Masyita Crystallin, Impian Staf Khusus Menkeu Wujudkan Indonesia Maju 2045

Masyita Crystallin, Staf Khusus Menkeu bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi.

Publik mengidolakan Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, yang dikenal mahir mengelola keuangan negara. Kebijakannya di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) diapresiasi berbagai kalangan sehingga Sri Mulyani mendapat tempat di hati masyarakat. Salah seorang yang mengidolakannya adalah Masyita Crystallin, yang kini menjabat sebagai Staf Khusus Menkeu bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi.

“Sejak saya masih di bangku sekolah saya sudah nge-fans dengan beliau (Sri Mulyani). Saya kagum dengan pekerjaannya, membuat kebijakan yang berdampak besar untuk negara dan masyarakat. Saat itu, saya melihatnya keren sekali dan bertekad mengikuti jejak beliau,” Masyita menuturkan.

Syita, sapan akrab Masyita, menilai sosok Sri Mulyani mampu menjalankan tugas negara dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga secara beriringan. Ini memacu Syita untuk mewujudkan cita-citanya, bisa berkontribusi untuk kesejahteraan publik sekaligus mengasuh kedua anaknya. Pengalamannya di berbagai lembaga dan kemahirannya menganalisis makroekonomi merupakan faktor utama yang dipertimbangkan Sri Mulyani merekrutnya di awal tahun ini.

Sebelum bekerja bersama sang idola, Syita berkarier sebagai Kepala Ekonom PT Bank DBS Indonesia, 2018-2020, ekonom di PT Mandiri Sekuritas (2018), tenaga ahli di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (2016-2017), makroekonom di Bank Dunia (2014-2016), serta dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia/FEB UI (2003-2010).

Pada 31 Januari 2020, Sri Mulyani melantik Syita sebagai Staf Khusus Menkeu bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi. “Beliau itu membebaskan kami, para stafnya, untuk belajar segala hal dan berkolaborasi. Jadi, kami diberi kesempatan seluas-luasnya buat berkontribusi dan menimba ilmu,” ia mengungkapkan.

Syita mengemban tugas untuk menganalisis perekonomian yang nantinya dipertimbangkan sebagai opsi untuk menetapkan kebijakan. “Saya dan teman-teman dalam tim berusaha melihat isu ekonomi dengan lebih baik, kemudian memberikan saran kebijakan yang lebih baik. Khusus untuk kondisi saat ini, pandemi Covid-19 ini memang berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia,” tutur peraih gelar Sarjana Ekonomi dan lulusan terbaik Departemen Ilmu Ekonomi di FEB UI (2001-2005) ini.

Syita menjelaskan, Kemenkeu menggulirkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk meredam dampak negatif pandemi terhadap perekonomian nasional. Kemenkeu mengalokasikan anggaran PEN senilai Rp 695,2 triliun.

Nah, Syita dan kolega bekerja bahu-membahu menyampaikan berbagai topik, seperti perkembangan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), program PEN, atau kebijakan anggaran Covid-19, kepada publik. Tak mengherankan, ia kerap wara-wiri di stasiun televisi, seminar virtual (webinar), dan Instagram untuk menyampaikan perkembangan PEN di masa pandemi ini. Topik pembahasan tak hanya PEN atau ekonomi makro, melainkan juga investasi. Sebagai contoh, akun Intsagram terverifikasi Syita, @masyita.crystallin, pernah menggunggah konten diskusi virtual mengenai investasi Obligasi Negara Ritel atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI018 yang diluncurkan Kemenkeu pada 1 Oktober 2020.

Perihal dampak pandemi, Syita menjelaskan, pemerintah mewaspadai hal ini dan senantiasa memacu realisasi PEN untuk memulihkan perekonomian nasional. Berbagai kalangan mengasumsikan pemulihan perekonomian Indonesia membentuk pola yang disebut V-shape recovery, L-shape recovery, dan W-shape recovery yang disesuasikan dengan asumsi penyelesaian pandemi.

“Semoga vaksin Covid-19 berhasil di awal 2021. Jika dari sisi policy maker, kami berharap yang terbaik dan bersiap for the worst-lah. Nah, Kemenkeu itu mengelola bujet, APBN, ini tuh dibuat sebagai shock absorber di masa pandemi,” ucap peraih gelar Master of Arts bidang ekonomi di Australian National University, Australia (2005-2006), dan Claremont Graduate University, California, Amerika Serikat (2010-2012) ini.

