Coupang, Amazonnya Negeri Ginseng

Drop out bukan berarti kiamat. Lelaki ini membuktikannya. Pulang kampung, dia mendirikan bisnis yang bahkan menggetarkan raksasa global.

Bom Suk Kim. CEO Coupang.
Bom Suk Kim. CEO Coupang.

Kamis, 11 Maret 2021, kiranya menjadi hari besar bagi Bom Suk Kim. Hari itu, perusahaan yang dibesutnya, Coupang, resmi melantai di bursa New York. Yang membuat hari itu bertambah hebat adalah saham perusahaan berkode CPNG itu melonjak 40% pada penjualan perdananya. Saham perusahaan e-commerce dari Korea Selatan ini ditutup pada US$ 49,52 per lembar, memberikan perusahaan kapitalisasi pasar US$ 84,47 miliar atau sekitar Rp 1.182 triliun (kurs Rp 14 ribu). Alhasil, listing ini menjadi yang terbesar di antara perusahaan Asia lainnya sejak Alibaba pada 2014.

Dari IPO ini sendiri Coupang berhasil meraup dana sebesar US$ 4,6 miliar, atau setara Rp 64 triliun (kurs Rp 14 ribu). Dengan keberhasilan IPO, valuasi Coupang telah melonjak sangat signifikan dibandingkan sebelumnya, termasuk putaran penggalangan dana pada tahun 2018. Ketika itu, mereka dihargai US$ 9 miliar.

Kinerja hari ini dan prospek masa depan menjadi pertimbangan mengapa investor menyerbu Coupang. Seperti banyak perusahaan e-commerce lainnya, penjualan Coupang tumbuh tajam selama pandemi Covid-19 karena konsumen banyak melakukan belanja secara daring.

Tahun 2020, mereka memang masih merugi US$ 567,6 juta, tetapi ini jauh lebih kecil dibandingkan 2019 (US$ 770,2 juta). Kerugian yang mengecil ini sejalan dengan makin tumbuhnya penjualan. Tahun lalu, penjualan bersihnya melonjak 91% secara year on year (YoY) menjadi US$ 11 miliar. Dengan makin intensifnya belanja daring, Coupang diprediksi tinggal menunggu waktu untuk meraih laba.

Kisah Coupang tak akan pernah muncul jika Bom Suk Kim tak mengalami kegagalan. Lahir di Seoul, 7 Oktober 1978, Kim meninggalkan negaranya pada usia tujuh tahun bersama ayahnya, yang bekerja untuk Hyundai di mancanegara. Dibesarkan di AS, Kim pun mengenyam pendidikan dan bekerja di negeri ini. Dia bahkan mencoba meraih MBA di Harvard Business School. Sayang, dia gagal. Dia drop out setelah beberapa bulan menimba ilmu di sekolah ternama ini.

Tak mau dicap gagal di negeri orang dan menjadi pengangguran, Kim memilih pulang kampung. Tahun 2010, Kim mencoba berbisnis. Dia mengibarkan Coupang dengan mengambil model bisnis ala Groupon, yang menawarkan diskon yang dapat ditukarkan di perusahaan lokal atau nasional.

Agar lebih mudah mengumpulkan uang dari investor Negeri Abang Sam, Kim mendaftarkan perusahaannya sebagai perseroan terbatas di AS. Lalu, agar berkembang, hampir US$ 1 juta dihabiskannya untuk iklan, bahkan menjadi pengiklan teratas Facebook di Kor-Sel. Saking seringnya beriklan, ditengarai setiap orang Kor-Sel melihat 72 iklan Coupang dalam sebulan di Facebook.

Namun, kesuksesan masih enggan mendekat. Jumlah pelanggan berikut transaksi yang diharapkan tak kunjung datang. Akhirnya, tahun 2013, seiring berkembangnya ruang lingkup e-commerce, Kim pun mengganti model bisnisnya. Dia mengubah Coupang menjadi pasar bergaya eBay.

