Agricon, Transformasi Wujudkan Pembentukan Induk Perusahaan

Haerul Bengardi, CEO PT Agriculture Construction (Agricon).
Haerul Bengardi, CEO PT Agriculture Construction (Agricon).

Dari sekian banyak produsen pestisida di Indonesia, PT Agriculture Construction (Agricon) merupakan salah satu yang berusia di atas 50 tahun. Agricon didirikan pada 17 April 1969 oleh Tatang Bengardi. Sejak 1994, tongkat komando perusahaan dipegang putranya, Haerul Bengardi.

Sebagai perusahaan agribisnis, Agricon tentu saja menghadapi berbagai tantangan. Antara lain, dari aspek teknologi, budaya kerja yang tidak relevan, dinamika perekonomian nasional, perubahan lini bisnis (dari distributor produk pestisida perusahaan mancanegara menjadi formulator/manufaktur pestisida), hingga pengalihan target konsumen (dari proyek pemerintah ke konsumen umum/free market).

Haerul menyebutkan, manajemen Agricon sejak 2008 merencanakan program transformasi dalam jangka pendek, menengah, dan panjang agar seluruh karyawan menghasilkan ide bisnis terbaik yang bisa diimplementasikan oleh perusahaan. “Tahun 2011, kami mulai mengimplementasikan program transformasi,” ujar CEO Agricon itu.

Salah satu hasil transformasi itu adalah perubahan pemegang saham Agricon yang menjadi dua keluarga, dari sebelumnya lima keluarga. “Konsekuensi strategi ini adalah Agricon mengakuisisi saham. Kini, pemegang saham Agricon hanya dua keluarga,” ungkap peraih gelar MBA dari Golden Gate University, San Francisco, California, Amerika Serikat itu.

Skala bisnisnya berkembang karena Agricon menaungi lima anak perusahaan, yaitu PT Agricon Indonesia (distributor pestisida), PT Agricon Sentra Agribisnis Indonesia (penyedia infrastruktur pertanian seperti green house, irigasi tetes, hidroponik, dan benih tanaman organik), PT Asia Gala Kimia (produsen pestisida untuk segmen bussines to bussines), PT Agri Lestari Nusantara (hilirisasi produk pertanian seperti keset dari sabut kelapa), dan PT Panca Agro Niaga Lestari (penyedia produk agrokimia, antara lain fungisida, bakterisida, pupuk/pengatur pertumbuhan, surfaktan, benih, penyemprot, hingga peralatan pertanian). “Di Januari 2016, kami membentuk Agricon sebagai induk usaha atau holding,” Haerul menuturkan.

Pembentukan induk perusahaan dibarengi dengan program revitalisasi yang mencanangkan visi, misi, dan filosofi perusahaan; menjual beberapa anak perusahaan di bisnis hotel, galian pasir, dan jasa pengendalian hama yang tidak terintegrasi dengan bisnis Agricon. Juga, menata ulang organisasi, membudayakan semangat berinovasi dan prinsip profesionalisme, menggunakan Balance Scorecard untuk menilai kinerja manajemen dan karyawan sebanyak 800 orang, menyuntikkan nilai-nilai universal agama, menyempurnakan sistem rantai pasok dan pelayanan konsumen, membenahi sistem keuangan, serta meningkatkan kolaborasi antaranak perusahaan.

Hasilnya (quick win), menurut Haerul, adalah mematenkan inovasi rumah pengering komoditas dengan menggunakan tenaga matahari, memperoleh penghargaan Green Industry Award selama tiga tahun berturut-turut, mengkreasikan jenjang karier terukur seperti manajer berasal dari internal perusahaan, serta mempertahankan laju bisnis tatkala menghadapi era ketidakpastian (VUCA), disrupsi digital, dan adaptasi dalam menyiasati dampak pandemi Covid-19.

Sebagai contoh, tim Agricon berinisiatif mengadakan seminar virtual (webinar) dan live streaming di Facebook. “Dampaknya sangat luar biasa, rata-rata jumlah petani yang terdaftar sebagai peserta di setiap webinar Agricon mencapai 15 ribu-20 ribu orang, penjualan kami melalui FB streaming dan direct selling di setiap event itu berkisar Rp 500 juta-800 juta,” Haerul menuturkan.

Dia mengapresiasi pegawai muda dari generasi milenial yang kreatif menangkap peluang bisnis di masa pandemi. “Kami juga sudah berkolaborasi dengan beberapa perusahaan digital maupun fintech, dan penjajakan kerjasama lainnya terus dilanjutkan agar kami bisa beradaptasi di era baru ini,” katanya.

Haerul pun ingin melaksanakan penawaran umum saham perdana (IPO) Agricon. Juga, mengembangkan bisnis di hilir dan mengintegrasikan bisnis anak perusahaan yang menggarap lini bisnis hilir hingga hulu. (*)

Arie Liliyah & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)