Ramsay Sime Darby Health Care Indonesia, Prioritas Membangun Komunikasi Berkelanjutan

Peter Hong, Group Chief Executive Officer Ramsay Sime Darby Health Care.
Peter Hong, Group Chief Executive Officer Ramsay Sime Darby Health Care.

Perubahan lanskap industri kesehatan, khususnya rumah sakit (RS), di era pasca-pandemi Covid-19 bukan hal yang mengejutkan bagi pelaku industri. Kini, semua RS ⸺baik milik pemerintah maupun swasta— memang dituntut melakukan transformasi bisnis dan layanan, khususnya yang berbasis digital, jika tidak ingin tertinggal dengan yang lain dan tetap memiliki daya saing.

Diakui Peter Hong, Group Chief Executive Officer Ramsay Sime Darby Health Care (RSDH), tuntutan transformasi bisnis dan layanan memang belum cukup. Mengingat kesadaran masyarakat terhadap standar pelayanan kesehatan semakin tinggi dan tuntutan terhadap hak-hak pasien sebagai konsumen juga kian meningkat, maka kuncinya terletak pada bagaimana mendorong karyawan memberikan layanan terbaiknya sebagaimana komitmen RSDH untuk memberikan pelayanan berkualitas: menyediakan layanan kesehatan swasta terbaik yang memungkinkan pasien menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Sejak awal kami berkomitmen menjadi organisasi yang tumbuh dalam kemitraan. Kami bekerjasama dengan para profesional di bidang kesehatan untuk memberikan pelayanan medis yang unggul dan konsisten. Kami juga bekerjasama dengan para pasien kami untuk memastikan bahwa kami memberikan perawatan secara optimal sesuai dengan harapan mereka,” kata Peter yang memimpin RSDH sejak Januari 2022.

Menurut Peter, dengan 28 tahun pengalaman di industri kesehatan di Asia Tenggara, sebagai bagian dari jaringan organisasi perawatan kesehatan yang dimiliki dan dioperasikan oleh Ramsay Health Care Australia ⸺salah satu operator rumah sakit terbesar di dunia dan salah satu konglomerat terbesar di Asia, Sime Darby Group⸺ RSDH Indonesia merupakan pelopor pelayanan kesehatan yang menawarkan perawatan dengan kualitas terbaik di wilayah Asia. Membawahkan tiga RS di Indonesia, yakni RS Premier Bintaro, RS Premier Jatinegara, dan RS Premier Surabaya, serta 1.737 karyawan dari ketiga rumah sakit yang masuk dalam kelompoknya, RSDH menggunakan teknologi medis terkini yang telah terakreditasi secara internasional, baik di Indonesia maupun Malaysia.

Peter mengakui, setiap perusahaan dihadapkan pada tantangan besar dalam mengelola karyawan di saat pandemi Covid-19. Namun, terkait dengan institusi perawatan kesehatan, persoalan yang dihadapi unik dan kompleks.

Tantangan yang dihadapi para profesional kesehatan berbeda dengan karyawan/profesional di bidang usaha lain. “Pandemi mengubah paradoks perawatan kesehatan dengan tempat kerja yang lebih baru dan tantangan sosial yang dihadapi tenaga kesehatan,” katanya.

Hal tersebut menuntut sikap tegas RSDH terhadap karyawan. “Sikap tegas kami adalah menangani kebutuhan kesehatan staf kami dan orang yang mereka cintai adalah yang terpenting (menjadi prioritas),” Peter menegaskan.

Mengapa? “Karyawan kami tentu juga mengalami pukulan berat pada kehidupan individu, keluarga, hubungan, dan kesehatan mental mereka. Atribut sosial yang berbeda seperti terisolir di rumah, stres, keseimbangan kehidupan kerja, dan peningkatan biaya dialami,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa staf RSDH memiliki kondisi kerja yang aman, dan mereka layak mendapatkan rasa hormat. Sehingga, pihaknya dapat menjaga keselamatan pasien.

“Mengingat sifat pandemi yang berkembang, kami memastikan bahwa semua tindakan yang diperlukan diambil sesuai dengan pedoman dan SOP Covid-19 Kementerian Kesehatan untuk mengelola pasien yang terkena dampak di tempat kami dengan hati-hati,” dia menegaskan lagi.

Selain itu, RSDH juga memiliki saluran komunikasi yang jelas antara staf dan manajemen yang digunakan untuk mengelola ekspektasi. Menurut Peter, hal itu sangat penting untuk meyakinkan kepada karyawan bahwa RSDH melindungi mereka sebaik mungkin sekaligus memberikan penghargaan atas pekerjaan mereka selama situasi krisis.

“Kami memahami bahwa krisis pandemi itu memberikan banyak tekanan kepada karyawan, manajer, dan kepemimpinan perusahaan,” ujar Peter. Sehingga, komunikasi yang jelas dan konsisten tentang apa yang dibutuhkan perusahaan, bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut, bagaimana karyawan menyesuaikan diri dengan setiap bagian dari strategi membantu staf memahami peran mereka dan bagaimana perusahaan mendukung mereka, itu semua penting sekali.

