Sudhamek AWS: Perkuat Endurance, Krisis 2020 Lebih Berat daripada 1998

Sudhamek AWS, pengusaha FMCG yang juga Chairman Tudung Group (Garudafood), telah mengalami beberapa kali krisis selama memimpin bisnis. Baik krisis mikro yang terjadi di internal perusahaan maupun krisis ekonomi seperti krisis 1998, kriris 2008 yang juga pengaruh makro dari krisis global, hingga sekarang krisis 2020 karena pandemi. Dia bersyukur bisa melewati semua krisis dengan oke sebelumnya sehingga perusahaannya survive. Menurutnya, krisis 2020 ini berbeda. Simak wisdom Sudhamek untuk menyikapi krisis 2020 ini.

Menurut saya, krisis 2020 ini lebih berat dibandingkan 1998. Pada 1998, saat itu kondisi demand-supply turun, pertumbuhan ekonomi kita sampai minus 13,8\%, kondisi keamanan lebih gawat, pelaku bisnis banyak yang meninggalkan Indonesia untuk mencari keselamatan. Wajar kalau ada yang menyebut bahwa krisis 1998 lebih berat, mungkin karena kondisinya bukan saja krisis ekonomi, tetapi juga krisis politik.

Namun sebenarnya, bagi pelaku bisnis yang tidak lari dan tetap melayani pasar, saat itu demand-nya masih ada. Pada 1998, masalahnya lebih jelas, penyakitnya jelas, yakni terkait politik, kekuasaan Soeharto yang digugat. Setelah Soeharto mundur, terbukti kondisi perlahan membaik. Recovery krisis 1998 lebih pasti, para pebisnis segera melakukan turnarround.

Dari sisi ekonomi makro, krisis 2020 ini lebih berat karena kepastiannya belum jelas. Bagi pengusaha, yang penting kepastian. Sekarang memang benar bahwa penyebab krisis ekonomi adalah pandemi Covid-19, tetapi ini tidak terlihat. Kita tidak berdaya menghadapinya. Obatnya belum ditemukan, vaksin masih dalam pengembangan, hasilnya seperti apa, belum tahu.

Selain itu, krisis 2020 ini terjadi secara global. Negara-negara adidaya juga mengalami kondisi susah. Ekonomi global sedang sakit. Kondisi saat ini lebih mirip 1930-an. Pada krisis 2020 ini, posisi pengusaha besar masih lebih baik, sedangkan UMKM lebih terkena imbas. Pada 1998, justru sebaliknya, UMKM menjadi pahlawan ekonomi, masih kuat. Sebab itu, krisis 2020 ini saya anggap lebih parah.

Saya setuju dengan pemerintah yang mengelola ekonomi dan kesehatan seperti dua sayap burung yang harus dikepakkan bersamaan dan dinamis. Dengan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), bukan lockdown, ekonomi masih bisa bergerak, walau risiko di kesehatan ada dampaknya. Strategi yang dikepakkan secara bergantian dengan dinamis ini, saya pikir sudah benar. Sayap ekonomi dan sayap kesehatan tidak boleh dipertentangkan. Harus berpikir ini sebagai interdependent co-arising. Satu dengan yang lain tidak ada yang bisa diunggulkan.

Pelajaran dari krisis ini, secara filosofi, pertama, hidup ini tunduk pada hukum alam, bahwa tidak ada yang abadi (the law of change). Siklus-siklus yang menyebabkan perubahan atau bahkan kekacauan pasti akan terjadi. Suka ataupun tidak.

Kedua, di balik krisis selalu ada peluang. Kalau kita yakin dengan itu, tinggal kita memeras otak untuk mendapatkan peluang itu.

Ketiga, dalam situasi krisis, untuk menemukan peluang-peluang tadi, jangan menjalankan bisnis seperti biasa. Kami di Garudafood mengistilahkannya "Anti BAU" (Business as Usual). Kita mesti mempraktikkan Anti BAU untuk menemukan kreativitas dan inovasi. Dari ujung ke ujung, mulai dari business process, jenis yang sifatnya operasional hingga business model, dicari serta dipikirkan kreativitas dan inovasi apa yang bisa diciptakan.

