Insera Sena, Aset Kebanggaan Indonesia di Pasar Sepeda Dunia

Soejanto Widjaja, pemilik dan pendiri PT Insera Sena, produsen sepeda Polygon.
Soejanto Widjaja, pemilik dan pendiri PT Insera Sena, produsen sepeda Polygon.

Lupakan ingar-bingar demam sepeda di masa pandemi ini. Lupakan jalan-jalan yang kian ramai dipenuhi pesepeda saat ini. Lupakan pula wajah-wajah berbinar sehabis bersepeda kali ini. Namun, kita tidak boleh melupakan Soejanto Widjaja, pemilik dan pendiri PT Insera Sena, produsen sepeda Polygon dari Sidoarjo, Surabaya.

Dialah sosok yang selama 31 tahun konsisten membangun industri sepeda di Tanah Air. Bermula dari sebuah usaha kecil, Ko Janto --demikian sapaan akrabnya di antara koleganya-- mengembangkan moda transportasi sederhana yang sangat dikenalnya sejak kecil karena sang ayah adalah pedagang sepeda.

Di balik sosoknya yang pendiam dan sederhana, lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung yang berprofesi sebagai dosen ini menyimpan mimpi besar, yaitu membuat sepeda berkualitas global dan siap bersaing di pasar internasional. “Karena saya percaya, SDM kita, anak-anak muda Indonesia, mampu membuat produk yang bagus, asalkan diberi kesempatan, tantangan, dan motivasi,” ungkap Soejanto dalam berbagai kesempatan sharing.

Maka, pada 1989 di bawah bendera PT Insera Sena, Soejanto dibantu beberapa mahasiswanya mulai dengan proses pembelajaran dan persiapan pengembangan produk. Nama Insera kependekan dari Industri Sepeda Surabaya, sedangkan Sena diambil dari nama putra kedua Pandawa, tokoh epos Mahabarata yang sangat digemarinya.

Tidak tanggung-tanggung dengan mimpinya, Soejanto pun berani merogoh kocek dalam-dalam untuk membuat pabrik dan berinvestasi alat berteknologi tinggi standar internasional di kawasan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Di area seluas 30.000 m2 dengan luas bangunan pabrik 18.000 m2 tersebut, ia mengolah dan merakit sepeda, termasuk membangun jaringan pendistribusian mandiri yang memenuhi standar dunia.

Bagi Soejanto, totalitas membuat produk dan membangun brand global yang terus mengedepankan otentisitas, orisinalitas, dan kualitas itu penting. Karena itu, demi menemukan otentisitas dan orisinalitas, awalnya Insera Sena memilih sebagai pabrikan dulu dengan mengekspor sepeda, menjadi original equipment manufacturer (OEM) bagi merek-merek internasional: Scott, Kona, Kuwahara, Mustang, Miyata, Avanti, Marine, dan beberapa merek sepeda berwibawa lainnya, ketimbang membuat merek sendiri.

Barulah setelah sepuluh tahun berjalan dengan menyandang prestasi 10 besar produsen sepeda terbesar di dunia dan memiliki cukup pengalaman, pada 1998 Insera Sena berani memperkenalkan Polygon, sepeda asli buatan Indonesia yang siap menggebrak dunia.

Strategi pengembangan Polygon dibuat fokus dan terencana. Terutama dalam pengembangan produk, Polygon berpegang pada tiga aspek: inovatif, otentik, dan berkualitas. Setiap produk lahir dari hasil inovasi Ripple Coalition Team yang terdiri dari engineers, designers, creative thinkers, dan riders dari Indonesia, Asia-Pasifik, Eropa, dan Amerika.

Salah satu inovasi teknologi yang dihasilkan Polygon dan diakui dunia adalah Floating Suspension System (2012), yang kini masuk generasi ke-3. Menurut William Gozali, Presdir PT Insera Sena, teknologi ini diakui media Jerman World of MTB sebagai teknologi yang otentik dan menyumbang inovasi teknologi MTB dunia. Pada 2017, Polygon juga hadir melalui seri Xquarone EX dengan inovasi desain suspensi terbaru yang diklaim sebagai pelopor di Indonesia, bahkan di dunia.

