terjerat oleh soal-soal kecil yang tak berkaitan dengan gajah.

Sebagaimana banyak orang yang bila berbicara agama, langsung terjebak pada ayat-ayat yang tekstual. Ayat-ayat yang seolah terpenggal dari seluruh kaidah dalam kitab suci. Ayat-ayat yang hanya ditafsirkan secara mentah, mengabaikan akal sehat manusia.

Padahal, semestinya gambaran besar atau pemikiran tentang gajah itu tak bisa dikesampingkan. Penggunaan akal sehat mutlak diperlukan dalam cara menjalani agama secara benar, secara kontekstual.

Dalam usaha berpikir kontekstual sebagai mahluk ciptaan-Nya, hal utama adalah kita mesti memahami perjalanan hidup kita. Tujuan hidup kita. Di mana soal tujuan itu tiada jauh dari seputar hablum minallah dan hablum minannas. Hidup taat sesuai dengan aturan-aturan-Nya dalam hablum minallah. Dan, menjadi orang yang bermanfaat bagi sesamanya (rahmatan lil alamin) dalam hablum minannas.

Bisa dipastikan, pada dasarnya kita semua ingin bahagia dan selamat di dunia dan akhirat. Dan untuk tujuan itu, marilah kita terus belajar berpikir dan bertindak kontekstual. Wajib selalu mengingat, sebagai pedoman dasar, tujuan hidup kita. Karena kalau kita terus saja berpikiran tekstual, ujungnya, mohon maaf, kita menjadi orang bodoh.

Dan ujung dari segala ujung, kata Ibn Rushd/Averroes, “Jika kau ingin menguasai orang-orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama.” Jelas, saya sendiri sangat tidak ingin menjadi orang-orang itu. (*)

Pongki Pamungkas

www.swa.co.id

# Tag