Sekar Group, Pionir Industri Pengolahan Hasil Laut Beromset Triliunan

Harry Susilo, founder  owner Sekar Group
Harry Susilo, founder & owner Sekar Group

Tak salah bila menyebut Sekar Group sebagai salah satu pemain penting di bisnis pangan di Indonesia. Terutama, bila membahas industri pangan berbasis produk-produk olahan hasil laut (seafood). Sekar Group termasuk pionir di industri pengolahan hasil laut. Kelompok usaha ini menggeluti bisnis ini sejak 1966 ketika pemain lain belum meliriknya. Perusahaan ini sudah merasakan jatuh-bangun dalam menekuni industri ini dengan segala tantangan dan dinamikanya, termasuk pernah terhempas krisis moneter 1998.

Yang jelas, kini Sekar Group terus tumbuh dan termasuk pemain terbesar di industrinya. Setidaknya, hal itu bisa dilihat dari dua anak usahanya yang sudah go public di Bursa Efek Indonesia, yakni PT Sekar Laut Tbk. (SKLT) dan PT Sekar Bumi Tbk. (SKBM)

Dilihat dari skala bisnisnya, Sekar Group jelas sudah menjadi pemain industri besar. Lihat saja, kinerja salah satu anak usahanya, Sekar Bumi, yang mampu meraih penjualan neto Rp 1,39 triliun hingga kuartal III/2019. Tahun sebelumnya, 2018, Sekar Bumi mampu membukukan penjualan bersih Rp 1,95 triliun dalam setahun.

Kinerja Sekar Laut juga kinclong. Pada 2018 penjualannya mencapai Rp 1 triliun, dan tahun 2019, hingga kuartal III, Sekar Laut sudah mencatatkan penjualan neto Rp 950,28 miliar, naik 24,4% dibandingkan pendapatan sebelumnya (laporan keuangan audited per 31 Desember 2019 belum keluar).

Hal yang menarik dari grup ini bukan hanya soal size business-nya yang sudah triliunan, tetapi juga bagaimana perusahaan mengoptimalkan bahan baku lokal dan mengolahnya menjadi makanan olahan hasil laut dengan berbagai value added-nya sehingga sukses dipasarkan ke berbagai negara. Sourcing yang diandalkan goup ini dari pasokan lokal, seperti ikan dan udang hasil tambak dan laut. Mereka punya peran dalam menghidupkan para pemasok lokal dalam rantai bisnisnya. Mereka juga berhasil membangun merek Finna yang termasuk merek besar di industri makanan di Indonesia. Dan, lebih dari itu, industri yang dibangunnya mampu mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan.

Kepak sayap Sekar Group tak bisa lepas dari peran Harry Susilo, pendirinya, yang merintis usaha pada 1966. Awalnya, Harry berbisnis sebagai pemasok ikan. Ia memulai usaha karena panggilan keluarga. Kondisi keuangan keluarganya pas-pasan setelah ayahnya meninggal. Adapun ia merupakan anak pertama dari 12 bersaudara.

Saat usia 24 tahun, Harry mulai berdagang ikan, gandum, dan telur. Ia membeli ikan dari para nelayan setempat dan dijual ke pembeli terdekat untuk mendapatkan untung sekeping dua keping uang. Peruntungannya di bisnis ikan dimulai ketika pada tahun 1966 itu, ada seorang teman ayahnya dari Singapura yang datang berkunjung ke rumahnya dan memintanya berdagang serta mengirim ikan ke Singapura. Orang itu yang akan menampung dan membelinya. Inilah awal kejayaan Sekar Group.

Singkatnya, Harry mampu menjalankan bisnis itu, memasok ikan ke Singapura dengan baik. Gayung bersambut, kemampuannya memasok ikan rupanya didengar pebisnis Jepang dari Grup Toyo Menka (Tomen) yang kemudian menemui Harry dan mengajaknya berbisnis. Harry pun mengiyakannya dan sejak itu ia berbisnis dengan Tomen.

