Roda Maju Bahagia, Mengayuh Sampai Jauh

Hendra, pemilik PT Roda Maju Bahagia (RMB), produsen sepeda Elemen.
Hendra, pemilik PT Roda Maju Bahagia (RMB), produsen sepeda Element.

Demam sepeda pada masa pandemi ini membawa berkah kepada para pemain bisnis kereta angin di Tanah Air. Salah satunya, pemain baru PT Roda Maju Bahagia (RMB). Produsen sepeda Element yang berdiri sejak 2016 ini mendapat berkah panen raya: meraup lonjakan penjualan lima kali lipat dari tahun sebelumnya, 2019.

Hampir setiap bulan kami mengalami pecah telur penjualan,” ujar Hendra, pemilik RMB, bangga. “Jumlah revenue sepanjang 2019 sama dengan jumlah revenue semester 1/2020,” lanjutnya. Saat ini RMB berhasil memproduksi 1.000-1.200 unit sepeda setiap hari --tergantung pada kerumitan sepedanya-- atau 25 ribu-30 ribu unit per bulan.

Hendra mengatakan, popularitas Element memang tidak disangka-sangka. Puncaknya terjadi pada 3 Agustus 2020, ketika merilis penjualan sepeda lipat Troy 16 inci 10 speed edisi Bike to Work melalui marketplace Tokopedia. Hanya dalam waktu 40 detik berhasil terjual 200 unit, sehingga memecahkan rekor MURI untuk rekor penjualan sepeda lipat terbanyak dalam satu menit.

Menurut Hendra, pencapaian RMB bukan melalui jalan mudah. “Awalnya, tahun 2008 coba-coba menjadi importir sepeda,” pria 40 tahun itu mengenang. Sebagai langkah permulaan, ia mengimpor satu kontainer berisi sekitar 300 unit sepeda gunung dari China, dengan menggunakan skema maklun atau original equipment manufacturers (OEM) yang dijual menggunakan merek sendiri, Element.

Setelah impor sepeda gunung, Hendra mencoba impor sepeda lipat yang saat itu mulai menjadi tren di kalangan pesepeda. Ternyata, sepeda lipatnya laris manis seperti kacang goreng. Permintaan pasar terus meningkat, dari awalnya hanya mengimpor 10 kontainer sepeda lipat setiap bulan, berikutnya bertambah hingga 50-60 kontainer setiap bulan.

Naluri pengusaha Hendra pun terasah. Tahun 2014, ia nekat membangun gudang dan melakukan proses perakitan sendiri di Balaraja, Tangerang. Dua tahun kemudian, pabrik di Tangerang dirasa kurang memadai, sehingga pada 2016 pindah ke lokasi yang lebih luas, Khawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. Pabrik seluas 2,5 hektare itu dibangun bertahap seiring dengan penambahan kapasitas produksi dan jumlah karyawan yang sekarang mencapai 400 orang.

Menurut Hendra, keberhasilan RMB merupakan bukti kerja keras yang dibangun sejak ia muda. Sebagai cucu pemilik toko onderdil sepeda di Medan dan anak pemilik toko sepeda di Asem Reges, kawasan yang saat itu dikenal sebagai pusat perdagangan sepeda di Jakarta, sejak kecil ia bergelut dengan sepeda.

Ketika umur 20-an tahun saya mulai membantu berjualan di toko,“ ujar Hendra. Pengalaman itulah yang membuatnya mencintai persepedaan, selain juga menggemari otomotif dan beberapa karakter tokoh pahlawan superhero Marvel, seperti Iron Man dan Spiderman.

Walaupun tekun dan mau bekerja keras, Hendra mengakui, tidak mudah membangun merek sendiri yang benar-benar baru. “Mula-mula saya menitipkan produk sepeda di toko teman-teman, dengan sistem dititipkan dan baru dibayar ketika sudah laku,” ungkapnya. Hal itu tidak membuatnya patah semangat. “Saya yakin semua bisnis bermula dari seperti itu,” ujarnya.

Tahun 2010 sepeda Element mulai ramai dicari pembeli, “Pada tahun 2010 itulah saya mulai mendapatkan klik momen seperti sekarang. Waktu itu, kami memproduksi sepeda lipat,” katanya mengenang.

Hendra menduga, booming sepeda lipat Element tahun 2010 itu karena RMB pemain satu-satunya di Indonesia. “Awalnya, saya iseng-iseng belanja produk sepeda di Taiwan dan China karena membaca market dan di sana memang sedang booming sepeda lipat,” katanya. “Bisa dibilang, saya start terlebih dahulu,” kata Hendra yang setahun kemudian baru mendapat pesaing.

Menjadi pionir produsen sepeda lipat membuat RMB seperti mendapatkan durian runtuh. Hingga saat ini, sepeda lipat Element menguasai 70% pangsa pasar sepeda lipat. “Hoki kami di sini,” ujar Hendra senang. Demam sepeda yang mendunia ternyata menjadi berkah bagi bisnisnya. Penjualan RMB per kuartal I/2020 diperkirakan sekitar Rp 300 miliar. “Sampai akhir tahun ini, kami targetkan bisa mencapai Rp 1 triliun,” ia memperkirakan.

Walaupun sedang berada di puncak performa, Hendra memastikan, perusahaan tidak ingin lengah. “Kami harus lebih fokus lagi,” demikian tekadnya. Sebagai pemain pertama, Element tidak akan berhenti berinovasi. Yang kini tengah dilakukan, menggandeng pemain sepeda lipat dari Amerika Serikat, Dahon, yang telah berdiri selama 32 tahun dan merupakan merek sepeda lipat nomor 1 di dunia untuk produksi bersama. Dahon yang selama ini hanya memiliki pabrik di Taiwan dan China, diharapkan bisa dikembangkan di Indonesia.

Menurut Hendra, awalnya ia hanya berniat menjalin kerjasama (menjadi agen) ekspor sepeda Dahon ke Indonesia. Namun, pihak Dahon malah ingin memproduksi sepeda lipat di pabrik Kendal. “Kami dipercaya untuk membuat delapam tipe sepeda lipat, namun sampai sekarang baru terealisasi lima tipe sepeda lipat. Masih ada tiga lagi yang akan kami keluarkan,” ceritanya bangga.

Dari kerjasama tersebut, Hendra berharap mendapatkan transfer ilmu bagaimana membuat sepeda lipat yang bagus. “Sepeda lipat adalah kekuatan kami. Kami nomor satu di sini,” katanya tegas. Namun, pihaknya tidak akan melupakan memproduksi sepeda gunung. “Untuk sepeda gunung, kami menggandeng merek Champ dari Italia,” tambahnya.

Mimpi Hendra masih panjang. Setelah memiliki merek Element Bike, Police, Alton, dan FoldX, ia sudah mempersiapkan beberapa merek baru. Bahkan, ia berencana ekspor ke Eropa dan India pada 2021. Sebagai ancang-ancang, saat ini RMB mencoba lebih fokus pada pengembangan desain, termasuk warna dan stiker. Selain itu, juga akan banyak berkolaborasi dengan artis atau komunitas. “Ke depan, saya akan mengusung local pride,” demikian janji Hendra. (*)

Dyah Hasto Palupi/Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)