Kiprah Dua Periset Muda Indonesia dalam Pengembangan Vaksin AstraZeneca

Indra Rudiansyah, anggota tim pengembangan vaksin AstraZeneca Universitas Oxford.
Indra Rudiansyah, anggota tim pengembangan vaksin AstraZeneca Universitas Oxford.

Seiring dengan makin populernya vaksin AstraZeneca, merek vaksin Covid-19 yang sudah digunakan di lebih dari 170 negara, nama Indra Rudiansyah belakangan makin sering disebut di media massa nasional ataupun laman media sosial warga Indonesia. Hal ini lantaran lulusan Jurusan Mikrobiologi ITB tahun 2013 ini diketahui terlibat dalam tim pengembangan vaksin AstraZeneca yang dikomandani Prof. Sarah Gilbert, formulator vaksin dari Universitas Oxford, Inggris. Bahkan, Menteri BUMN Erick Thohir sampai merasa perlu mewawancarai secara langsung lelaki muda yang tengah mengikuti pendidikan S-3 Clinical Medicine di Universitas Oxford ini.

Nyatanya, diaspora asal Indonesia yang terlibat dalam tim pengembangan vaksin Covid-19 di Universitas Oxford itu bukan hanya Indra. Ada satu nama diaspora muda lagi yang perannya tak kalah penting, yakni Carina Citra Dewi Joe.

Namun, meski sama-sama dalam payung Jenner Institute, Universitas Oxford, Indra dan Carina berada di tim yang berbeda. Indra, lelaki kelahiran Bandung 1 September 1991, bertugas di tim clinical trials. Adapun Carina, peraih gelar Ph.D bidang bioteknologi dari RMIT, Melbourne, Australia, bertugas di tim pengembangan manufacturing vaksin skala besar.

Ada latar belakang berbeda terkait keterlibatan mereka di tim Sarah Gilbert ini. Sebelum bergabung dengan tim ini, Indra masih mendalami desain pengembangan vaksin malaria, terkait studinya. Maklum, ilmuwan muda yang mengikuti program studi S-3 dengan beasiswa LPDP ini melihat vaksin malaria belum dikembangkan secara komersial dan luas. Vaksin malaria yang masih dalam percobaan itu juga diproduksi di fasilitas milik Oxford.

Namun, ketika pandemi Covid-19 melanda, manajemen Oxford meminta mahasiswa belajar dan bekerja dari tempat tinggalnya, dan menutup semua laboratorium kecuali untuk proyek yang terkait Covid-19. Tim pengembangan vaksin AstraZeneca kemudian diakomodasi oleh pihak Oxford.

Karena pandemi ini berkembang cepat, ada kebutuhan SDM dalam jumlah cukup besar untuk mengelola kegiatan clinical trials. Sehingga, tim ini mengundang mahasiswa, staf, dan peserta program pascadoktoral untuk bergabung. “Karena menggunakan teknik yang relatif sama, saya mencoba ikut bergabung,” kata lelaki yang menyelesaikan program S-2 Bioteknologi, ITB, tahun 2014 ini.

Indra bergabung dengan tim clinical trials ini dalam rentang waktu Maret 2020 hingga Maret 2021. Sejak Agustus 2020, ia memegang pekerjaan ganda, karena sudah kembali ke penelitian vaksin malaria juga, dan di sisi lain sudah ada tambahan staf yang fokus pada uji klinis vaksin Covid-19.

Adapun Carina, selulus dari S-1 (undergraduate) Jurusan Bioteknologi, University of Hong Kong, memilih berkarier sebagai periset di Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), Australia, dari 2012 hingga 2019. Perusahaan inilah yang menawari dan membiayai Carina meneruskan studi S-2 hingga S-3 di bidang bioteknologi di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia, guna menunjang kariernya sebagai peneliti. Ia meraih gelar Ph.D dari RMIT di tahun 2019. Sejak 2019, Carina tercatat sebagai postdoctoral research scientist di Universitas Oxford.

Carina Citra Dewi Joe, anggota tim pengembangan vaksin AstraZeneca Universitas Oxford.

Menurut Carina, pengalaman kerjanya di bidang bioteknologi membuatnya mudah diterima ketika melamar untuk program pascadoktoral di Oxford. Namun, ketika melamar ke Oxford, topik penelitiannya adalah tentang optimasi pengembangan (scale-up) manufacturing vaksin rabies skala besar. Karena kemudian Oxford hanya membuka lab untuk pengembangan vaksin Covid-19, Carina pun diajak bergabung. “Mereka senang dengan background industri saya,” ujarnya.