Jika RS bisa memahami situasi dan suasana batin seperti itu, Peter percaya, segala permasalahan bisa diselesaikan dengan mudah. Misalnya, penerapan aturan work from home (WFH) maupun work from office (WHO), semuanya dalam kerangka empati yang diberikan perusahaan kepada staf yang perlu merawat keluarga dan orang yang mereka cintai. Karenanya, pilihan jadwal kerja yang fleksibel terasa lebih baik dan nyaman, baik bagi pemberi kerja maupun karyawan.

“Ini adalah salah satu alasan utama RSDH menyimpang ke arah kerja yang fleksibel. Karyawan cenderung lebih bahagia ketika mereka memiliki kontrol lebih besar atas jam kerja mereka,” ungkap Peter. Dia yakin, menawarkan jam kerja yang fleksibel akan mendorong kebahagiaan.

“Karyawan yang bahagia mendorong pertumbuhan bisnis dan profitabilitas yang lebih baik. Pengaturan kerja yang fleksibel juga membangun hubungan yang lebih baik antara pengusaha dan karyawan. Karena jadwal kerja yang fleksibel, karyawan merasakan dukungan dari manajer mereka dan sebagai organisasi kami adalah tentang orang-orang yang peduli terhadap orang lain,” Peter menuturkan. Ia meyakini, produktivitas yang lebih baik berasal dari karyawan yang bekerja di lingkungan kerja dengan damai tanpa tekanan mental untuk menjatuhkan mereka.

Intinya, pria yang pernah bekerja untuk beberapa perusahaan multinasional besar di sektor farmasi dan medis ini percaya, kendali RSDH akan optimal berkat kekuatan komunikasi. Maka, demi terus menjaga dan membangun kepercayaan serta memberikan rasa aman kepada karyawan, pihaknya membangun jalur komunikasi terbuka dari tingkat manajemen senior sampai tingkat pelaksana di lapangan.

Anggota tim dapat berkoordinasi dengan unit bisnis yang berbeda, memantau dan menyediakan informasi yang diperlukan kepada tim manajemen senior untuk komunikasi lebih lanjut dengan karyawan, pelanggan, dan mitra. “Kami yakin, komunikasi dan interaksi yang konsisten dan efektif dengan karyawan dapat memperkuat perusahaan dan budaya perusahaan,” Peter menegaskan.

“Kami percaya bahwa komunikasi adalah kunci dalam membangun keterlibatan karyawan yang aktif di perusahaan.” Peter Hong, Group Chief Executive Officer Ramsay Sime Darby Health Care

Bagi RSDH, pandemi tidak menjadi kendala terhadap komunikasi yang dibangun di antara pimpinan, karyawan, dan RS. Pasalnya, selama pandemi, perusahaan ini juga telah mengembangkan banyak aktivitas online dan offline untuk meningkatkan keterlibatan karyawan, seperti pembelajaran dan pengembangan virtual, webinar dengan pakar industri, pertemuan tim reguler, perayaan ulang tahun, serta penghargaan dan pengakuan karyawan, sebagai sarana untuk melibatkan karyawan selama masa sulit.

“Kami memastikan selalu berkomunikasi dengan karyawan dan dokter sehingga mereka mendapat informasi dan keterlibatan sepenuhnya,” kata Peter. Menurutnya, dengan berkomunikasi secara terbuka dan terus terang, karyawan akan merasa dihargai karena telah dilibatkan dan diajak berkomunikasi.

Tentu saja, selain memberikan perhatian khusus pada jalinan komunikasi, Peter juga memberikan perhatian besar pada kinerja RSDH. Secara khusus dia menyebutkan, selama pandemi Covid-19, pihaknya sengaja mencurahkan usaha dan energi ke dalam adaptasi cepat teknologi dan inovasi digital. “Kami memperkenalkan Telehealth Plus, layanan konsultasi virtual bagi pasien untuk dapat terus menerima perawatan dan konsultasi dengan dokter,” katanya.

Di antaranya, menerapkan e-Form pelacakan kontak sebelum pemerintah meluncurkan aplikasi Peduli Lindungi sepenuhnya kepada semua warga. “Kami juga bergabung dan mendukung program vaksinasi nasional pemerintah untuk semua warga negara, sekaligus menyediakan tes PCR di tempat dan program vaksinasi di tempat untuk klien korporat kami,” katanya.

Seiring transisi ke fase endemi, RSDH mengikutinya dengan memperkenalkan paket dan promosi menarik dari spesialisasi dan layanan pusat keunggulan rumah sakit. Perusahaan ini juga mengambil bagian dalam mengedukasi dan berbagi kesadaran umum tentang senantiasa sehat dan mencegah penyakit; semua sambil fokus pada inovasi digital dan bersiap untuk masa depan.

