Spindo, Memodernisasi Mesin, Pacu Pertumbuhan Bisnis

Tedja Sukmana Hudianto, Wakil Presdir Spindo,
Tedja Sukmana Hudianto, Wakil Presdir Spindo

Produsen pipa baja terbesar di Indonesia, PT Steel Pipe Industry Indonesia Tbk. (Spindo), memasang target pertumbuhan bisnis 10-15% di tahun 2020. Target ini diharapkan melampaui rata-rata pertumbuhan industri logam nasional yang di bawah 10%.

Perseroan berhasil mencapai target pertumbuhan bisnis tersebut. Pendapatan Spindo di tahun 2018 senilai Rp 4,46 triliun, naik 21,85% dari Rp 3,66 triliun di tahun 2017. Penjualan di tahun 2017 itu melampaui omset di tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,25 triliun alias naik 11,16%.

Jika mencermati penjualan selama 2016-2018 itu, Spindo mampu membukukan pertumbuhan omset rata-rata di atas 10%. Laba bersih di tahun 2018 itu melonjak sebesar 463,99%, atau menjadi Rp 48,74 miliar dari Rp 8,63 miliar di tahun sebelumnya. Sampai dengan kuartal III, meskipun pendapatan hanya naik 6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari Rp 3,38 triliun menjadi Rp 3,6 triliun, laba bersihnya meroket 686,61% dari Rp 15,54 miliar ke Rp 122,25 miliar.

Tedja Sukmana Hudianto, Wakil Presdir Spindo, menyatakan, pihaknya melakukan beragam langkah untuk mendorong kinerja keuangan. Di antaranya, menjalankan efisiensi, mengembangkan produk, memodernisasi mesin produksi sehingga memangkas jam kerja dari tiga shift menjadi dua shift, meningkatkan produktivitas yang memotong biaya operasional, mengadakan acara yang rutin dan mengedukasi konsumen, serta menambah gudang dan depo penyimpanan yang berdekatan dengan lokasi konsumen.

Tedja menggarisbawahi strategi Spindo melakukan efisiensi, yakni mengganti mesin lama dengan mesin berteknologi terbaru yang berhasil meningkatkan produktivitas dan memangkas biaya operasional. “Beberapa mesin diotomatisasi. Mesin baru ini speed-nya lebih kencang. Produksi 1.000 ton, misalnya, hanya membutuhkan jam kerja selama dua shift dari sebelumnya tiga shift. Jadi, kami lebih efisien karena tidak membutuhkan tenaga kerja banyak,” tutur Tedja.

Varian pipa baja yang diproduksi Spindo bermacam-macam dan menyasar pasar konstruksi, infrastruktur, utilisasi, minyak & gas, otomotif, furnitur, dan pabrik industri. Pipa baja itu diproduksi di lima pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dan lima pabrik di Jawa Timur. Pipa baja didistribusikan ke gudang dan depo yang lokasinya berdekatan dengan konsumen.

Baru-baru ini, Spindo mengoperasikan depo di Samarinda, Kalimantan Timur. Untuk memperlancar distribusi produk ke konsumen di wilayah lain, perusahaan ini pada kuartal I/2020 membangun depo yang lahannya seluas 6 ribu m2 di Makassar, Sulawesi Selatan. Spindo memilih Makassar karena potensi pasarnya cukup menjanjikan dan berdekatan dengan lokasi proyek konstruksi, infrastruktur, dan konsumen ritel. Ini adalah depo Spindo yang keempat setelah depo Bandung, Jakarta Barat, dan Samarinda. “Kami juga berencana menambah depo-depo di daerah lain,” Tedja menambahkan.

Perusahaan yang berdiri sejak 1971 ini gencar melaksanakan workshop dengan mengundang konsumen untuk mendemonstrasikan keunggulan pipa baja Spindo dibandingkan produk kompetitor. Menurutnya, cara ini sangat efektif mempererat kemitraan bisnis Spindo dengan konsumen dan distributor.

Ke depan, Spindo berencana membeli mesin terbaru, mengganti mesin las dan mesin potong, serta memodernisasi sistem teknologi informasi. Perusahaan ini menyiapkan belanja modal senilai Rp 400 miliar untuk membiayai rencana bisnis ini. (*)

Vina Anggita & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)