Kibar SVI, dari Musik sampai Kendaraan Listrik

Setiawan Winarto, CEO PT Suara Visual Indonesia (SVI).
Setiawan Winarto (duduk), CEO PT Suara Visual Indonesia (SVI).

Setelah lama dikenal sebagai distributor merek-merek alat musik dan audio, visual, automation, and security (AVAS) ternama di Indonesia, PT Suara Visual Indonesia (SVI) melebarkan sayap. Tiga tahun terakhir, perusahaan yang dipimpin Setiawan Winarto ini menjajal distribusi kendaraan listrik dari luar negeri. Merek seperti Segway, Ford Ojo, Xiaomi Qicycle, Gogoro, dan Vanderhall memilih SVI sebagai distributor resminya di Indonesia.

Lini bisnis baru ini diberi nama Melotronic, singkatan dari Melodia Electronic. SVI sebelumnya memang kondang dengan nama Melodia untuk penjualan alat-alat musik kategori menengah-atas.

Setiawan menjelaskan, sejak enam tahun lalu SVI menjadi holding untuk menaungi diversifikasi bisnisnya. “Jadi, sekarang SVI divisinya ada Melodia, Cipta Swara Anugrah untuk AVAS, MSI Music School, dan Melotronic,” kata CEO SVI itu.

Setiawan merupakan next generation leader. Melodia didirikan ayahnya tahun 1980 di Surabaya. Dia melanjutkan perusahaan sejak 1994 selulus sekolah di Amerika Serikat. Tahun 2000, dia membawa Melodia ke Jakarta. Di tangannya, perusahaan terus berkembang. Ruang pajang SVI tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.

Lebih dari 200 merek terkait alat musik yang ditangani Melodia. Merek seperti G&L, Gallien Krueger, Kurzweil, Sennheiser, dan Moog bahkan sudah puluhan tahun memercayai Melodia. Sementara itu, kiprah SVI di bidang audio visual semakin moncer setelah menjadi distributor Samsung sejak empat tahun lalu. Sekarang ada tiga merek besar pada audio dan enam merek besar pada visual yang didistribusikan SVI.

Bukan tanpa alasan SVI merambah audio visual. Selain Setiawan mencintai musik, ranah audio visual juga masih berhubungan erat dengan musik. Dia sendiri ingin membuat ekosistem music show yang kuat kendati seiring waktu berjalan ternyata permintaan audio visual lebih banyak berdatangan dari wilayah nonmusik. Lho, kok bisa?

Ya, pelanggan terbesar audio visual saat ini berasal dari rumah ibadah, restoran cepat saji, bioskop, serta sektor pemerintahan. Bahkan, di era pandemi ini, pelanggan dari pemerintahan paling banyak karena mereka sangat mengandalkan TI yang membutuhkan audio visual. “Kami bisa survive di pandemi ini salah satunya karena banyak pelanggan dari pemerintahan,” ungkap Setiawan.

Di sini, SVI juga berperan sebagai system integrator, yang membangun sistem audio visual untuk klien dengan menggabungkan perangkat lunak, perangkat keras, jaringan, dan berbagai produk lain. “Kami punya kemampuan untuk deploy di banyak tempat dalam waktu yang singkat. Mungkin kami sekarang jadi distributor audio visual terbesar di Indonesia, ya. Main business kami sekarang di audio visual,” Setiawan menerangkan.

Dalam menjalankan bisnisnya, SVI juga memiliki jaringan yang kuat. Ada 300 partnernya di seluruh indonesia, yang terdiri dari system integrator dan dealer. “Mereka jual lagi ke pelanggan, kami support di belakangnya. Beberapa juga ada yang kami jual langsung, seperti ke pemerintahan,” katanya.

Kepak sayap SVI di ranah kendaraan listrik dimulai ketika menjalin kerjasama dengan Ford Ojo dan Segway-Ninebot. Setiawan menceritakan, dia terpesona melihat desain, fungsi, dan kenyamanan skuter listrik ini ketika berkunjung ke Sillicon Valley saat menemani anaknya masuk sekolah. Banyak orang yang menggunakannya untuk mobilitas keseharian di sana.

“Waktu itu baru mulai penyewaan ride sharing menggunakan apps. Saya berpikir ini akan jadi besar. Saat itu awalnya saya mau cari moge (motor gede) custom karena sedang berpikir ingin bawa sesuatu yang belum banyak orang punya, eh… malah kepincut ini,” kata Setiawan mengenang.

Ketertarikan itu membawanya mencari tahu lebih dalam. Tak lama, dia pun mengajukan permohonan kerjasama.