“Kami mampu tumbuh secara bertahap, memperluas fasilitas kami saat ini hingga kapasitas penuh. Kami menerapkan proyek brownfield yang layak, meningkatkan fasilitas yang ada, mengembangkan COE utama dan subspesialisasi baru sementara rumah sakit kami terus fokus pada pengembangan kemitraan dengan perusahaan, perusahaan asuransi, dan pemerintah di seluruh negara yang kami layani,” Peter menuturkan.

Apa pun usahanya itu, intinya RSDH tidak akan melupakan aspek-aspek untuk membangun dan menjaga engagement karyawan di era pandemik. Pertama, memiliki tujuan yang jelas dan menjanjikan. Komunikasi yang teratur dan konsisten dari manajemen puncak dan pemimpin membantu memahami kebutuhan dan tujuan karyawan.

Kedua, menyelaraskan arah, tujuan, dan strategi perusahaan. Dengan perubahan pola kerja dan meningkatnya stres selama pandemi, sangat penting bagi manajemen untuk memastikan bahwa karyawan diperhatikan. Komunikasi yang tepat waktu dapat membantu menjembatani kesenjangan dan meyakinkan karyawan bahwa perusahaan memiliki kepentingan terbaik mereka. Karyawan dengan tingkat kepercayaan yang sehat dengan tim kepemimpinan dapat mencapai tujuan baru serta mengembangkan ide-ide yang lebih besar dan lebih baik.

Ketiga, komit pada slogan “People caring for people”. RSDH berusaha terus-menerus meningkatkan kualitas perawatan dan memastikan selalu memperbarui diri dengan intervensi kesehatan berbasis bukti terbaru.

“Kami memastikan protokol kualitas dan keselamatan, membangun sistem respons yang cepat, memastikan karyawan mengetahui dan memahami kebijakan keselamatan, mempraktikkan perawatan yang berpusat pada pasien, serta mengembangkan rencana kepatuhan,” kata Peter.

Keempat, memperlakukan rekan kerja ⸺karyawan⸺ sebagai satu keluarga besar. “Kami mengakui kinerja yang luar biasa dan memastikan tempat kerja yang aman bagi semua orang. Hal ini dipertahankan melalui komunikasi yang berkelanjutan dan melalui program penghargaan dan pengakuan yang terdiri dari sistem moneter dan nonmoneter yang meningkatkan semangat kerja karyawan,” Peter menandaskan.

Kelima, sebagai penyedia layanan kesehatan, RSDH menganggap tidak ada hari yang sama. “Kami belajar sesuatu yang baru setiap hari dan kami bagikan pengetahuan itu kepada semua karyawan,” ujarnya. Sehingga, hal itu turut mendorong pertumbuhan dan perkembangan pribadi karyawan.

Terakhir, keenam, selalu meninjau remunerasi karyawan utama untuk memastikan tetap kompetitif di pasar.

Di atas semua itu, menurut Peter yang sebelumnya menjadi Group Operations Director di Siloam Hospital Group, kuncinya adalah membangun engagement karyawan. “Selama masa pandemi, kami percaya bahwa komunikasi adalah kunci dalam membangun keterlibatan karyawan yang aktif di perusahaan,” katanya. Karena itu, ia memastikan komunikasi yang berkelanjutan antara manajemen dan seluruh keluarga RSDH untuk kepemimpinan yang efektif menjadi prioritasnya.

Melalui komunikasi yang efektif pula, RSDH yakin dapat sekaligus memberdayakan karyawannya. Yang penting, dalam memberdayakan karyawan harus meliputi enam aspek di dalamnya, yakni manajemen kinerja harus tertata baik; wewenang pemberdayaan karyawan harus jelas; sumber daya mencukupi; pelatihan terus dijalankan; membangun kolaborasi; serta pekerjaan, struktur, dan proses terjamin dengan baik.

Lalu, bagaimana strateginya agar perusahaan terus tumbuh di era bisnis baru? Peter yang dipuji sebagai eksekutif berpengalaman, dengan latar belakang multikultural dan multinasional, serta memiliki kemampuan menyeimbangkan pengambilan keputusan operasional yang strategis dan disiplin dalam hal keuangan, telah memberikan beberapa target pencapaian yang telah dan sedang berjalan selama dan sesudah pandemi.

Antara lain, selama pandemi adopsi dalam teknologi dan inovasi digital terus dipercepat. Seperti telah disebutkan di atas, kini ada Telehealth Plus dan e-Form pelacakan kontak.

“Kami akan terus fokus pada inovasi digital, memanfaatkan fasilitas RSDH secara optimal, mengembangkan center of excellence (layanan unggulan) dan subspesialisasi baru di rumah sakit, serta terus fokus mengembangkan kemitraan dengan korporasi, asuransi, dan pemerintah,” kata Peter. (*)

Dyah Hasto Palupi/Darandono

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)