Pada 2018, langkah konkret terus dilakukan dengan menghadirkan produk inovatif. Salah satunya, seri Pedelec (pedal electric cycle) pertama dengan varian Path-E (city bike) dan Entiat-E (MTB). Pedelec memiliki fungsi yang sama seperti sepeda pada umumnya. Yang membedakan, sepeda bergerak dari hasil perpaduan tenaga pedaling yang dilakukan pesepeda dan energi listrik yang dihasilkan baterai pendukung pada sepeda yang dihadirkan untuk menghemat tenaga, sehingga memaksimalkan menjelajah lebih jauh.

Yang menarik dari industri sepeda dunia, secara umum merek tidak didewakan. Konsumen lebih mementingkan kualitas, teknologi, dan craftsmanship, ketimbang nama merek. Hal ini menguntungkan Polygon untuk membangun daya saing di pasar sepeda dunia. “Desain-desain kami bukan asal comot dari brand lain. Desain kami orisinal,” ungkap Soejanto. Prinsip tersebut selalu ditekankan kepada para desainernya.

Kendati merek bukan prioritas, Polygon tetap membangun merek melalui reputasi dan inovasi. Polygon selalu menghasilkan produk dengan varian yang segar setiap tahunnya, dengan modifikasi warna, decal, teknologi, dan bagian terbaru. Semua itu untuk meningkatkan performa dan kualitas sepeda yang diproduksi untuk pehobi, antusias, dan atlet profesional.

Dalam hal ini, faktor dinamika bisnis dan perilaku pasar turut menentukan. William mengatakan, pihaknya tidak mau berlarut-larut dengan dinamika yang terjadi. Polygon harus tetap fokus untuk melihat kondisi pergerakan pasar, serta melakukan spekulasi dan mengembangkan peluang bisnis ke depan ketika tren bersepeda ini kembali ke titik normal. “Sehingga, kami bisa mengubah tren bersepeda tidak sebagai tren musiman namun sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia,” katanya yakin.

Tantangan Polygon saat ini adalah ketidakpastian kondisi yang menyebabkan adanya ketidakpastian dalam tren perilaku konsumen, ketidakpastian dalam bagaimana peraturan baru akan memengaruhi bisnis, ketidakpastian tentang apa yang dilakukan pesaing, dan ketidakpastian tentang bagaimana teknologi baru akan memengaruhi bisnis. “Situasi ketidakpastian yang justru men-trigger kami untuk terus berpikir ke depan, kreatif, dan inovatif,” ungkap William bersemangat.

Apalagi, sebagai aset kebanggaan nasional, William optimistis dengan situasi yang berkembang. Hingga saat ini, jumlah karyawan dan kapasitas produksi terus meningkat. Tahun 2019 produksi Insera Sena mencapai angka 750.000 unit sepeda per tahun. Diperkirakan, seiring dengan permintaan pasar dan tren yang berkembang, pada 2020 produksi akan meningkat 10\%. Adapun untuk pasar ekspor, Insera Sena telah melayani permintaan 22 negara, antara lain Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris. Diperkirakan per tahun sebesar 55\% atau sekitar 50 ribu sepeda Polygon diekspor.

Dengan performa seperti itu, kini Insera Sena semakin percaya diri. Situasi pandemi saat ini tidak menyurutkan semangatnya terlibat dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang diinisiasi Pemda Jawa Timur, awal Agustus 2020.

“Saya kira Indonesia, terutama Surabaya, harus bangga karena mempunyai Polygon yang pangsa pasar ekspornya luar biasa di tengah tren bersepeda di seluruh penjuru dunia,” kata Khofifah Indar Parawansa, Gubenur Ja-Tim, ketika berkunjung ke pabrik Polygon sekaligus meresmikan gerakan BBI Ja-Tim. (*)

Dyah Hasto Palupi/Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)