Saat itu, Kim bereksperimen dengan model bisnis yang sederhana: mengambil barang milik orang lain, lalu menangani penjualan dan distribusinya. Namun, saat itu Coupang masih sangat bergantung pada penjual pihak ketiga yang mengemas serta mengirim barang-barang mereka sendiri.

Kim tak puas dengan keadaan ini. Dia ingin memiliki persediaan barang sendiri sehingga tak tergantung pada pihak lain dan bisa mengirim ke pembeli secepat serta semurah mungkin.

Pikiran ini mendorongnya melangkah lebih jauh. Dia mencari investor. Tahun 2015 dia berhasil mendapatkannya dan mengantongi US$ 400 juta dari sejumlah pihak, seperti Sequoia Capital dan BlackRock, untuk menggandakan persediaannya sendiri, terutama buat barang-barang yang memiliki permintaan tinggi, seperti popok, air kemasan, dan beras. Kim mengubah Coupang menjadi Amazon.

Yang menarik, Kim terbilang cerdik dalam upayanya menjadi pemain dominan di Kor-Sel. Untuk mengembangkan Coupang, dia menerapkan kepiawaian yang saat itu seakan dilupakan pemain lain, yakni on-demand commerce: pengiriman pada hari yang sama. Hal ini memang terlihat sepele, tetapi inilah yang kelak membuat para pelanggan perusahaan sejenis di Kor-Sel berduyun-duyun pindah ke Coupang.

Hanya dalam dua tahun (2015-2017), Kim membawa Coupang begitu agresif. Perusahaan startup ini telah membangun bisnis logistiknya sendiri, jaringan pengiriman truk dengan kecepatan tinggi, gudang yang dikendalikan algoritma, dan 3.600 tenaga distribusi militan, yang disebut Coupangmen, yang mengirim barang ke pelanggan.

Dengan kekuatan seperti ini, Coupang segera terlihat keunggulannya dibanding para pesaing. Di Kor-Sel, rata-rata pengiriman paket membutuhkan waktu dua-tiga hari untuk tiba di tempat pelanggan. Coupang bisa membuat pesanan sampai ke pembeli dalam sehari atau kurang, tanpa biaya tambahan pula. Mereka menyebut jasa pengirimannya itu sebagai Pengiriman Roket.

Tanpa perlu komando, pasar segera beralih ke Coupang karena pembeli dapat memilih beragam produk, dari yang segar hingga komputer tablet, dan siap dikirim dalam beberapa jam, atau di hari yang sama.

Tak mengherankan jika Kim begitu fokus pada pengiriman yang murah, cepat, dan nyaman, selain logistik yang komplet. Seperti halnya Amazon, dia menyadari jika ingin sukses, memiliki barang sendiri saja tidaklah cukup. Harus ada syarat satu lagi: mesti mampu mengontrol proses pengiriman barang.

Meyakini hal itu, dia pun mengucurkan jutaan dolar untuk membangun jaringan logistik di seantero Kor-Sel, mencakup 200 gudang seluas 20 juta kaki persegi, serta truk dan ribuan pengemudi pengiriman. Penempatan gudang ini terbilang strategis karena 70% orang Kor-Sel bisa dijangkau dalam 10 menit dari lokasi gudang-gudang Coupang sehingga membuat pengiriman bisa cepat dilakukan. Sesuatu yang, seperti disinggung di atas, disebut Pengiriman Roket.

Kendati lama hidup di luar negeri, Kim dinilai cerdas membaca keadaan negaranya. Kor-Sel adalah negara yang bisa dibilang cukup padat. Sebagian besar masyarakat di Negeri Ginseng memilih tinggal di apartemen karena populasi yang padat. Jaringan logistik Coupang ditempatkan tak jauh dari kawasan yang padat penduduk sehingga dengan cepat bisa melayani pembeli.

