Panasnya Briket Batok Kelapa Tom Cococha Menembus Pasar Dunia

Asep Jembar Mulyana, Direktur Utama PT Tom Cococha Indonesia (TCI).
Asep Jembar Mulyana, Direktur Utama PT Tom Cococha Indonesia (TCI).

Di antara komoditas ekspor yang mulai banyak dilirik saat ini, ada briket arang batok kelapa atau coconut charcoal. Bahan bakar alternatif yang kerap digunakan untuk memasak, terutama untuk memanggang bahan makanan dan untuk keperluan rokok pipa shisha, ini selain banyak diminati pasar dunia, juga ditengarai kebal krisis.

Dalam beberapa kali krisis yang menghantam negeri ini, permintaan pasar dunia terus meningkat kencang. Briket arang batok kelapa dapat menghasilkan panas yang lebih besar dibandingkan dengan briket batu bara, selain juga dinilai lebih aman, ramah lingkungan, dan tidak menimbulkan asap.

Asep Jembar Mulyana, Direktur Utama PT Tom Cococha Indonesia (TCI), membenarkan potensi besar briket arang kelapa itu. Sejak mulai membangun TCI yang berlokasi di Tajurhalang, Bogor, 20 tahun lalu (1998), Asep mengaku mengenali produk komoditas ini dengan sangat baik.

“Iya, ini produk luar biasa. Saya yakin kalau orang belum kenal dan mendengar bisnis ini, tidak akan ada yang tertarik,” ujarnya. “Produk ini tahan terhadap krisis. Dari krisis 1998, 2008, lalu sekarang wabah Covid-19, bisnis arang tetap bergeming. Permintaan ada terus, dan malah melonjak,” ungkapnya. Ia bersyukur terjun ke bisnis ini.

Menurut mantan konsultan teknik ini, ada beberapa faktor yang membuat bisnis briket arang batok kelapa menjanjikan. Pertama, karena tren dunia, yaitu konsumsi rokok dengan gaya sisha --rokok Arab-- yang semakin mendunia. “Makanya, kami pun ekspor terbesar sekarang bukan lagi Timur Tengah, tapi malah ke Eropa, Rusia, dan negara-negara maju lainnya,” kata Asep.

Kedua, permintaan pasar lebih besar daripada pasokan. Kenyataan ini membuat pembeli rela antre untuk mendapatkan barangnya. Selain itu, karena produk ini belum dimasukkan sebagai komoditas, belum ada di bursa komoditas, sehingga belum ada satu pun negara atau organisasi yang mengatur harga briket. “Beda dengan produk turunan kelapa lainnya seperti kopra yang sudah masuk dalam daftar bursa komoditas. Briket khusus untuk sisha ini belum ada yang mengatur. Padahal, Indonesia produsen terbesar saat ini,” kata Asep jujur.

Ketiga, sifat pasar produk ini adalah sustainable product dan sustainable business, karena produk ini sekali pakai habis, arang dibeli kemudian dibakar, habis, lalu beli lagi, dibakar, habis. Begitu terus. Bahkan Asep mencermati, di negara-negara Eropa dan Timur Tengah, briket arang sudah jadi kebutuhan dasar untuk keperluan menikmati sisha atau barbeque.

Di luar semua itu, Asep meyakinkan, briket arang merupakan penghasil devisa yang sangat efektif karena praktis tingkat komponen dalam negeri (TKDN)-nya 100% dan seluruhnya untuk pasar ekspor. Maka, ia optimistis dengan masa depan TCI.

Sejauh ini, permintaan pasar dunia kepada TCI mencapai 2.000-3.000 ton per bulan. Namun, berhubung hanya sekitar 1.000 ton/bulan yang bisa dipenuhinya, TCI menunjuk beberapa pabrik binaan untuk memenuhi sisanya. “Sebenarnya pabrik arang ini ada banyak di Indonesia, tetapi mayoritas home industry yang belum bersertifikasi internasional,” kata Asep. Ia bersyukur TCI menjadi satu-satunya pabrik briket arang kelapa yang berskala besar dan sudah bersertifikasi internasional.

