Akulaku, Gunakan Skema Pay Later sejak Pertama Masuk Indonesia

Gaya hidup masyarakat di era Covid-19, yang harus selalu melakukan social distancing, menjadi pemicu meningkatnya tren pay later. Orang pun banyak bekerja dari rumah, segala kebutuhan juga dilakukan di rumah. Termasuk, order sesuatu dari rumah dengan cara online. Semua itu memunculkan kebutuhan infrastruktur digital yang memadai.

Akulaku menjawab kebutuhan itu. Sejak awal masuk ke Indonesia dengan wajah e-commerce yang menggunakan pay later, Akulaku memang tergolong pionir di Tanah Air.

Pay later ini kan butuh perizinan, karena untuk bisa melakukan bisnis cicilan/kredit harus di bawah supervisi dan lisensi OJK. Maka, dibuatlah PT Akulaku Finance Indonesia yang pada 2018 mulai beroperasi,” kata Efrinal Sinaga, Presiden Direktur PT Akulaku Finance Indonesia.

Efrinal meyakini, tren pay later ini akan terus besar dan membaik karena, pertama, lifestyle yang berubah. Kedua, makin banyak masyarakat yang melek teknologi. Kaum milenial pun sudah sangat digital savvy, suka dengan segala yang berbau digital.

“Lalu, kalau dilihat juga data dari BI, transaksi e-commerce ada Rp 385 triliun, dan kalau data dari Google, proyeksi e-commerce dalam lima tahun ke depan diperkirakan US$ 124 miliar,” katanya. 

Hal lain yang penting diperhatikan juga adalah kesiapan pemerintah untuk terus membangun infrastruktur. Apalagi, ada kemungkinan tahun depan sebanyak 12.584 desa sudah tersentuh internet sehingga tidak ada lagi yang blankspot. Ini akan menambah pangsa pasar, khususnya di digital business. Hal ini pun akan meningkatkan demand, yang akan didukung infrastruktur, sehingga meningkatkan pula transaksi pay later.

Lebih spesifik lagi, dengan pay later ini, Akulaku menciptakan suatu fasilitas kartu kredit digital. “Kalau dilihat, kan masyarakat yang belum punya kartu kredit masih sangat banyak. Ini adalah ceruk pasar yang besar. Ini target pasar kami,” ungkap Efrinal. Akulaku memberikan fasilitas kartu kredit yang cardless dan bisa digunakan berbelanja di mitra merchant-nya, sehingga bisa belanja seperti menggunakan kartu kredit, tinggal masuk ke aplikasi Akulaku.

Ia menjelaskan, Akulaku itu ada tiga perusahaan. Yaitu, PT Akulaku Silvvr Indonesia, yang khusus e-commerce. Ini trading company sebagai etalase platform yang mempertemukan merchant dengan buyer. Kedua, PT Pintar Inovasi Digital, fintech P2P lending yang menyediakan fasilitas pinjaman uang. Ketiga, PT Akulaku Finance Indonesia, perusahaan multifinance atau pembiayaan (leasing), dan pay later masuk di sini. 

Mengenai diferensiasi dan keunggulan pay later Akulaku, Efrinal mengatakan, “Kami membantu orang yang unbankable menjadi bankable. Mereka jadi bisa punya fasilitas. Kami memberikan kartu kredit yang cardless.” Kemudian, semua operasional perusahaan dilakukan secara distancing, paperless, contactless, dan cashless.

“Proses kami tidak terlalu lama, bisa dibilang instan. Lalu, keunggulan kami juga bahwa pemilik account Akulaku hampir ada di seluruh Indonesia, tapi tidak punya cabang di mana pun, artinya branchless. Portofolio paling banyak di Jabodetabek,” paparnya. 

Saat ini, komposisi nasabah Akulaku, 72% g milenial dengan tingkat edukasi lebih dari 50% tamatan SMA sampai Diploma. Jumlah pengguna yang sudah mengunduh aplikasi Akulaku sekitar 12 juta orang, tapi yang existing hanya 7 juta end user. “Kami setiap bulan bisa membiayai sekitar Rp 750 miliar. Di Akulaku e-commerce saja rata-rata yang bertransaksi ada 200 ribu orang,” katanya. (*)

Dede Suryadi dan Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)