“Saya dekati merek Segway tersebut. Saya bilang bahwa di Indonesia belum ada, baru ada yang selundupan. Sebelumnya, saya juga sudah menyurati Ford Ojo. Mereka juga percaya karena melihat kami juga sebagai distributor JBL Pro sudah 10 tahun. Cukup lancar, setelah beberapa kali meeting akhirnya sepakat. Tahun 2019 masuk semua,” katanya.

Setelah berhasil menggandeng merek-merek tersebut, banyak merek kendaraan listrik lain yang mendekat. Salah satu yang disambut adalah Gogoro, sepeda listrik asal Taiwan, yang merupakan skuter dengan sharing battery terbaik.

Tidak semua pendekatan diterima karena SVI tetap ingin menjaga kualitas dan keamanan yang sesuai dengan masyarakat Indonesia. “Sejak saya pegang Segway dan Ford Ojo, banyak sekali pabrikan skuter dari China menawarkan yang speed-nya bisa mencapai 60-80 km/jam. Tapi saya tidak mau karena berbahaya,” ungkapnya.

Tak berhenti sampai di situ, Setiawan terus bersiaga terhadap tren baru. Akhir 2020, ketika tren sepeda sangat tinggi, SVI juga membawa masuk sepeda listrik lipat Xiaomi Qicycle. “Kalau dilihat secara electric vehicle, ini akan cenderung naik. Ini bisa disebut sebagai tren baru yang akan makin besar. Karena, menurut data terakhir, penjualan e-bike di Eropa dan Amerika naik terus,” kata Setiawan.

Bahkan yang terbaru, di kuartal I/2021 ini SVI membawa masuk kendaraan jenis three-wheeled autocycles merek Vanderhall asal AS. Merek ini tergolong premium karena dibanderol mulai dari Rp 1,6 miliar. “Targetnya puluhan unit per tahun. Tahun ini, 30-50 unit,” ujarnya.

Total saat ini Melotronic menangani 12 merek kendaraan listrik. Setiawan mengatakan, penjualan kendaraan listrik di bawah Melotronic cukup baik, bahkan turut membantunya bertahan ketika masa pandemi sebab lebih banyak pembelinya dibandingkan alat musik. “Ketika launching, penjualannya bagus. Kemudian, bisa terjual ratusan per bulan sebelum pandemi melanda. Sebulan bisa 200,” katanya.

Selain karena didorong passion pada musik, kemampuan Setiawan dalam melihat peluang dan mengembangkan bisnis telah terasah sejak kecil. Dia kerap diajak sang ayah ke pameran alat-alat musik ternama di AS.

Nama Melodia telah dikenal oleh para exhibitor sebagai distributor di Indonesia sehingga rekam jejaknya telah banyak diakui para prinsipal. Inilah yang menuntun Setiawan membawa SVI memperluas segmen ke audio visual dan, yang terbaru, menjajaki kendaraan listrik.

“Sebagian besar mereka sudah tahu nama kami. Misalnya, Gogoro, sudah tahu bahwa kami distributor merek Samsung, JBL, dan sepeda listrik lain. Mereka juga bisa melihat dari web kami, juga pastinya mereka mengecek di network ya. Kami juga melihat mereka apakah benar menjalankan perusahaannya atau tidak,” Setiawan menuturkan.

Walaupun berangkat dari segmen musik dan audio visual, menurutnya prinsip bisnis distribusi semuanya sama. Baik itu dijual melalui dealer maupun marketplace. Asalkan, punya target dan strategi untuk mencapainya. Strategi kunci Setiawan adalah mengikuti passion, mengikuti tren terkini, dan aktif berjejaring di forum. Dengan itu semua, katanya, dia selalu akurat dalam membidik pasar.

“Kalau ditanya strateginya apa, jawaban saya: ikuti passion saja. Kemarin banyak yang main supercar, tapi saya tidak, karena bukan passion saya. Di alat musik dan audio pun passion saya di barang yang unik, bukan yang sembarang. Kemudian, lihat tren ke depannya bagaimana, baru saya bawa masuk. Seperti skuter listrik Segway itu kan jadi tren sekarang,” tuturnya.

Ke depan, SVI akan terus menggarap segmen kendaraan listrik, baik itu sepeda, skuter, maupun mobil. Setiawan bercita-cita bisa membawa merek Indonesia ke pameran internasional besar, dan mengajak pihak luar untuk berinvestasi di Indonesia.

Di samping itu, dia juga berharap sejumlah kendala pada regulasi bisa segera teratasi. Misalnya, banyaknya barang selundupan yang diimpor melalui online marketplace tanpa membayar pajak sehingga bisa dijual murah, yang berakibat merusak kompetisi dan harga pasar. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)