Kesempatan Kedua Tuan Conrad

Setelah gagal dan terpuruk, dia bangkit menebus kesalahan serta kekalahannya. Di tengah keraguan, dia berhasil mencetak kejayaan kembali.

Parker Conrad, Co-Founder dan CEO Rippling.
Parker Conrad, Co-Founder dan CEO Rippling. Foto: njfcapital.com

Adakah kesempatan kedua untuk sukses setelah gagal dan jatuh berkeping-keping? Jika itu ditanyakan kepada Parker Conrad, dia akan mengangguk dan tersenyum. Dia pun bakal senang hati menceritakan kisah hidupnya. Kelahiran New York tahun 1980 ini memang memiliki jalan kehidupan yang menarik terkait kegagalan serta kesuksesan di dunia bisnis.

Conrad masih berusia 32 tahun (2012) ketika mendirikan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang human resources (HR). Namanya: Zenefits. Hanya dalam tiga tahun (2015), dia sukses membangun perusahaannya menjadi kesayangan Silicon Valley dengan valuasi US$ 4,5 miliar.

Namun, kesuksesan yang direguk itu segera menjadi mimpi buruk. Alih-alih terus berjaya, pertumbuhan perusahaan terhenti. Penyebabnya adalah seputar compliance ketika sejumlah broker Zenefits menjual asuransi kesehatan di negara-negara bagian di mana mereka tidak memiliki lisensi untuk melakukannya.

Kejayaan pun seketika luruh. Padahal, puja-puji tengah mengalir. Zenefits dianggap sebagai salah satu fast growing startup. Februari 2016, Conrad mengundurkan diri di bawah tekanan sementara Zenefits dihentikan, dilanjutkan manajemen baru.

Dalam pengakuannya, dia bercerita bahwa setelah mengundurkan diri, dia pulang ke rumah, menonton Star Wars sementara badan pengawas pasar modal serta regulator asuransi membuka pintu investigasi. “Saya bersembunyi di rumah, semacam berada di garis bunuh diri, tidak bicara ke siapa pun, hanya menonton apa yang terjadi,” ungkapnya.

Namun, Conrad bukanlah orang bermental lemah. Lelaki kekar berambut pirang kemerahan ini tetap percaya dengan misinya, yakni membuat urusan HR menjadi lebih mudah lewat peranti lunak.

Enam minggu berlalu, luka-luka batin itu segera pulih. Tak perlu waktu lama, dia pun memutuskan memulai langkah baru sementara perusahaan lamanya masih terguncang, dan tengah dikelola manajemen baru.

Merujuk ke latar belakangnya, Conrad bukan berasal dari keluarga sembarangan. Dia tumbuh di keluarga kaya di wilayah elite, Upper East Side, New York. Ayahnya seorang senior partner di kantor hukum Davis Polk & Wardwell. Adapun ibunya mendirikan LSM lingkungan.

Conrad anak yang pintar, dia masuk Harvard. Di Harvard, tempat ayahnya belajar hukum, dia menjadi managing editor di The Harvard Crimson. “Saya luangkan banyak waktu di Crimson sehingga gagal di kuliah,” ujarnya. Meluangkan waktu setahun, anak muda ini kemudian bekerja di Arkansas Democrat-Gazette, kemudian kembali ke Harvard, dan lulus di tahun 2003 dengan mengantongi gelar sarjana kimia.

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)