Mendefinisikan Ulang Kepemimpinan

Judul Buku : Unleashed

Penulis        : Frances Frei dan Anne Morriss

Penerbit     : Harvard Business Press Review, 2020

Tebal         : 227 halaman

Tesis buku ini adalah kepemimpinan bukan mengenai diri kita, tetapi bagaimana kita memberdayakan orang lain dan melepaskan potensi penuh mereka. Kepemimpinan didefinisikan sebagai bagaimana kita memberdayakan orang lain sebagai akibat dari kehadiran kita dan memastikan dampaknya berlanjut walaupun kita sudah tidak ada.

Dengan demikian, fokusnya akan pindah dari apa yang kita perlukan untuk sukses sebagai seorang pemimpin menjadi apa yang kita perlukan untuk membantu orang lain agar sukses. Pertanyaan kuncinya bukan lagi “apa yang dipikirkan orang-orang ini tentang saya”, melainkan “apa yang bisa saya lakukan untuk membantu orang-orang ini menjadi lebih baik”.

 Penulis buku ini terinspirasi dari dunia olahraga. Seorang pelatih akan membantu semua pemain mencapai potensi penuh, semua pemain saling membantu, baik di lapangan maupun di luar, dan bagaimana kesenangan dan kekalahan sebuah tim memengaruhi suasana dalam arena.

Sebelum membahas dengan detail bagaimana melakukannya, penulis mengajak partisipan di kelas pendidikan eksekutifnya untuk menulis “Apa yang dapat Anda lakukan lebih lagi untuk memberdayakan potensi orang-orang di sekitar?” Lebih menarik lagi, pertanyaan lanjutannya adalah “Mengapa? Mengapa kita belum melakukannya?”

Untuk aplikasi praktisnya, penulis buku ini kemudian memaparkan kerangka kerjanya dengan “ring of empowerment leadership”. Lingkaran paling dalam adalah trust-self, love-other, belonging-team, strategy-organization, dan culture-community. Trust, love, dan belonging adalah apa yang terjadi di saat kita ada, sedangkan strategy dan culture adalah apa yang terjadi di saat kita tidak ada.

Buku ini kemudian memecah trust menjadi tiga elemen: authenticity, logic, dan empathy. Orang-orang akan percaya pada pemimpin bila mereka berinteraksi dengan kepribadian asli (autentisitas), percaya akan penilaian dan kompetensi pemimpinnya (logika), dan bila mereka percaya pemimpinnya peduli pada mereka (empati).

Dari pengalamannya, penulis buku ini menyatakan bahwa kelemahan yang paling sering ditemui dalam hal kepemimpinan adalah empati.

Bila kelemahannya adalah logika, solusinya adalah dengan memakai data. Bicarakan hanya hal yang kita yakin benar saja dan berhenti di sini. Dengan mengambil analogi pemain bola basket, Larry Bird menjadi pemain yang luar biasa karena dia hanya menembak apabila dia yakin akan masuk. Kemungkinan lain tentang logika yang dianggap lemah adalah karena kita tidak mengomunikasikan ide dengan efektif.

Cara menguji autentisitas yang paling gampang adalah dengan menanyakan apakah persona kita di dunia kerja berbeda dari persona kita di lingkungan keluarga dan teman.  Idealnya, kita memiliki persona yang sama yang autentik di mana pun kita berada.

Dalam hal love, buku ini memakai matriks 2x2 tentang standard dan devotion. Seorang pemimpin harus memiliki standar dan devosi yang tinggi, alias memiliki tough love.

Ilustrasi untuk poin ini adalah saat CEO Corning mengatakan bahwa tidak mungkin membuat kaca iPhone yang diminta Steve Jobs dalam waktu yang diminta, Jobs hanya menjawab, “Anda bisa. Pikirkan caranya. Anda bisa membuatnya.” Bukannya beradu argumen, Jobs membuat CEO Corning menjadi seorang pahlawan yang mampu melakukan hal yang tidak mungkin dengan standar yang tinggi, juga devosi yang tinggi.

Untuk menerapkan tough love ini, kita dapat menjalankannya dengan positive reinforcement untuk memperkuat perilaku positif dan constructive improvement untuk mengoreksi perilaku negatif.

Untuk positive reinforcement, jelaskan dengan sangat detail perilaku yang kita harapkan  sehingga semua orang mengerti dan dapat mereplikasikannya. Ketika mereka melakukannya persis sebagaimana yang kita inginkan, berikan pujian yang tulus dan spesifik.

Untuk constructive improvement, bawa bukti yang jelas ke dalam diskusi. Jelaskan visi masa depan kita dan alasannya, sehingga pendengar dapat mengerti bagaimana perubahan perilaku dia akan selaras dengan visi kita.

Pastikan rasio antara positive reinforcement dan constructive improvement adalah 5:1 dalam arti pemimpin harus memberikan lima positive reinforcement untuk setiap constructive improvement yang diberikan. Dalam pengamatan penulis buku ini, yang sering terjadi justru sebaliknya, 1:5.

Dalam konteks belonging, semua karyawan tanpa terkecuali harus merasa dilibatkan dalam perusahaan. Spektrum keterlibatan karyawan harus naik terus, dari safe menjadi welcome, menjadi celebrated, menjadi cherished.

Dua bab terakhir membahas elemen pada saat pemimpin tersebut tidak ada, yaitu elemen strategi dan budaya.

Efektivitas strategi sangat bergantung pada seberapa efisien kita mengomunikasikannya. Strategi harus sesederhana mungkin sehingga kita dapat mengertinya sampai dalam sekali. Pada saat men-turnaround Scandinavian Airlines, CEO Carlzon membuat “buku merah” dalam bentuk komik dengan cerita akan penghargaan masa lalu, artikulasi mandat saat ini, dan masa depan yang optimis.

CEO Momofuku, Marguerite Zabar, juga memakai guidebook untuk mengajarkan kepada karyawannya mengapa Momofuku spesial pada saat memiliki 1.000 karyawan.

Untuk budaya, buku ini mengambil studi kasus bagaimana Patty McCord memakai sembilan perilaku dalam hal hiring, kompensasi, dan pemecatan karyawan untuk memandu budaya perusahaan.

Karyawan masa kini ingin bekerja di perusahaan di mana value mereka selaras dengan value perusahaan. Ada kalanya budaya perusahaan harus di-refresh. Apabila Anda merasa budaya Anda harus di-refresh, tanyakan kepada karyawan Anda, budaya apa yang layak dan budaya apa yang harus diganti. Ajukan pertanyaan tersebut dalam format diskusi yang interaktif seperti kelompok kecil ataupun one-on-one. Buku ini memaparkan transformasi budaya di Uber (masa Travis Kalanick), Riot Games, Microsoft, dan Harvard Business School.

Buku ini singkat, tapi memberikan perspektif baru mengenai kepemimpinan. Penulis buku ini adalah profesor di Harvard Business School dan SVP di Uber, WeWork, dan Riot Games sehingga pemaparannya sangat beragam, dari kerangka, studi kasus perusahaan lain, maupun pengalaman langsung penulis buku ini di Uber dan Riot Games.(*)

Edison Lestari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)