Hal lain yang dipuji dari Kim adalah kepiawaiannya membuat operasional yang efisien dan efektif. Tak seperti perusahaan sejenis, termasuk Amazon, yang menggunakan label ataupun kardus sebagai pengemas barang-barang yang diantarkan, Coupang memilih menggunakan kotak kontainer yang bisa dipakai berulang kali. Apabila ada konsumen yang memesan suatu barang, dia bisa meninggalkan kotak kontainer tersebut di depan rumahnya yang kemudian diambil oleh Coupangmen. Metode ini membuat perusahaan e-commerce ini berhemat untuk urusan print label dan pemakaian kotak sekali pakai.

Namun, Kim tetap merasa belum cukup. Agar makin memuaskan pelanggan, Coupang meningkatkan kecepatan pengiriman lewat layanan yang disebut Dawn Delivery (Pengiriman Fajar), dengan satu janji: mengantarkan paket di depan pintu pembeli pada pukul 7 pagi selama mereka melakukan pemesanan sebelum tengah malam pada hari sebelumnya. Ini hal yang hebat karena lebih cepat daripada pengiriman Amazon yang dikirim esok hari sepanjang tidak melewati batas waktu siang hari. 

Pasar mengapresiasi langkah tersebut. Perlahan tapi pasti, bisnis Coupang terus membesar sehingga dijuluki sebagai “Amazonnya Negeri Ginseng”. Amazon yang telah melebarkan sayapnya ke berbagai negara pun bahkan disebut-sebut gentar untuk secara fisik masuk ke Kor-Sel. Bukan karena pasar dengan 51 juta penduduk ini tak menarik, melainkan karena ada pesaing lokal yang terlampau kuat untuk digusur.

Investasi besar-besaran itu tentu saja harus dibayar mahal. Coupang melaporkan kerugian sebesar US$ 465 juta pada 2015. Setelah itu, kerugiannya terus membesar setiap tahun. Seperti di tahun 2018 mencapai US$ 1,1 miliar. Namun seiring nilai penjualan yang meningkat, sejak 2019, angka kerugian mengecil, US$ 770,2 juta, dan US$ 567,6 juta (2020) –seperti telah disebut di atas.

Tecermin dalam IPO, semua itu kini tampak terbayar dan semakin cerah. “Apa yang tampak seperti kutukan pada waktu itu, bahwa kami harus membangun seluruh infrastruktur dan membangun teknologi untuk mengintegrasikan semuanya, akhirnya menjadi berkat besar,” kata Kim penuh rasa senang.

Bahkan, sebelum IPO pun, investor sudah mengapresiasi. Pada November 2018, Coupang telah menerima total US$ 3,6 miliar dari sejumlah nama tenar, termasuk Softbank, Sequoia Capital, dan BlackRock. Seluruh injeksi ini memberi estimasi valuasi US$ 9 miliar, menjadikan Coupang sebagai perusahaan besar di Negeri Ginseng, sekaligus menjadikan Kim meraih status miliarder (menurut Bloomberg, kini kekayaan pribadinya ditaksir US$ 8,3 miliar).

Datangnya pandemi, harus diakui, membawa berkah tersendiri bagi Coupang. Pembangunan infrastruktur besar-besaran di masa sebelumnya membuat jagoan e-commerce ini begitu solid di tengah tren work from home dan ketentuan lockdown.

Masa depan Coupang diprediksi makin cerah. Pasar e-commerce Kor-Sel telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir dan diproyeksikan menjadi yang terbesar di dunia setelah China, AS, India, serta Jepang. Mengacu perusahaan analitik GlobalData, pasar e-commerce Negeri Ginseng ditaksir memiliki nilai US$ 90,1 miliar di tahun 2020, dan akan mencapai US$ 141,8 miliar di tahun 2024.

Coupang yang kini memiliki 50 ribu karyawan, dan akan berlipat ganda pada tahun 2025, diyakini menjadi yang terdepan untuk menangkap peluang tersebut. Kim sendiri memiliki sebuah mimpi besar: menjadikan Coupang seperti Amazon. Sebuah mimpi yang tak akan pernah terjadi andai dia tak pulang kampung setelah gagal di Harvard. (*)

www..swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)