Pada 2020 ini, yang terpenting adalah endurance atau daya tahan, sedangkan pada 1998 yang terpenting keberanian menghadapi situasi tidak menentu. Karena kondisi saat ini tidak pasti, yang dikuatkan adalah daya tahan para pelaku bisnis. Dalam membangun bisnis, Garudafood menjaga kelanggengan bisnis atau sustainability. Nilai bisnis dan nilai spiritualitas bisa berjalan bersamaan. Jika nilai-nilai ini dijalankan, dalam kondisi apa pun perusahaan akan selamat dalam menghadapi krisis. Ada suatu kekuatan yang tidak nampak.

Terhadap mereka yang mendapatkan peluang dari krisis sehingga merasakan peningkatan permintaan, perlu dicatat bahwa akan segera terjadi keseimbangan pasar baru. Tidak ada yang permanen di dunia bisnis. Pada saat demand berlebihan, mekanisme pasar akan terjadi, supply baru pun muncul, kemudian akan terjadi keseimbangan baru. Jadi, situasi yang menguntungkan itu sifatnya situasional sehingga harus berpikir sustainability bisnisnya, tidak bisa memakai pendekatan aji mumpung dengan jual barang mahal dan tidak menggunakan etika.

Ketika situasi menjadi normal, kita akan dihukum oleh pasar kalau tidak beretika. Bisnis pada dasarnya membangun merek. Yang harus dijaga adalah image, fisik, dan personality-nya, semua menyatu.

Belum lama ini saya mengisi salah satu sesi motivasi di hadapan 180 pemimpin masa depan Garudafood. Saya mengutip statement dari sebuah film yang dibintangi Will Smith bahwa “Kemudahan itu ancaman yang lebih berbahaya daripada kondisi sulit”. Kalau sedang enak, pasar melimpah, kondisi mudah, jangan sampai kita terkecoh, karena itu sifatnya sementara. Bagi yang mengalami kondisi berat, jika mampu menghadapi dengan endurance tinggi, kondisi ini justru menjadi vitamin, bisa menjadi pengusaha yang semakin kokoh. Kebiasaan malas berpikir harus didobrak. Orang pintar akan kalah oleh orang rajin. Pribadi unggul jangan pernah menyerah.

Hidup itu subject to change, tidak ada orang di dunia ini yang bisa menghentikan perubahan. Karena, hakikat hidup memang seperti itu. Jadi, harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Orang baru akan siap menghadapi perubahan jika dia melakukan continuous improvement. Untuk bisa terus melakukan perbaikan, harus berani menantang diri, bisa saja tantangan itu dari dalam maupun dari luar, jangan tunggu krisis.

Garudafood sendiri tidak melakukan reinventing visi-misi karena krisis 2020 ini. Garudafood selama ini menerapkan kerangka scenario planning, bukan sekadar strategic planning. Dalam workshop scenario planning, akan dihasilkan empat skenario, yaitu official scenario (ini yang paling mungkin akan terjadi), lalu optional snenario, surprise scenario, dan terakhir free form scenario. Dalam kondisi pandemi seperti sekarang, kalau skenario pertama tidak jalan, bisa kita lihat skenario berikutnya. Jadi, tidak perlu sampai mengubah visi, apalagi misi.

Kami selalu menjalankan nilai-nilai yang dipegang pendiri perusahaan (founder spirit) bahwa sukses itu lahir dari kejujuran, keuletan, dan ketekunan. Dalam situasi saat ini, ulet dan tekun jadi suatu yang harus lebih dikuatkan, ditambah doa yang kuat.

Saya juga sampaikan ke generasi muda, jangan menyepelekan the power of prayer. Manusia ini makhluk lemah, bukan apa-apa di hadapan Tuhan. Tugas kita adalah berpikir dan bekerja, sambil tidak lepas berdoa. Selain itu, jangan lupa tetap membantu orang. Lebih berpahala membantu orang ketika kondisi sedang susah ketimbang kondisi sedang bagus. (*)

Sudarmadi & Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)