Sasa Inti, Fokus pada Masa Depan

Aldina Bahri, Manajer Merek PT Sasa Inti
Aldina Bahri, Manajer Merek PT Sasa Inti.

Lima puluh dua tahun bukan waktu yang pendek bagi PT Sasa Inti untuk memaknai pertumbuhannya sebagai perusahaan FMCG makanan dan bumbu terpercaya di Indonesia. Sejak didirikan oleh Rodamas pada 1968, Sasa yang merupakan singkatan “Sari Rasa”, sudah memantabkan diri sebagai produk di kategori food seasoning yang konsisten fokus pada masa depan; dengan menciptakan berbagai inovasi produk. Sasa Inti berkomitmen menciptakan kebahagiaan bagi individu dan keluarga.

Aldina Bahri, Manajer Merek PT Sasa Inti, mengatakan bahwa komitmen perusahaan untuk fokus pada masa depan mengandung konsekuensi harus melakukan langkah-langkah strategis yang relevan dengan zaman. Misalnya, ketika menyadari isu kandungan MSG tidak ada habisnya dan memahami realitas yang berkembang --bahwa perilaku konsumen Indonesia mengarah pada kepraktisan dan gaya hidup sehat-- Sasa membuat terobosan dengan menginovasi produk.

Sasa melakukan ekstensi dari food seasoning menjadi produk non-MSG, yaitu food & seasoning mix, mulai dari kaldu siap saji; tepung bumbu serbaguna yang dikembangkan dalam berbagai varian, seperti bumbu pisang goreng, bakwan, ayam goreng, dan seafood; berbagai jenis sambal (condament); santan bubuk; seasoning mix; santan bubuk dengan seasoning mix; hingga yang terakhir adalah santan cair. Total jenderal, Sasa Inti mengembangkan 89 SKU yang terdiri dari produk food seasoning, lima varian tepung bumbu, tiga varian sambal dan saus, 11 varian bumbu seasoning mix, serta santan bubuk dan santan cair.

Langkah berani menggeber produk non-MSG terbukti berhasil melepaskan identitas lama. Kini Sasa mulai dikenal masyarakat luas bukan hanya sebagai perusahaan MSG, melainkan sebagai perusahaan makanan yang lengkap dengan beberapa produk.

“Kami melihat potensi dari perkembangan dan kebutuhan industri di masa sekarang. Market terbesar sekarang ada di usia 20-35 tahun (milenial). Usia tersebut merupakan usia produktif, dan kebanyakan dari mereka adalah first jobber dan keluarga muda yang sudah menjadi decision maker dalam pembelian produk. Kami ingin menyasar market tersebut. Maka, secara komunikasi pun kami bertransformasi guna lebih dekat dengan mereka,” ungkap Aldina panjang lebar.

Dengan mantap ia menambahkan, “Kami menyadari bahwa actual market Sasa sebelumnya, yaitu para ibu, jumlahnya semakin sedikit. Jadi, mau tidak mau kami harus dekat dengan target market yang populasinya meningkat.”

Untuk memayungi langkah dan terobosan beraninya, CEO PT Sasa Inti Rudolf Tjandra memberikan panduan value yang disingkat CARE, yakni Courage, Action-oriented, Respectful, dan Enthusiasm. “Value tersebut membawa Sasa Inti ke sebuah era baru guna selalu relevan terhadap era baru,” kata Aldina. Value tersebut membuatnya terpacu untuk shifting, baik dalam kultur perusahaan maupun personality brand Sasa untuk menyasar konsumen yang lebih muda.

Perubahan komunikasi dan branding Sasa, diakui Aldina, mulai terasa saat ini. Persepsi masyarakat terhadap Sasa selama ini, yang dianggap sebagai produk yang sudah terlalu kuno dan tidak relevan dengan perkembangan zaman, sedikit demi sedikit mulai bergeser. Sasa telah dianggap sebagai brand yang modern, kekinian, dan digandrungi anak muda.

Itulah sebabnya, kini Sasa berani berkolaborasi dengan merek lokal yang digandrungi target pasar di usia produktif, untuk menyetarakan positioning mereknya. Salah satunya, dengan Haluu World (instalasi seni di mal untuk booth foto). “Kami juga berkolaborasi dengan Goods Dept, kemudian dengan makeup DearMe Beauty,” cerita Aldina dengan bangga.

“Video kemerdekaan kami di tahun ini mengambil tema tentang kebebasan memasak. Dalam konteks yang diusung Sasa, kami berusaha menyampaikan pesan bahwa anak-anak muda yang merupakan target market Sasa bebas memasak apa pun dengan cara apa pun selama ada Sasa. Video kampanye ini meraih engagement tinggi di media sosial,” kata Aldina berbunga-bunga.

Selain itu, dari hasil brand health check yang dilakukan secara berkala, diperoleh gambaran bahwa persepsi terhadap Sasa kini berubah. “Di tahun 2019, brand kami dianggap kuno dan terlalu turun-temurun. Sekarang persepsi brand kami bergeser. Sasa sudah lebih premium, dekat dengan anak muda,” Aldina memamerkan.

Yang paling menggembirakannya, dari segi bisnis Sasa berhasil mempertahankan posisi sebagai pemimpin di kategori MSG, disusul produk Sasa lainnya. Lalu, pertumbuhan bisnisnya pun berhasil melampaui pertumbuhan industri.

Memang, diakui Aldina, dengan capaian tersebut, bukan berarti tugas sudah selesai. Justru tanggung jawab Sasa kini semakin berat, yakni harus dapat terus menjaga eksistensi produknya, bahkan di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. Era kenormalan baru mengharuskan Sasa bisa terus bertahan dan beradaptasi dengan keadaan baru. Hal ini, menurutnya, tentu didukung inovasi dan pengembangan yang terus dilakukan agar dapat menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar.

Di luar semua itu, Sasa Inti telah menyiapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Juga berinovasi dalam bekerja, berkomunikasi, dan melayani konsumen.

“Dalam hal post-Covid strategy, visi Sasa adalah berupaya sebagai perusahaan yang bisa keluar dari kesulitan ini, membantu meringankan beban negara dan bangsa dengan mempekerjakan masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Mereka yang kompetensinya mumpuni ini banyak berhenti bekerja di masa krisis Covid-19. Tahun depan pun kami akan ada new product launch,” kata Aldina percaya diri. (*)

Dyah Hasto Palupi/Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)