Meneropong Bisnis ASI Booster Herbal Bikinan Uung

Uung Victoria Finky, founder ASI Booster Mom Uung.

Pengalaman kesulitan memberikan air susu ibu (ASI) menginspirasi Uung Victoria Finky untuk meluncurkan ASI Booster Mom Uung. Produk ini merupakan suplemen untuk membantu para ibu yang kesulitan memproduksi ASI. Aneka ragam bahan herbal, di antaranya ekstrak daun kelor dan ekstrak ikan gabus, diramu menjadi kapsul siap minum. Bahan-bahan ini dikenal masyarakat bisa meningkatkan volume dan kualitas ASI. Ide meracik bahan-bahan ini berasal dari informasi di jurnal ilmiah. Di luar negeri, ekstrak daun kelor dan ikan gabus telah digunakan sebagai bahan ramuan untuk meningkatkan produksi ASI.

Namun, kedua bahan itu malah jarang dimanfaatkan sebagai produk herbal untuk ASI di Indonesia. Uung berdiskusi dengan suaminya, Jonathan Handoko (CEO Mom Uung), mengenai pemanfaatan bahan herbal untuk ASI. Diskusi ini ditindaklanjuti dengan memproduksi ASI booster. “Rata-rata ASI booster yang lain menggunakan protein nabati, seperti daun-daunan dan kacang-kacangan. Di Mom Uung kami tambahkan protein hewani untuk mengedukasi masyarakat mengenai keseimbangan gizi untuk ibu menyusui,” tutur Uung.

Pasangan suami-istri ini bersepakat untuk memproduksi ASI booster yang fokus pada protein hewani. Produknya dirancang berupa kapsul dan seluruh bahan berasal dari bahan alami agar mudah dikonsumi dan menyehatkan ibu dan bayinya. Sebelum produknya dirilis, Uung mendaftar dan mengujinya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Majelis Ulama Indonesia untuk mengantongi sertifikasi produk natural dan sertifikasi halal.

ASI Booster Mom Uung dirilis pada April 2019. Di fase awal, penjualan lebih condong melalui media sosial, yakni Instagram, dan aplikasi pesan singkat, WhatsApp. Peminat makin lama makin membludak. Ini memantik ide bisnis Uung untuk menjual produknya di e-commerce pada September 2019.

Ia pun membuka toko ASI Booster Mom Uung (official store) di Shopee, Tokopedia, Lazada, dan Blibli. “Penjualan terbesar dikontribusi dari penjualan di Shopee, mungkin karena identik dengan market-nya ibu-ibu. Tokopedia juga sudah mulai tumbuh, tapi terbesar tetap di Shopee,” ungkap Uung. Penjualan di seluruh e-commerce itu sebesar 70% dari total penjualan ASI Booster Mom Uung.

Penjualan laris manis ini diiringi dengan rutinitas Uung untuk mengedukasi publik mengenai ASI dengan menggandeng para pakar di sesi diskusi virtual pada live Instagram yang digelar setiap pekan, acara Shopee Live dan kegiatan lain yang diadakan oleh e-commerce, serta kampanye edukasi di TikTok. Di e-commerce, produk buatan Uung yang dijual adalah ASI booster 60 kapsul dan 30 kapsul, pompa ASI, serta ASI bag. ASI Booster Mom Uung 60 kapsul seharga Rp 120 ribu dan 30 kapsul Rp 70 ribu. Dalam sebulan, volume transaksi sekitar 30 ribu kali.

Tingginya minat konsumen direspons Uung dan Jonathan untuk mendistribusikan produknya ke apotek atau baby shop. Pasutri pengusaha ini pun merekrut karyawan. Kini karyawannya total 50 orang, di Jakarta dan Surabaya. Mereka mengelola penjualan dan layanan konsumen di toko online dan konvensional.

Uung menyediakan layanan paripurna untuk memanjakan konsumen. Misalnya, menghubungi konsumen mengenai perkembangan ASI setelah mengonsumsi ASI Booster Mom Uung; mengganti produk yang baru jika produknya tidak sempurna, seperti kapsul ada yang robek; dan menawarkan biaya pengiriman gratis.

Ibu-ibu menyusui kerapkali mencurahkan hatinya apabila volume ASI-nya seret. Uung mencermati gejala ini sebagai karakter ibu menyusui yang acapkali didera kelelahan menangani urusan rumah tangga. Ia menyediakan layanan konsultasi gratis selama 24 jam.

“Pelayanan diutamakan, value produk kami harus lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual produk. Value produk itu termasuk kualitas produk Mom Uung, pelayanannya, konsultasi gratis, itu lebih tinggi dibandingkan dengan harganya,” Uung menjabarkan. Rencananya, layanan ini bermitra dengan dokter.

Saat ini, tim konsultasi diawaki lima orang yang jam kerjanya dibagi dalam tiga shift, pukul 06.00 sampai 24.00 WIB. “Kami merekrut ibu menyusui atau yang punya pengalaman menyusui untuk menjadi konsultan. Kami juga mengedukasi mereka, misalnya ada webinar atau seminar kami membiayai mereka untuk untuk belajar di webinar dan mendaftarkan kursus ke Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia agar mereka lebih percaya diri dalam memberikan layanan,” papar Uung.

Beberapa anggota tim konsultan ada yang mengundurkan diri karena waktunya sangat tersita untuk mengurus bayi dan suami. Kendati demikian, kualitas layanan konsultasi ini tetap terjaga apik. “Tim konsultan bersiaga melayani konsumen. Saat ini sudah ada 40 ribu ibu menyusui yang berkonsultasi di Mom Uung. Itu gratis, dan bahkan dari 40 ribu itu belum tentu semuanya membeli produk kami. Karena, tujuan kami memang untuk berbagi pengetahuan. Jadi, strategi kami adalah memberikan pelayanan yang sebaik mungkin dan terus berinovasi, dari situ transaksi dan trust dari konsumen akan mengikuti,” Uung menuturkan.

Edukasi konsumen lainnya adalah menyampaikan informasi untuk membedakan produk asli dan palsu. “Kami sempat beberapa kali ganti packaging. Dulunya botol biasa sehingga sempat dijiplak sama persis. Maka, kami terus berinovasi dan mengedukasi konsumen bahwa produk original kami logonya sudah 3-D dan terlaminasi. Jadi, kalau diraba, timbul. Ada spot UV-nya juga, jadi kalau yang mau meniru, akan sulit. Mereka butuh bujet lebih besar untuk meniru produk kami,” kata Uung. (*)

Vina Anggita & Vicky Rachman

www.swa..co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)