Skala prioritas pemerintah, menurut Syita, adalah menunjang seluruh sektor bisnis yang terdampak pandemi. Pengaruh pagebluk terhadap perekonomian ini berdampak jangka pendek di sektor keuangan dan jangka panjang sehingga memerlukan stimulus serta insentif yang bisa menjaga fundamental perekonomian nasional. “Tetapi pandemi ini jangan membuat kita melupakan cita-cita jangka panjang, misalnya target Indonesia menjadi negara maju di 2045,” kata wanita yang hobi bersepeda, menonton film, dan pelesiran ini. Ia menyampaikan sejumlah aspek untuk mencapai hal itu, antara lain meningkatkan kualitas SDM, menambah daya saing industri, menerapkan teknologi informasi, memberdayakan perempuan, dan melestarikan lingkungan hidup.

Saat ini, Indonesia sedang menyongsong periode emas, seperti melimpahnya kelas menengah dan generasi milenial yang produktif serta kreatif menciptakan lapangan pekerjaan. Pemerintah, menurut Syita, berkomitmen menjaga konsumsi domestik dan menambah investasi untuk meningkatkan pembangunan sehingga Indonesia akan bertransformasi menjadi negara maju dari negara berkembang.

”Investasi itu berupa penanaman modal langsung maupun penanaman modal dalam bentuk instrumen keuangan seperti membeli obligasi. Saya bersyukur bekerja di Kemenkeu ini bisa belajar langsung dengan Bu Ani (panggilan uuntuk Sri Mulyani) dan mempelajari proses menetapkan kebijakan,” tuturnya.

Publik, kata Syita, sering menilai kebijakan Sri Mulyani itu kebijakan populer dan tidak populer. Meski begitu, ia menegaskan, kebijakan tidak populer itu untuk kepentingan seluruh masyarakat. Misalnya, keputusan pemerintah mengambil utang, maka “Return-nya akan dirasakan di masa depan, misalnya utang untuk membangun jalan dan infratsruktur lainnya, itu return-nya akan dirasakan nanti. Ya, memang membuat kebijakan itu tidak mudah, challenging ya,” ungkapnya.

Syita memang bercita-cita untuk berkontribusi nyata kepada pembangunan Indonesia menuju Indonesia Maju 2045. Pengalamannya di berbagai lembaga internasional dan kementerian diimplementasikan untuk menunjang tugas Menkeu.

Sebelumnya, di Bank Dunia, Syita berkarier di Divisi Macrofiscal Management “Saya sebagai macroeconomist-nya,” ujarnya. Saat itu, ia di Washington D.C., tengah melakukan riset untuk kuliah S-3 di Claremont Graduate University, California pada 2010-2015. “Bos saya di IMF yang memberikan informasi lowongan itu, bahwa Bank Dunia sedang melakukan rekrutmen macroeconomist untuk Indonesia. Kebetulan pimpinan saya di IMF ini mengetahui saya akan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan program doktoral, jadi apply lowongan itu dan proses interview di AS,” ia menjelaskan.

Kemudian, Syita kembali ke Indonesia setelah menyabet gelar Ph.D di tahun 2015. “Nah, ketika saya bergabung di World Bank, pemerintah mencanangkan Indonesia menjadi negara maju di tahun 2045. Jadi, ketika saya bekerja di World Bank, tema besarnya adalah Escaping The Middle Income Trap. Saya sangat mendukung usaha-usaha seperti itu dan Indonesia juga bisa mengadopsinya,” ia menerangkan.

Tatkala Sri Mulyani mengajaknya bergabung, “Saya sangat senang karena saya memang sangat concern mengikuti agenda dan kebijakan pemerintahan saat ini,” ungkap Syita. Ia menambahkan, berbagai aspek terkait program Indonesia Maju 2045, antara lain meningkatkan income masyarakat Indonesia yang setara dengan negara maju, dan yang terpenting adalah negara bisa memberikan equality of opportunity. (*)

Arie Liliyah & Vicky Rachman; Riset : Hendi Pradika

www.swa.co.id

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)