Namun, bukan berarti perjalanan TCI menjadi seperti sekarang ini semulus jalan tol. Asep mengenang, awalnya ia sama sekali tidak mengenal dunia perkebunan kelapa dan turunannya. Suatu ketika, seorang pengusaha besar nasional menawarinya untuk menggarap perkebunan kelapa di Manado seluas ribuan hektare.

“Setelah searching-searching di internet, saya dapat informasi tentang pemanfaatan buah kelapa, mulai dari sabut kelapa, daging kelapa, air kelapa, tempurung kelapa, hingga batang pohonnya. Dari situ saya membuat suatu proposal industri kelapa terpadu,“ Asep menceritakan. Ia masih harus mencari literatur dan panduan mengenai industri turunan kelapa ke IPB, BPPT, dan LIPI. Bahkan, ia mencoba mencari informasi ke luar negeri, antara lain ke India dan Korea, tentang pembuatan karbon aktif.

Setahun setelah bergabung dengan perusahaan itu, Asep memutuskan membangun usaha sendiri dengan membeli 1 hektare kebun kelapa, juga di Manado. “Saya ingin hanya fokus di arang karena secara modal juga terbatas,” cerita Asep tentang awal berdirinya TCI.

Sebagai pemain baru di bidang industri baru, TCI memang harus melakukan edukasi dan kampanye arang batok kelapa, juga membuka kesempatan bagi yang lain jika ingin belajar. Selain itu, Asep pun rajin mengampanyekan “Save the world by coconut charcoal”. Bahwa sesungguhnya banyak value lain yang belum diketahui masyarakat, seperti briket arang kelapa dapat menyelamatkan hutan dunia karena secara tidak langsung menghentikan penebangan pohon.

“Kami punya tiga ISO. Kami juga sudah member BSCI (Business Social Compliance Inisiative),“ kata Asep. Dengan melengkapi persyaratan audit sosial-ekonomi tersebut, TCI mudah melakukan ekspor ke mancanegara. “Produk-produk yang ramah lingkungan sekaligus punya dampak ke sosial masyarakat itu sangat diapresiasi di negara-negara maju,” ungkapnya. Ia telah menerbangkan briket arangnya ke lebih dari 27 negara di kawasan Eropa, Timur Tengah, Rusia dan beberapa negara pecahan Rusia, Maroko, hingga Amerika.

Asep mengakui, produksi dan teknologi TCI sebenarnya tergolong sederhana. Saking sederhananya, TCI membuat sendiri mesin yang dibutuhkan. Justru yang tidak mudah adalah mencari bahan baku. “Dalam tiga bulan terakhir ini kami kesulitan mendapatkan bahan baku,” ia mengeluhkan.

Tak segan-segan ia keliling Indonesia mencari bahan baku sekaligus mengajarkan petani bagaimana membakar batok kelapa jadi arang yang bagus. “Kami mengajarkan kepada para petani kopra bagaimana mengolah limbah menjadi arang sebagai tambahan pendapatan mereka,” kata Asep.

Kini perusahaannya beromset Rp 235 miliar per tahun. Angka sebesar itu belum final. Ke depan, Asep optimistis penjualannya akan terus meningkat. Saat ini pun, ketika krisis pandemi Covid-19, permintaan terus mengalir. Bahkan, negara-negara yang terdampak pandemi parah seperti Italia pun masih order. Juga, daerah konflik seperti Irak.

“Inilah berkah bagi kami; menjadi pemain nasional briket arang kelapa satu-satunya karena kakap-kakap nasional lainnya belum menyentuhnya,” kata Asep. Perusahaannya kini memiliki 450 karyawan, dengan pembagian kerja tiga shift, 24 jam nonstop. (*)

Dyah Hasto Palupi/Arie Liliyah; Riset: Hendi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)