Perusahaan Jepang itu bersedia memberikan uang pinjaman untuk kulakan. Harry sebagai pemasok ikan dan Tomen sebagai buyer-nya, yang menjualkannya ke berbagai pembeli global. Setelah kongsi berjalan dan bisa saling menguntungkan, Tomen kemudian mengajak Harry meningkatkan skala bisnis dengan membangun fasilitas cold storage. Ini jelas menjadi momentum penting dan memmbuat bisnis Sekar semakin solid karena mempermudah pengelolaan pasokan.

Keputusan berkongsi dengan Toyo Menka menjadi tonggak penting bagi bisnis Sekar Group. Setelah kongsi dengan Tomen berjalan mulus dan saling menguntungkan, banyak perusahaan Jepang yang kemudian tertarik menggandengnya.

Pada 1980, misalnya, Marubeni Corporation mengontak Harry, menyatakan keinginannya bekerjasama di bidang pengolahan emping udang (shrim chip). Marubeni mengajak Harry melakukan industrialisasi pengolahan shrimp chip, dan akan membantu pengembangan teknologi pengolahan dan pemasarannya. Marubeni memang punya jaringan kompetensi teknologi dan distribusi global. Permesinan yang sarat teknologi juga siap disediakan oleh Marubeni. Harry menerima tawaran kongsi ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan membangun industri emping udang.

Kemampuan membuat shrimp chip inilah yang kelak dalam perjalanannya mengantarkan Sekar Group dikenal sebagai Raja Kerupuk Udang di Indonesia --karena grup ini juga punya kemampuan dalam teknologi produksi. Bukan rahasia lagi, produk kerupuknya (merek Finna) kemudian cukup populer di negeri ini. Umumnya, rumah tangga di Indonesia memang selalu menyediakan kerupuk dalam hidangan rumah. Kerupuk Sekar pun bisa tersebar luas karena diproduksi dengan teknologi yang lebih modern dan masif dibandingkan pemain lain --selain karena soal kecocokan rasa.

Bisnis pun terus bergulir. Secara korporat, perkongsian dengan Toyo Menka dan Marubeni itu kian membuat Sekar Group dikenal kalangan perusahaan besar Jepang. Setelah itu, makin banyak pemain Jepang yang ingin berbisnis dengannya dalam bentuk kerjasama investasi joint venture. Contohnya, Toyota dan Nomura.

Melalui anak usahanya yang merupakan manufaktur pakan udang dan pakan ikan, PT Karka Nutri Industri, Sekar melakukan usaha patungan dengan anak usaha Toyota Group. Perusahaan yang berbasis di Surabaya itu juga mendirikan PT Sekar Katokichi, hasil joint venture dengan Japan Tobacco dan Toyota Tsusho Corporation. Pada tahun-tahun berikutnya, grup ini menggandeng dua taipan Jepang, Seinan Kaihatsu Co. Ltd. dan Nomura Trading Co. Ltd., untuk berbisnis sosis ikan siap saji.

Yang menarik, makin banyaknya jaringan bisnis global tersebut jelas mendorong Sekar Group untuk semakin banyak memanfaatkan sumber daya lokal sebagai bahan baku produksi. Maklum, selama ini 100% bahan bakunya memang dari dalam negeri. Saat ini bisnisnya tak lagi sekadar produsen kerupuk, tetapi sudah menjadi grup bisnis makanan terintegrasi di bidang seafood, dari budidaya perikanan sampai produk jadi perikanan yang bernilai tambah (value-added product).

Di Sekar Bumi, produk yang dihasilkan terus beragam seiring dengan inovasi produk yang dilakukan. Harry Lukmito, Presiden Direktur Sekar Bumi, yang juga adik ke-8 Harry Susilo, beberapa waktu lalu menjelaskan, dulu perusahaannya hanya mengandalkan udang mentah sebagai produk utama, tetapi sekarang produknya sudah berkembang sedemikian rupa.

