Terobosan Sri Harsi Teteki di Bio Farma

Sri Harsi Teteki, Direktur Pemasaran, Riset, dan Pengembangan PT Bio Farma.

Pandemi Covid-19 telah membuat kalangan perusahaan farmasi di Indonesia menjadi sibuk. Termasuk, BUMN farmasi PT Bio Farma. Bahkan, karena selama ini Bio Farma berkiprah sebagai penyedia aneka vaksin, Pemerintah Indonesia tampaknya juga menaruh harapan besar pada BUMN yang berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat, ini untuk bisa memberikan solusi atas pandemi ini.

Sri Harsi Teteki, Direktur Pemasaran, Riset, dan Pengembangan PT Bio Farma, mengakui adanya tantangan ini. Namun, ketimbang memandangnya sebagai beban, Teki --begitu sapaannya-- lebih suka melihatnya sebagai peluang. “Ini yang selalu saya sampaikan ke tim saya,” ujar profesional yang menduduki posisinya sejak 2018 ini. “Kali ini, kami diberi amanah untuk bisa menghasilkan solusi pengobatan dan pencegahan,” ujarnya lagi.

Menurut Teki, bila vaksin Covid-19 yang ikut dikembangkan Bio Farma berhasil, tentu akan membuat masyarakat makin percaya. “Jangan lihat ini sesuatu yang berat, tapi lihat sisi positifnya,” katanya. “Ini golden moment buat Bio Farma,” ia menegaskan.

Teki mencontohkan, tanpa adanya pandemi ini, mungkin Bio Farma tak pernah terpikir untuk mengembangkan produk RT-PCR, yang resminya bernama RealTime PCR Test Kit BioCov-19. Apalagi, sampai memikirkan membuat laboratorium bergerak yang disebut Mobile Laboratory BSL-3.

Bagi perempuan yang sebelumnya memimpin Telkom Medika ini, menjadi pemasar di Bio Farma punya tantangan tersendiri. Pertama, harus bisa mempertahankan kepercayaan dari para stakeholder. Termasuk, harus mampu meningkatkan penjualan serta pangsa pasarnya; dalam hal ini, Bio Farma juga mesti bersaing dengan pemain asing yang masuk ke Indonesia. Kedua, harus bisa mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pencegahan penyakit, yang salah satunya dengan menggunakan vaksin.

Di bisnis vaksin, Teki yakin Bio Farma siap bersaing. Ia mencontohkan, perusahaannya sudah memproduksi dan memasarkan vaksin typhoid, dengan teknologi yang lebih bagus dan punya durasi perlindungan (imunogenisitas) yang lebih lama. Vaksin typhoid lainnya hanya bisa melindungi dalam waktu setahun (sehingga pengguna harus disuntik ulang), sedangkan produk Bio Farma bisa memberikan perlindungan 3-5 tahun.

Teki mengatakan, divisi pemasaran yang dipimpinnya selalu mendorong untuk melahirkan inovasi berupa produk-produk baru dengan nilai tambah, baik untuk sektor swasta maupun pemerintah. “Sebagai contoh produk RT-PCR BioCov-19 itu. Saat itu saya ajak, ayo kita bikin, alhamdulillah disambut dengan semangat,” katanya. Divisi pemasaran pun, tambahnya, telah membangun banyak kemitraan, baik di bidang R&D, produksi, maupun distribusi.

Menurut Teki, ada sejumlah terobosan penting yang dilakukannya bersama tim. Pertama, membangun Bio Call Center, yakni sistem call center untuk semua pihak yang ingin mendapatkan info lengkap mengenai produk dan layanan Bio Farma.

Kedua, membuat New Distribution Scheme, yang memudahkan monitoring ketersediaan produk vaksin di seluruh Indonesia, yang selanjutnya dapat menjamin ketersediaan stok produk di daerah. Ketiga, meluncurkan Immunicare (2019), layanan imunisasi dengan konsep marketplace, sehingga tersedia lebih banyak lokasi imunisasi yang aman, nyaman, dan terjamin keaslian vaksinnya.

Selain itu, juga membangun kolaborasi dengan BUMN lainnya. Misalnya, dengan Telkom untuk dukungan teknologi infromasinya, dan dengan Pertamina, untuk penyediaan bahan baku obat, karena Pertamina punya bahan baku turunan dari minyak bumi.

