Rocket Chicken, Terus Meroket dengan Kemitraan

Nurul Atik, Founder & CEO Rocket Chicken (tengah) bersama karyawan
Nurul Atik, Founder & CEO Rocket Chicken (tengah) bersama karyawan

Nurul Atik memulai usaha kemitraan restoran ayam goreng cepat saji Rocket Chicken pada Februari 2010. Gerai pertama didirikannya di Semarang. Hanya dalam kurun setahun, fried chicken lokal ini telah memiliki 80 mitra waralaba. Di tahun kedua, jumlah mitra naik menjadi lebih dari 100. Dan sekarang, Rocket Chicken memiliki 760 resto yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan total 9.000 karyawan.

Jumlah cabang yang terus meroket tersebut tak lepas dari kecerdikan Nurul dalam pemetaan daerah target pasar yang cocok. ”Di awal buka, outlet pertama kami di Semarang karena belum ada fried chicken lokal di sana. Lalu, kami pantau dari daya beli, kenyamanan dalam berbisnis, dan potensi konsumen, makanya kami mengambil daerah-daerah tersebut,” ujarnya.

Berbeda dengan fried chicken lainnya, Rocket Chicken menjalankan sistem bisnis waralaba dengan satu syarat ketat: sistem kemitraan harus berbentuk resto, bukan booth, dan mesti memiliki minimal 40 tempat duduk. “Saat ini 760 restoran tidak ada yang tutup. Semuanya eksis,” ujar pria kelahiran Juni 1966 tersebut.

Untuk mengurusi jumlah cabang yang begitu banyaknya, sebagai CEO, Nurul membawahkan general manager (GM). Kemudian, GM membawahkan regional manager yang mengoordinasi area manager. Memegang maksimal 20 cabang dalam satu kota, area manager melakukan meeting ke cabang-cabang untuk membahas omset, penjualan, situasi karyawan training, dll. Untuk kontrolnya, area manager melakukan meeting dengan regional manager sebulan sekali. Adapun regional manager rapat dengan GM empat bulan sekali. Intinya, Nurul menegaskan, mitra duduk manis, pihaknya yang mengurus semuanya.

“Kami tidak mau mitra terlibat banyak. Kalau terlibat terlalu jauh, bisa menimbulkan ego, serakah, dan rasa pintar. Di situlah yang menyebabkan kemitraan gagal. Apalagi kalau mitra mengurus semuanya, SOP kacau. Bahkan, kalau ada mitra yang tidak menjalankan SOP, kami kenakan SP hingga pemutusan kontrak, tidak peduli, meskipun omsetnya bagus,” katanya menandaskan.

Nurul menambahkan, Rocket Chicken mengejar volume, bukan margin. “Kami marginnya tipis, tapi volumenya yang banyak,” ujarnya tegas. Untuk menunjang menu baru, mereka juga rutin riset dan inovasi dengan mempelajari perkembangan merek ayam goreng dari luar yang kemudian dimodifikasi dengan harga terjangkau.

Seperti pelaku bisnis modern lainnya, Rocket Chicken juga memanfaatkan teknologi digital. Mereka mengembangkan aplikasi Rocket Chicken AR untuk virtual membership application, aplikasi interaktif untuk konsumen. Di dalamnya terdapat info promo, pengumpulan poin, dll. Nurul menambahkan, untuk menunjang operasional, Rocket Chicken juga membangun tiga gudang.

Laiknya bisnis, Rocket Chicken juga menghadapi tantangan. Di antaranya, terkait SDM saat pembukaan cabang baru. Pembukaan cabang yang banyak tiap bulannya harus diiringi dengan mencetak supervisor yang harus paham semua teknis di lapangan. “Maka, di training center, kami terapkan people produce people, jadi men-training orang lain minimal seperti diri kita sendiri. Kami sangat menghindari persaingan jabatan yang tidak sehat. Siapa yang lebih baik, naik duluan,” ungkapnya.

Sebagai pemimpin, Nurul mementingkan transparansi. Dia mencantumkan kontak pribadinya di website, bahkan di struk bukti pembayaran. Hal ini dilakukan, katanya, supaya segala permasalahan bisa langsung sampai ke dirinya. “Saya bukan tipe pemimpin yang hanya tahu hasil. Saya ingin tahu masalah apa yang terjadi di lapangan dan ingin menyelesaikannya bersama,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga fokus pada kegiatan sosial. Tiap bulan Rocket Chicken memberikan santunan kepada anak yatim. Yang menarik, setiap ulang tahun Rocket Chicken dan Nurul Atik, diberlakukan makan gratis di beberapa gerai serta acara panggung hiburan, sepeda santai, jalan sehat, donor darah, dan doorprize umroh. Terakhir, sebanyak 22 ribu tiket terjual. “Dari sinilah loyalitas konsumen Rocket Chicken terlihat. 22 ribu untuk acara ulang tahun fried chicken lokal bukan jumlah yang kecil,” ucapnya.

Saat ini Rocket Chicken mampu mengantongi omset Rp 100 miliar per bulan dari seluruh cabang tersebut. Targetnya, tahun 2020 membuka 150 cabang baru. Dari Januari sampai Maret 2020 sudah 52 yang mengantre. Mereka siap menjadi mitra yang membuat Rocket Chicken terus meroket. (*)

Yosa Maulana dan Andi Hana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)