Andreas Raharso, Guru Besar NUS Business School: “Paruh Waktu Bukan Berarti Tak Loyal”

Prof. Andreas Raharso, Guru Besar NUS Business School
Prof. Andreas Raharso, Guru Besar NUS Business School

Bagi saya, HR itu sederhananya berkisar pada empat hal: merekrut, mendidik atau men-develop, memberikan kompensasi, dan me-retain. Saya melihat faktor teknologi akan menjadi driver perubahan besar atas pengelolaan empat hal di atas. Terutama, dalam rekrutmen dengan penggunaan artificial intelligence (AI).

Sudah terbukti bahwa mesin lebih bagus daripada manusia dalam memilih resume dan CV. Mesin tidak ada lelahnya. Manusia jika diberi 10 CV, masih bekerja apik. Namun, ketika disodori 100 CV, saat hitungan ke-90, sudah tidak ada konsentrasi. Hari ini dan ke depan, teknologi membantu kita membuat sistem rekrutmen yang lebih cepat dan tepat.

Sayangnya, masih banyak orang HR yang belum mau berubah. Masih banyak yang menggunakan metode klasik. Banyak yang menganggap jalan terbaik dalam rekrutmen adalah bertemu. Mereka tidak sadar, berbincang dengan lima orang, performa masih baik. Namun, bagaimana kalau 100 orang?

Bisa dipahami jika belum banyak yang mengaplikasikan teknologi. Cara lama berdasarkan sistem kualitatif. Begitu ke analitik, mereka bertemu angka-angka. Faktor kebiasaan membuat orang tak mudah berubah. Mengurus serta menyerahkan manusia kepada mesin dan angka butuh keterampilan dan waktu.

Menariknya, ini fenomena global, bukan hanya di Indonesia. Namun, yakinlah, orang HR mesti berubah. Sebab, saya percaya satu premis: “Semua yang tidak mau belajar, akan hilang.” Dunia mengajarkan itu. Contohnya, dulu iklan hanya di surat kabar atau media cetak. Tiba-tiba…, semua berubah ke digital seperti di YouTube, Facebook, Instagram, atau Twitter. Banyak yang tidak mau (atau tak mampu) belajar. Konsekuensinya, mereka pun kehilangan pekerjaan.

Tren digital yang kian membesar dan berkembang di segala aspek kehidupan memang sering disebut akan membuat sejumlah profesi menghilang. Benar begitu? Saya berpandangan tidak ada profesi yang hilang. Mereka hanya berpindah. Contoh, orang berujar bahwa akuntan akan hilang. Sebenarnya, profesi itu hilang kalau tidak mau belajar. Yang ada adalah mereka berubah dari akuntan yang menggunakan pensil menjadi memanfaatkan dan me-manage robot agar dapat menjalankan tugas akuntan dengan baik dan akurat.

Begitu pun dengan resepsionis dan profesi lain. Resepsionis harus mampu menyetel robot yang dapat membantu menjalankan pekerjaannya. Intinya, semua profesi bisa hilang jika tidak mau belajar. Mereka tidak akan hilang jika mau belajar.

Perkara “mau belajar” ini harus diperhatikan. Namun, itu pun tidak memadai. Yang dibutuhkan masa depan adalah orang-orang yang “pintar belajar”. Mereka cepat menguasai satu subjek keahlian, juga cepat menyerap subjek keahlian lain. Fleksibel.

Persoalannya, banyak orang super pandai yang tidak fleksibel dalam belajar. Tidak banyak yang menyadari hal itu, tetapi justru itulah yang makin dicari perusahaan. Kalangan profesional mesti menyadari hal ini.

Di luar hal di atas, saya juga melihat sejumlah tren akibat kemajuan teknologi. Di antaranya: (1) perusahaan membayar karyawan per jam, seperti yang kian marak di Singapura. Lalu:, (2) orang bekerja di beberapa perusahaan karena membagi waktu dilakukan dengan teknologi, seperti rapat yang tak mesti tatap muka fisik. Bahkan, sangat mungkin, nantinya direktur pun bekerja paruh waktu. Riset saya pun menunjukkan kecenderungan itu.

Kini, tidak ada lagi konsep “bekerja paruh waktu berarti tidak loyal”. Itu omong kosong! Dengan teknologi, pekerjaan bisa dijalankan bersamaan, dengan tetap profesional. Saat ini, sebenarnya sudah terjadi, tetapi baru para komisaris yang bekerja paruh waktu. Kalangan pemilik perusahaan harus siap menghadapi tren ini. (*)

Teguh S. Pambudi dan Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)