Nah, terkait pandemi Covid-19, tampaknya aktivitas Bio Farma makin meningkat. Antara lain, seperti sudah disinggung, mengembangkan dan memproduksi RT PCR Test Kit BioCov-19. Produk yang sudah tersedia di pasar ini diluncurkan secara resmi oleh Presiden Jokowi pada 20 Mei 2020, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Waktu itu Bio Farma menyiapkan 100 ribu test kit, yang didonasikan secara gratis buat masyarakat lewat gerakan #IndonesiaPastiBisa. Selesai program donasi, Bio Farma mulai memproduksi rutin PCR test kit ini. “Kalau dijumlah, kira-kira sampai nanti di akhir Juli 2020 sudah mencapai 500 ribu test kit,” kata Teki.

Bio Farma pun berinisiatif mengembangkan Mobile Lab BSL-3. Hingga saat ini, baru dikembangkan satu unit. Ihwal idenya, kata Teki, pihaknya melihat di Indonesia Lab BSL-3 yang siap dipakai hanya ada 50 unit. Tentu, itu tidak cukup untuk melayani penduduk Indonesia yang banyak dan tersebar di berbagai daerah. “Jadi, kami dapat ide untuk mendekati titik-titik yang membutuhkan,” ujar adik kandung Menteri Keuangan Sri Mulyani itu.

Istilah BSL-3, singkatan dari bio safety level-3. mengacu pada pemeriksaan sampel-sampel penyakit yang menular berbahaya. Risikonya tinggi. Kalau sampai “bocor”, misalkan virusnya keluar, mungkin saja mengontaminasi orang yang ada dalam lab atau mengancam lingkungan sekitarnya. Di bawahnya ada level-2 dan level-1, yakni untuk pemeriksaan penyakit yang tidak terlalu berbahaya.

Bio Farma merasa bisa mengembangkan Mobile Lab BSL-3 karena selama ini sudah memiliki lab BSL-3 dalam gedung. “Jadi, kami sudah familier dengan BSL-3,” ujar Teki. Namun, ia mengakui merupakan hal menantang membangun mobile lab selevel ini. “Kami harus bisa menyulap kontainer 40 feet untuk bisa memenuhi standar bangunan lab BSL-3,” kata Teki. Di antaranya, harus bisa mengatur agar semua alat yang dibutuhkan bisa masuk, mengatur suhu dan tekanan dalam ruang tetap stabil meski labnya bergerak atau berpindah tempat, dan yang tak kalah penting harus mengatur pembuangan limbahnya.

Inovasi lain terkait Covid-19 adalah terapi plasma, yang merupakan bagian dari aspek pengobatan pasien. “Kami bekerjasama dengan RSPAD dan Lembaga Eijkman,” ujar Teki. Clinical trial dari Fase-1 sudah selesai. Waktu itu memakai plasma dari 10 donor, yakni pasien Covid-19 yang sudah sembuh. Hasilnya sudah bisa dipakai oleh pasien yang terdampak berat hingga sedang. Sekarang sedang berlanjut ke Fase-2 dan Fase-3 yang melibatkan lebih banyak lembaga, seperti Kemenristek dan Litbang Kesehatan. Perkiraan kasarnya, produk terapi plasma ini sudah bisa digunakan dalam 2-3 bulan lagi.

Peran penting Bio Farma lainnya tentu saja pada aspek pencegahan, yakni menghadirkan vaksin yang dibutuhkan. Menurut Teki, dalam hal ini ada dua skema yang diterapkan: jangka pendek-menengah dan jangka panjang.

Untuk skema jangka pendek-menengah, Bio Farma bekerjasama dengan Sinovac, perusahaan vaksin swasta asal China, dan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations), lembaga internasional yang berpusat di Norwegia.

Teki menyebutkan, dari kedua lembaga tersebut, Bio Farma mendapat dukungan source bulk untuk membuat vaksinnya. “Kami memakai bulk yang sudah siap pakai. Jadi, kami nanti tinggal filling karena kami sudah punya fasilitasnya. Karena itu, skemanya lebih singkat,” ungkapnya. Untuk skema ini, pada Juli 2020 memasuki uji klinis Fase-3 dan diperkirakan selesai awal 2021. Jadi, pada kuartal I/2021 vaksinnya sudah siap diproduksi.

Untuk skema jangka panjang, Bio Farma menggandeng Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. “Mulai dari bibitnya dikembangkan sendiri. Jadi, source-nya dari Indonesia,” ujar Teki. Ini merupakan pengembangan vaksin asli Indonesia, sehingga, dikatakannya, TKDN-nya bisa 100%. Hanya saja, diperkirakan baru selesai dalam 2-3 tahun ke depan. (*)

Joko Sugiarsono & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)