Cynthia Mahendra di Bisnis Makeup dan Fashion

Merlita Cintia Dewi, pendiri dan desainer Jawhara Syari, yang dikenal dengan nama intimnya Cynthia Mahendra
Merlita Cintia Dewi, pendiri dan desainer Jawhara Syari, yang dikenal dengan nama intimnya Cynthia Mahendra

Jawhara Syari (JS) diperbincangkan banyak orang. Merek fashion hijab syari ini menyedot perhatian karena setiap kali merilis koleksi baru, langsung sold out diserbu pelanggan.

Konsumen berebutan dengan reseller. Pembeliannya pun tidak masuk akal. Ada yang satu seller beli 20 baju, 11 baju. Koleksi kami kan limited edition, barang kami tidak sampai 300 piece. Jadi, itu mungkin sudah direbut duluan sama reseller secara online yang sudah tersebar di pelosok negeri hingga ke mancanegara, seperti London, Amerika, Taiwan, Qatar, Malaysia, dan Singapura,” papar pendiri dan desainer Jawhara Syari Merlita Cintia Dewi --dikenal dengan nama intimnya, Cynthia Mahendra-- pada acara Jawhara Syari Goes to Amsterdam Modest Fashion Week 2019 di Plaza Indonesia.

Cynthia merasa sangat bersyukur JS begitu populer dan dicari pembeli. Merek yang terkenal dengan aksen kristal Swarovski itu selalu menjadi incaran para muslimah syari. Cynthia menduga, karena JS mengusung style yang tidak ribet dan tidak bikin gerah, konsumen pun suka.

Persepsi masyarakat mengenai busana syari adalah pakaian yang berlapis-lapis dan berat. “Nah, saya ingin mengubah persepsi tersebut dengan menghadirkan style JS yang ready to wear, sederhana, namun tetap elegan,” kata Cynthia. Istri Ukie Mahendra ini mengakui, motif JS rata-rata terinspirasi desain yang sedang tren di Eropa.

Banyak brand lain yang telah meniru desain kami. Awalnya kesal, tapi semakin ke sini semakin capek menanggapi hal-hal ini. Jadi, ya sudah kami biarkan saja. Toh, sekarang branding kami sudah kuat dan fokus kami sudah kancah internasional,” kata Cynthia dengan percaya diri.

Merek JS memang terus menanjak. Dulu di awal-awal berdiri masih meraup omset jutaan per bulan. Kini bisa mendapatkan omset Rp 2 miliar-5 miliar per bulan.

Yang menggembirakan wanita yang punya sapaan akrab Bubun ini, pembeli busana muslimnya semakin banyak datang dari berbagai kota di Indonesia. Daerah yang peminat koleksinya paling banyak adalah Jawa Timur dan Kalimantan.

Walaupun tergolong busana high medium dan premium dengan kisaran harga Rp 1,4 juta-2,5 juta, pelanggan tidak menjadikan hal itu sebagai masalah. “Harga tidak bisa bohong, karena kami membeli bahan baku dari luar pun tidak murah,” kata Cynthia yang juga merambah bisnis kosmetik.

Referensi produk JS memang diambil dari luar negeri. “Kami membedakan desain koleksi busana untuk fashion show dan daily wear (yang dijual sehari-hari),” Cynthia menegaskan. Untuk fashion show yang dalam setahun ada beberapa kali, misalnya, para fashion designer wajib mengonsep untuk setiap fashion show itu.

Konsep kedua, untuk daily wear. “Kami mengeluarkan 2-3 desain setiap bulan,” ujar Cynthia. Ia menambahkan, JS mempunyai penjahit sendiri dan semua produksi dilakukan secara in house.

Setelah berdiri tahun 2015 dan membentuk PT Jawhara Syari Indonesia (JSI) tahun 2016, Cynthia memang total mengembangkan merek dan usaha barunya. Misalnya, JS dikembangkan dengan dua sister brand dalam segmentasi berbeda, yakni Orlin Syari dan Jyoti Syari. Selain itu, ia juga mengembangkan bisnis kosmetik, dinamai Cynthia Mahendra Cosmetics (CMC).

