Maxim untuk Berpikir Analitis dari Profesor Harvard Legendaris

Judul buku  : Maxims for Thinking Analytically

Penulis       : Dan Levy

Penerbit     : Dan Levy, Juni 2021

Tebal         : 254 hlm.

Edison Lestari

Di musim semi tahun 2020, penulis buku ini meminta kolega dan mantan murid Richard Zeckheuser untuk menuliskan maxim apa yang paling diingat dari profesor legendaris ini dan bagaimana mereka mengaplikasikan maksim tersebut ke kehidupan sehari-hari. Hasilnya adalah buku ini yang berisi 19 maksim pemikiran Richard.

Richard adalah pengajar mata pelajaran Analytic Framework for Policy yang sangat populer di Harvard Kennedy School dan sudah diajarkan lebih dari 40 tahun. Mata pelajaran ini begitu menariknya sampai Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong juga memuji mata pelajaran ini. Lee mengatakan kepada Richard bahwa dia masih ingat apa yang diajarkan 40 tahun yang lalu dan masih memakainya untuk memahami data serta isu saat ini.

Buku ini memakai pendekatan maksim (pernyataan singkat) karena maksim sangat bermanfaat untuk memaksa kita berpikir tentang yang awalnya tidak bersifat intuitif. Maksim “keputusan yang baik dapat membuahkan hasil yang jelek”, misalnya, akan memaksa kita berpikir rasional dan memutuskan hubungan antara kepuasaan bekerja saat ini dan keputusan menerima pekerjaan tersebut.

Selain itu, maksim juga mengoreksi perilaku kita karena manusia memiliki kecenderungan untuk tidak melakukannya walaupun itu intuitif. Contohnya, “hindari rasa cemburu” akan mengingatkan apa yang baik untuk kita sama seperti maksim dalam bermain tenis “jangan mengikuti lawan tetapi bola”.

Kita sering mengalami kebuntuan pada saat memikirkan sebuah masalah sehingga tidak dapat berpikir dengan jernih. Bagian pertama buku ini memberikan nasihat yang sederhana untuk mengatasi kebuntuan: berpikir dengan cara yang ekstrem dan sederhanakan inti masalahnya sehingga kita dapat melihat dengan jelas. Menyederhanakan masalah dapat dilakukan dengan memikirkan titik ekstrem.

Buku ini memberikan contoh yang sangat gampang untuk maksim ini. Bila Mary sendirian mengecat sebuah tembok, dia membutuhkan 2 jam, dan bila Jim mengecat sendirian, dia membutuhkan 3 jam, berapa jam yang dibutuhkan untuk mengecat tembok bila mereka bekerja bersama? Banyak yang akan menjawabnya 2,5 jam. Richard menjelaskan, kita dapat langsung mengetahui hal itu tidak logis dengan cara berpikir ekstrem. Anggap saja Mary mengecat sendiri dan Jim menonton saja, waktu yang dibutuhkan hanya 2 jam. Bagaimana mungkin Jim membantu dan waktunya justru menjadi 2,5 jam?

Hidup penuh dengan ketidakpastian. Dengan demikian, kita harus selalu berpikir dengan teori kemungkinan dan meng-update probabilitas ini seiring dengan informasi yang berkembang sehingga kita dapat mengambil keputusan terbaik.

Bila kita meng-update probabilitas seiring dengan perkembangan data, kemenangan Donald Trump di tahun 2016 bukan lagi hal yang mengejutkan. Baseline kemungkinan Trump menang adalah 29%. Begitu Florida dengan 29 electoral vote, yang awalnya diperkirakan akan dimenangi Hillary, dimenangi Trump, kemungkinan Trump sudah sangat besar. Bila Trump menang di Florida, sangat besar kemungkinan dia akan menang di negara bagian lainnya lagi sehingga memenangi lebih dari setengah dari total electoral vote (270 electoral vote), sudah merupakan hal yang sangat mungkin.

Aplikasinya dalam kehidupan adalah kita harus menerima fakta bahwa semua hal adalah tidak pasti sehingga kita akan merasa damai menerima fakta tersebut. “Apa yang dapat saya lakukan untuk mengontrol hasilnya?” merupakan pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang lebih produktif adalah “apa yang dapat saya lakukan untuk memengaruhi kemungkinannya?”

Karena ketidakpastian juga, keputusan yang baik dapat menghasilkan keluaran yang buruk. Kuncinya adalah memahami data yang dimiliki (atau seharusnya dimiliki) pada saat kita mengambil keputusan, dan mengambil keputusan dengan data ini untuk memaksimalkan nilai harapan keputusan kita.