Mengenai tugas mereka, Indra menceritakan, untuk mempercepat uji klinis, pada fase 1-2 tim clinical trials merekrut 5-6 ribu relawan uji (volunteers). Kemudian di fase 2-3, karena menyangkut uji efikasi, populasinya harus besar. Di Inggris (UK) saja, relawan uji yang direkrut sekitar 10 ribu orang. Di luar itu, tim ini juga melakukan uji klinis di sejumlah negara lain, yakni Brasil, Meksiko, Afrika Selatan, dan Kenya.

Indra menyebutkan, tim clinical trials ini merupakan tim yang besar, beranggotakan ratusan orang, yang dibagi dalam beberapa subtim. Ia sendiri terlibat dalam subtim antibody response yang beranggotakan 10-12 orang.

Adapun tugas Carina adalah mengembangkan manufacturing vaksin Covid-19 dalam skala besar. Ia menjelaskan, karena vaksin AstraZeneca ini berbasis viral vector (vector virus), pada dasarnya yang di-scale up adalah viral vector-nya. “Proses yang saya lakukan adalah proses dalam skala lab, tapi proses itu akan diadaptasi ke dalam skala yang lebih besar,” katanya.

        Perlu diketahui, menurut penjelasan CDC, vaksin berbasis viral vector itu dikembangkan dengan menggunakan versi virus berbeda yang dimodifikasi (disebut vector, dan ini bukan virus yang menyebabkan Covid-19) untuk mengirimkan instruksi penting pada sel-sel tubuh kita. Jenis lainnya adalah vaksin mRNA, yakni jenis vaksin yang menggunakan sebuah molekul alami (dikenal dengan istilah messenger RNA) yang akan mengaktifkan respons imun.

         Moderna dan Pfizer adalah jenis vaksin mRNA yang mendapat izin untuk digunakan pada manusia. Adapun vaksin jenis lainnya menggunakan teknologi inactivated virus atau virus utuh dari SARS-CoV-2 (penyebab Covid-19) yang telah dimatikan, dengan contohnya adalah vaksin Sinovac.

Proses pengembangan vaksin ini juga melahirkan sejumlah hak paten. Menurut Carina, hak paten pada vaksin AstraZeneca itu tidak cuma satu, karena bidangnya berbeda-beda. Ia menyebutkan, Sarah Gilbert tentu mempunyai patennya di sini walau tidak memegang semua. Juga ada yang lain.

Carina sendiri memegang hak paten vaksin ini dalam aspek manufacturing skala besar, karena ia yang menemukan metodenya. “Hak paten itu hanya simbol, saya sendiri tidak tahu akan dapat apa,” katanya merendah. Ia mengaku ini adalah paten pertama yang dipegangnya setelah lulus dari program doktor.

Soal efikasi vaksin, menurut Carina, semua vaksin yang sudah melewati badan regulator tentu terbukti efektif dan aman. “Saya mengimbau masyarakat menerima vaksin yang ada, agar terlindungi,” ujar Carina. “Yang harus dipahami, ini bukan perang antarmerek atau teknologi vaksin, tapi perang melawan virus Covid-19,” Indra menimpali.

Indra menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 yang beredar saat ini sifatnya masih emergency use, belum licence to use. “Clinical trial-nya pada dasarnya belum selesai, karena menurut protokolnya kan butuh dua tahun,” ujar Indra, yang pernah bekerja sebagai Product Development Specialist Bio Farma (2014-2018).

Carina mengklaim, sekarang lab-lab sudah mampu melakukan proses manufacturing vaksin dengan baik. Ke depan, ia mengaku akan terus melakukan continuous improvement. Apalagi, menurutnya, dari target mencapai 3 miliar dosis sekarang, baru tercapai 1 miliar dosis. “Jadi, gap-nya masih jauh,” ujarnya.

Lantas, mampukah Indonesia memproduksi vaksin Covid-19 sendiri? “Saya rasa mampu karena Indonesia memiliki perusahaan farmasi seperti Bio Farma, dan juga ada perusahaan farmasi lain yang saya dengar mulai melirik untuk bisa memproduksi vaksin manusia,” kata Indra.

“Soal seberapa cepat, itu yang saya tidak tahu, karena ada banyak milestone yang harus kita penuhi sebelum kita menuju mass manufacturing,” katanya lagi. Namun, ia mendorong agar kita bisa memproduksi vaksin sendiri, karena jika vaksinasi booster itu dibutuhkan tiap tahun, kita tidak bisa mengandalkan impor.

Mengenai rencana pribadi ke depan, menurut Indra, karena ia masih terafiliasi dengan Bio Farma, setelah menyelesaikan studi S-3-nya ia akan pulang karena harus kembali bekerja di perusahaan ini. Sementara Carina, keputusan ke depan akan tergantung pada kontrak proyek dalam program pascadoktoralnya. “Kalau proyeknya belum selesai, saya akan tetap di dalam proyek ini,” ujarnya menutup diskusi via Zoom di Sabtu sore, 31 Juli 2021 itu. (*)

Joko Sugiarsono & Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)