Wanita yang dikaruniai enam anak ini memang sangat menyukai apa pun yang terkait keperempuanan. Apalagi, bisnis kosmetik lahir tanpa disengaja. “Awalnya, karena saya suka dandan. Lalu, kami melihat potensi komunitas JS Lovers yang hampir semuanya wanita. Awalnya tidak dijual, tapi untuk diberikan kepada anggota komunitas. Lalu, saya berpikir, kenapa tidak dijual saja? “ kata Cynthia yang saat ini masih memproduksi lipstik dan pensil alis. “Tahun 2020, kami akan menambah SKU makeup lainnya,” lanjutnya dengan gembira.

Menurut Cynthia, selutuh aktivitas kini dipusatkan di dalam satu gedung (lima lantai). “Kami tidak mau dipegang oleh vendor luar karena ingin mempertahankan kualitas. QC pun harus ada di bawah standar kami,” katanya. Sekarang pihaknya memiliki 50 penjahit dan empat desainer fashion. Total karyawan JS hampir 100 orang untuk produksi minimal 1.500 potong.

Dikatakannya, JS tidak lagi fokus membidik pasar Indonesia. JS sedang mengejar pasar internasional, terutama negara-negara Eropa. Baginya, untuk menjalankan bisnis fashion dan kosmetik, tak harus memiliki dasar-dasar desain ataupun fashion. Menurut lulusan Fakultas Ekonomi Unisbank Semarang ini, yang terpenting adalah semangat dan passion tinggi untuk menjalankan bisnis. “Saya hanyalah orang yang senang mix and match baju dan pernah bercita-cita jadi fashion designer,” ujarnya bersemangat.

Waktu awal-awal mendirikan JS, Cynthia hanya mempekerjakan satu fashion designer, yang penting semangat untuk mau belajar-belajar. “Di awal 2019, saya masuk kembali belajar fashion design dan nantinya akan meng-upgrade pendidikan saya dengan mengambil program di Milan. Jadi, setelah menyelesaikan pendidikan di Indonesia, saya akan melanjutkan di Milan,” lanjut Cynthia antusias.

Guna memperkuat mereknya, JS saat ini hanya dijual melalui butik dan reseller. “Kami ingin menguatkan reseller di seluruh Indonesia,” ungkap Cynthia. Sekarang, JS punya 72 reseller di Indonesia dan beberapa reseller di luar negeri. “Memang kelihatannya reseller kami sedikit, tapi kami sengaja agar JS tetap terorganisir dan tetap eksklusif. Kalau di luar negeri, kami punya reseller di Jepang, Taiwan, Malaysia, dll.,” katanya.

Andalan pemasaran dan branding JS terletak pada komunitasnya, JS Lovers. Komunitas ini diharapkan menjadi ujung tombak pemasaran. Untuk mengelola mereka, kini JS aktif melakukan roadshow untuk bertemu langsung dengan komunitas ini.

Pasar terbesarnya di Indonesia adalah Jawa Timur. Adapun untuk pasar luar negeri, JS masih akan mengoptimalkan pameran dan fashion show. Fashion show internasional pertamanya adalah di Kuala Lumpur Modest Fashion Week 2016. Pada Amsterdam Modest Fashion Week, Desember 2019, JS membawa 10 koleksi. “Kami mendapatkan applause yang cukup lama dan mendapatkan feedback yang baik dari audiens. Bahkan setelah acara, koleksi yang kami pamerkan tersebut sold out di seluruh reseller,” kata Cynthia bangga.

Guna mengimbangi langkah JS yang melaju pesat, JSI mendirikan social foundation dengan nama Jawhara Syari untuk Negeri. Yayasan sosial ini merupakan wadah untuk berdonasi, terutama buat JS Lovers yang ingin berdonasi tetapi tidak tahu lewat platform apa. Harapannya, JS tidak hanya bergerak di bidang fashion, tetapi juga bisa bermanfaat bagi sesama. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)