Harry Lukmito, Presiden Direktur Sekar Bumi,

Sekar Bumi membagi produknya dalam dua kategori, yakni divisi hasil laut beku bernilai tambah dan divisi makanan olahan beku. Produk-produk tersebut dipasarkan ke puluhan negara dengan merek Finna, SKB, Bumifood, dan Mitraku. Menurut Harry Lukmito, porsi ekspor Sekar Bumi mencapai 85-90%, dengan negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

“Divisi hasil laut beku nilai tambah meliputi berbagai jenis produk makanan laut, seperti udang, ikan, dan cumi-cumi. Divisi makanan olahan beku meliputi berbagai macam produk dim sum, udang berlapis tepung roti, bakso seafood, sosis, dan banyak lainnya. Bahkan, kami juga memproduksi pakan ikan, pakan udang, mete, dan produk kacang lainnya,” kata Harry Lukmito. Berbagai produk tersebut diproses melalui pabrik dengan mesin-mesin modern, dengan bantuan teknik dari para mitra asing Sekar Bumi. Dan, semua itu menggunakan bahan baku lokal dalam rantai pasoknya.

Untuk memperkuat rantai pasoknya, selain mengandalkan pemasok bahan baku eksternal, Sekar Group juga mendirikan usaha pertambakan udang milik sendiri di atas lahan seluas 1.000 hektare di Sumbawa. Bisnis tambak dan pengolahan udang ini dikelola PT Bumi Harapan Jaya, yang sudah menerapkan sistem ramah linkungan dan teknologi Internet of Things (IoT) untuk menopang produksi.

Sekar Bumi memang sangat ingin menjadi pemain yang membangun rantai pasok bisnisnya secara terintegrasi. Di bisnis yang terkait udang, misalnya, Sekar Bumi menggarapnya mulai dari bisnis benur (bibit udang) atau pengembangbiakan udang, budidaya tambak udang (akuakultur), pakan udang, nutrisi untuk udang (probiotik), pabrik pengolahan udang (processing), hingga distribusi produknya.

Selain itu, juga mengembangkan aspek-aspek teknologi pendukung bisnisnya. Misalnya, soal traceablity produk. Termasuk, dari sisi sertifikasi kualitas karena memang dibutuhkan ketika bermain di pasar global. Sertifikasi seperti itu, kata Harry Lukmito, dinilai penting untuk bisa memasok ke jaringan ritel besar di AS, seperti Wal-Mart dan Fish.co, yang jadi pelanggannya. Pada 2017 Sekar Bumi mendirikan perusahaan patungan bersama perusahaan agrikultur asal Tiongkok, Liaoning Wellhope Agri Tech Joint Stock Co. Ltd., untuk memperkuat bisnis di sektor hulu yang bergerak dalam bisnis pakan udang.

Terobosan menarik Sekar Bumi di antaranya masuk ke bisnis non seafood based, yaitu mengolah kacang mete. Melalui PT Bumifood Agro Industri, anak usahanya, Sekar Group menjadi pionir di bisnis pemrosesan kacang mete dalam sekala besar. Bumifood punya kapasitas produksi olahan kacang mete mentah 25.000 ton/tahun yang hasil produksnya sebagaian diekspor. Ragam produk yang dihasilkan antara lain kacang mete berlapis madu (dioven dan digoreng), emping, serta produk kacang tanah dan biji wijen.

Di bawah kepemipinan Harry Lukmito, Sekar Bumi terus tumbuh dengan berbagai inovasi, ekspansi ke ceruk bisnis baru, dan aliansi dengan pemain global. Harry Susilo jelas tak salah menyerahkan pengelolaan bisnis Sekar Bumi ke adiknya yang ke-8 ini. Harry Susilo saat ini memang tidak banyak aktif dalam manajemen operasional Grup dan telah menyerahkannya ke adik-adiknya. Sementara bisnis makanan (frozen food) yang berbendera Sekar Bumi dia delegasikan ke Harry Lukmito, bisnis makanan kering (dryfood) di bawah Sekar Laut dia delegasikan ke Harry Sunogo, adik ke-6. Adapun bisnis distribusi dikelola adik kelima, Lody Gunadi.

