Geliat Pemain Online Travel di Tengah Pandemi

Gaery Undarsa, co-founder & CMO Tiket.com.
Gaery Undarsa, co-founder & CMO Tiket.com.

Minggu lalu dunia bisnis nasional dikejutkan dengan berita bahwa Traveloka kembali mendapatkan pendanaan baru US$ 250 juta atau setara dengan Rp 3,6 triliun. Dari sejumlah investor yang menggelontorkan dana baru tersebut, ada sebagian yang sebelumnya memang sudah masuk di Traveloka seperti IV Growth. Namun, juga ada beberapa investor global baru. Fenomena ini menarik karena pemain lain diam-diam juga mendapatkan tambahan dana meski tanpa publikasi.

Fenomena yang terjadi belakangan ini menjadi tanda keyakinan dari kalangan startup penyedia layanan perjalanan berbasis online (online travel agent/OTA), bahwa masa depan bisnis travel dan wisata akan tetap cerah dan sekarang hanya melambat karena dampak Covid-19. Sebelumnya, kalangan pelaku bisnis pariwisata mengakui bahwa sektor pariwisata merupakan segmen bisnis yang paling terpukul oleh pandemi corona dan kondisi mereka berada di titik terendah yang belum pernah terjadi sejak pertama kali startup-startup itu berdiri. Namun, apa yang terjadi belakangan menyiratkan keyakinan dan optimisme untuk bangkit.

"Meskipun berada di situasi sulit, Traveloka tetap menghadirkan inovasi-inovasi yang relevan dengan perubahan perilaku konsumen di periode pandemi Covid-19 ini, dengan tujuan memberikan kemudahan bagi pengguna dan mitra," ungkap Christian Suwarna, Chief Marketing Officer (CMO) & Chief Executive Officer Traveloka Experience. Karena itu, Traveloka menghadirkan produk yang mendukung socialdistancing bagi konsumen seperti Online Xperience hingga strategi pemasaran teranyar, seperti LIVEstyle Flash Sale, yang diharapkan dapat membantu para mitra untuk terus mempertahankan operasional bisnisnya.

Christian Suwarna, Chief Marketing Officer (CMO) & Chief Executive Officer Traveloka Experience

Christian dan tim Traveloka melihat saat ini sudah ada sinyal positif dari kepercayaan diri konsumen untuk mulai melakukan perjalanan dan liburan di dalam kota. "Tren serupa juga kami lihat di negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Thailand dan Vietnam, penduduknya mulai melakukan staycation dalam kota dan melakukan perjalanan jarak dekat," kata Christian.

Sebab itu, pihaknya kini mencoba membantu mempercepat pemulihan industri melalui sejumlah inovasi produk dan layanan, serta berkolaborasi dengan mitra. "Kami optimistis industri ini akan pulih seiring tingginya kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol yang ditetapkan," Christian menegaskan.

Sementara itu, Gaery Undarsa, co-founder yang juga CMO Tiket.com, menjelaskan, guna menghadapi dampak pandemi terhadap bisnis, pihaknya membuat beberapa skenario atau plan tertentu. "Skenario yang kami buat ada skenario tiga bulan, skenario enam bulan, sampai skenario satu tahun," kata Gaery.

Ia akui, di awal masa pandemi, Tiket.com sempat mengalami masa penurunan dari penjualan rata-rata harian hingga 75%. Namun, saat ini penjualan berangsur-angsur normal walaupun belum 100% seperti sediakala. "Impact penurunan terbesar terasa untuk produk penerbangan. Maskapai memberlakukan perubahan dan pembatalan jadwal penerbangan, ditambah pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan penutupan bandara dan pembatasan penerbangan," paparnya.

Hingga sekarang people management Tiket.com masih berjalan normal, tak terjadi pengurangan staf dan pemotongan gaji. "Bagi Tiket.com, aset nomor 1 adalah people. Alternatif yang kami ambil saat ini adalah efisiensi berupa pemotongan cost yang bisa diminimalisir, antara lain spending marketing dan discounting. Kami melakukan cut spending budget hingga 90%," Gaery menjelaskan.

Kini pihaknya berusaha melihat kebutuhan pelanggan di masa adaptasi new normal dengan meluncurkan fitur baru. Antara lain, Tiket Clean dan Tiket Flexi.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)