Dalam proses formal, kita dapat memakai “decision tree” dengan nilai kemungkinan dan keluaran yang diharapkan untuk setiap cabangnya. Singkat kata, tugas kita adalah mengambil keputusan yang paling tidak berpeluang menghasilkan keluaran yang buruk.

Patut dicatat bahwa dalam mengambil keputusan, kita lebih sering menyesali keputusan dari tindakan kita (errors of commission) daripada keputusan dari ketiadaan tindakan kita (errors of omission). Jangan fokus semata pada konsekuensi tindakan, tetapi fokus juga pada ketiadaan tindakan.

Precautionary principle” merupakan filosofi yang meminta inovasi ditelaah dengan hati-hati untuk mengerti dampak negatifnya. Richard berpendapat bahwa dampak negatif ini dibandingkan dengan dampak negatif status quo, bukan semata dampak negatif inovasi tersebut saja. Dalam menganalisis kebijakan mengenai GMO (genetically modified organism), Richard menjelaskan, dampak negatif GMO harus dibandingkan dengan dampak negatif tidak melakukan GMO, yaitu membutuhkan pestisida yang lebih banyak dan kemungkinan kelaparan bagi negara miskin.

Pada saat kita mengambil kebijakan, sering kita terjebak pada status quo akan opsi yang ada. Richard memberikan kisah kalau kita mengalami kolesterol yang tinggi. Dokter memberi kita obat dan ternyata kolesterol kita turun tetapi dengan efek samping.

Beberapa waktu kemudian, sewaktu kita tes lagi, ternyata benar kolesterol menurun, tetapi kita mengalami efek samping telapak tangan yang berkeringat. Dokter menanyakan, apakah kita akan melanjutkan obat tersebut? Kebanyakan kita pasti melanjutkan status quo, sedangkan Richard menanyakan, mengapa kita tidak mencoba obat lain sehingga ada kemungkinan tidak ada efek samping.

Dalam hal mengambil kebijakan, buku ini mengajak kita untuk memikirkan dampak kebijakan kita. Karena, kita selalu menghadapi opsi kebijakan yang bertentangan, elastis, sehingga kita mengerti dampak marginal. Dan, pahami akibatnya terhadap subgrup yang terdampak.

Alan Garber, provost Harvard University, mengatakan bahwa Richard bukan hanya cemerlang, tetapi juga bijak. Buku ini ditutup dengan beberapa maksim untuk hidup yang lebih baik.

“Jangan pernah merasa cemburu”. Richard sendiri telah membuktikan maksim ini. Dua mentornya (Ken Arrow dan Tom Schelling) dan satu mentee-nya (Mike Spence) merupakan pemenang Nobel dan dia tidak pernah merasa cemburu.

“Jangan merasa menyesal karena penyesalan akan mengurangi kesenangan dan dapat menuntun pada keputusan yang buruk”. Maksim ini merupakan turunan dari maksim “keputusan yang baik dapat menghasilkan keluaran yang buruk”. Hasil yang buruk dapat dihasilkan dari keputusan yang baik ataupun yang buruk. Bila keluaran yang buruk terjadi, yang harus dilakukan bukan penyesalan, melainkan refleksi dan pembelajaran.

Kemudian, “Tingkatkan kepuasan dari pengalaman positif dengan mengantisipasinya dan mengingatnya kembali”.

Dan yang terakhir, “Praktikkan asynchronous reciprocity”. Dalam arti, lakukan kebaikan kepada orang lain bila benefit untuk mereka lebih besar daripada biaya kita melakukan kebaikan tersebut.

Buku ini ditujukan untuk pembaca yang ingin meningkatkan kemampuan berpikir secara analitis sehingga kita akan membuat keputusan profesional dan personal yang lebih rasional. Richard sendiri telah memakai cara berpikir dalam buku ini sewaktu istrinya menghadapi kanker, juga sewaktu ibunya menghadapi situasi kritis yang membutuhkan operasi tetapi dokter masih belum bisa memastikan itu usus buntu atau tumor.

Tidak kurang dari Larry Summers, mantan Chief Economist Bank Dunia dan Treasury Secretary Amerika Serikat, memberikan kata sambutan dan testimoni bagaimana cara analisis Richard bermanfaat pada saat dia dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang tidak diketahui.

Sungguh sebuah buku (singkat) yang membuka wawasan dan cara berpikir analitis kita. (*)

www..swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)