Bisnis makanan kering Sekar Group yang dikelola Sekar Laut pun terus tumbuh. Di bawah kepemimpinan Harry Sunogo sebagai presdirnya,  Sekar Laut sukses memasarkan produk olahan kering dari hasil laut dengan mengusung Finna yang sudah sangat dikenal di kalangan konsumen domestik dan mancanegara. “Produk kerupuk kami sudah diekspor ke lima benua dan sekitar 32 negara. Kapasitas produksi 10.000 ton per tahun,” kata Harry Sunogo. Penjualan tahunan Sekar Laut saat ini di atas Rp 1 triliun.

Harry Sunogo, Presdir Sekar Laut

Kunci suksesnya antara lain selalu melakukan inovasi produk dan cara pemasaran. “Kami terus mengembangkan produk-produk yang bervarian, termasuk mengembangkan produk ready to eat yang lebih praktis. Dulu kami produksi produk kerupuk mentahan, tapi sekarang sudah ada yang versi ready to eat dengan berbagai macam varian (snack),” kata Harry Sunogo beberapa waktu lalu.

Selain itu, juga inovasi dari sisi variasi rasa produk. Contohnya, ada kerupuk udang rasa seaweed, curry, dan hot spicy. Tak ketinggalan pula, melakukan kontrol bahan baku, merawat mesin secara berkala, serta terus melakukan riset dan pengembangan, juga update dengan regulasi di Indonesia dan negara tujuan, termasuk soal higienitas.

Tentu saja, sukses Sekar Bumi dan Sekar Laut tidak fair kalau hanya dilihat dari sisi kinerjanya semata. Yang bisa menjadi pelajaran bagi pemain lain, Sekar Group meraih itu dengan kerja yang keras dan spartan, tak hanya dari sisi produksi tetapi juga kegiatan pemasaran.

Sekar Laut, misalnya, rajin melakukan pameran di dalam dan luar negeri dengan membuka stand promosi untuk mengenalkan produknya ke calon pembeli. Sekar Laut rutin mengikuti pameran makanan, baik di Indonesia maupun luar negeri, seperti Pekan Raya Jakarta, East Food Indonesia di Surabaya, Food Hotel International di Jakarta, Snackex di Barcelona, dan China International Import Expo di Shanghai. Mereka melakukan cara-cara pemasaran terkini, termasuk dengan mengajak foodies ternama yang memiliki followers di atas 20 ribu untuk adu memasak dengan olahan produk Finna yang kemudian diviralkan di sosial media.

Dengan konsistensi dan kerja kerasnya, pantas bila Harry Susilo dan adik-adiknya terus mampu menjaga pertumbuhan bisnis Sekar Group. Kini grup ini mencakup tak kurang dari 30 perusahaan, mulai dari bisnis pengolahan makanan kering, frozen food, budidaya udang, hingga berbagai indusri manufaktur pengolahannya. Bahkan, karena sukses di bisnis pangan, Sekar juga bisa ekspansi ke bisnis wisata, tambang, hingga properti dan lapangan golf.

Dalam pengelolaan bisnis pun Harry sudah bisa menyerahkannya ke adik-adik dan keponakan-keponakannya. Bagi pebisnis lain, Sekar Group jelas bisa menjadi inspirasi bagaimana menemukan dan menjaga kepercayaan buyer asing dalam berbisnis, termasuk dalam hal memanfaatkan bahan baku lokal untuk penciptaan nilai-nilai ekonomi baru dalam berbisnis. (*)

Sudarmadi/Vina Anggita & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)