Akulaku, Berdayakan Pembayaran Kredit Nominal Kecil dengan Teknologi Digital

Akulaku Group hadir di Indonesia sejak pertengahan 2016, dimotori dua warga negara China, William Li dan Gordon Hu, untuk menyediakan pelayanan pinjaman konsumen. William adalah mantan Investment Manager Ping An Insuransi Company. Latar belakang pendidikannya adalah bidang hukum. Sementara Gordon Hu seorang software engineer. Ia pernah bekerja di berbagai perusahaan ternama di China, seperti Tencent, Oracle, HuaTai Securities, dan CITIC Securities.

Selain di Indonesia, Akulaku sebenarnya juga hadir di sejumlah negara lain, seperti Filipina, Vietnam, dan Malaysia. William Li, yang menjabat sebagai CEO Akulaku Group, mengatakan, misi Akulaku adalah memberdayakan 50 juta konsumen yang masuk dalam kategori underserved di 10 negara dengan menyediakan layanan keuangan digital yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih nyaman di tahun 2025. Selain itu, Akulaku juga membangun jaringan sistem pembayaran kredit dan debit virtual yang baru untuk konsumen yang underbanked dan para merchant.

Kehadiran Akulaku mendapat respons yang baik dari konsumen Indonesia. Presiden Direktur Akulaku Finance Indonesia, Efrinal Sinaga, mengungkapkan, Akulaku Finance mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan lebih dari 40% di sepanjang 2020 menjadi Rp 5,1 triliun. Sementara pada semester I/2021, Akulaku telah menyalurkan pembiayaan hampir menembus Rp 4,5 triliun. “Akulaku Finance menargetkan penyaluran pembiayaan dapat tumbuh hingga 50% secara tahunan (year on year) pada tahun ini,” ia menambahkan.

Efrinal optimistis target tersebut bisa tercapai karena semakin kuatnya adaptasi layanan keuangan digital oleh masyarakat, adanya pergeseran tren yang mengarah ke penggunaan layanan yang mengedepankan aspek teknologi, cashless, dan contactless. Selain itu, semakin gencarnya program vaksinasi Covid-19 diharapkan akan semakin mempercepat pemulihan perekonomian Indonesia dan meningkatkan volume pembiayaan perusahaan.

Menurut Efrinal, kenaikan trafik dari berbagai platform e-commerce saat pandemi turut memicu konsumen untuk lebih sering bertransaksi menggunakan layanan pembayaran digital. Adanya paylater dan cicilan, melalui Akucicil, menjadi opsi pembayaran belanja online, yang membantu konsumen agar tidak mengganggu cash flow kebutuhan sehari-hari.

“Data internal dari sisi merchant menunjukkan bahwa penggunaan Akucicil sebagai salah satu metode pembayaran checkout e-commerce bisa meningkatkan pelanggan/user baru sebanyak 30%, dan rata-rata transaksi pun meningkat sebesar 40%,” tuturnya.

William Li menjelaskan, Akulaku menyatukan beberapa kunci utama dari industri fintech yang lebih mapan, keunggulan lembaga keuangan konvensional, serta pertumbuhan pesat yang didorong oleh perusahaan internet ke dalam posisi Akulaku sebagai platform regional yang memiliki akses ke pangsa pasar yang memiliki potensi besar di berbagai negara.

“Akulaku memberdayakan pembayaran kredit nominal kecil yang memiliki frekuensi tinggi melalui teknologi digital. Dengan demikian, kami terus berusaha menjadi penyedia layanan kredit dengan biaya rendah serta paling inklusif untuk lebih dari 50% transaksi bisnis di Asia Tenggara pada masa mendatang, yang kami prediksi akan dilakukan menggunakan metode kredit,” kata William.

Sejak awal kehadirannya, Akulaku sudah menarik perhatian investor untuk menanamkan modalnya di fintech ini. Di tahun 2016, Arbor Ventures menginvestasikan US$ 20 juta (Seri A) ke Akulaku. Selanjutnya, pendanaan Seri B senilai US$ 30 juta pada Juli 2017 dan US$ 70 juta pendanaan Seri C pada Agustus 2018 dari beberapa investor. Selain itu, pada Januari 2019 Akulaku mendapatkan pendanaan Seri D senilai US$ 100 juta dari Ant Group. Jadi, total dana yang mengucur ke Akulagu Group mencapai US$ 220 juta.

William menambahkan, Akulaku sedang membangun ekosistem keuangan digital yang sepenuhnya mobile untuk kawasan Asia Tenggara. Ekosistem ini akan dilengkapi dengan rangkaian produk dan layanan keuangan yang lengkap. Layanan keuangan yang dapat digunakan konsumen di antaranya layanan pembiayaan konsumen, perbankan, investasi, dan asuransi. Bahkan, di pertengahan 2021, Akulaku juga berencana menambah kepemilikan sahamnya di Bank Neo Commerce, yang akan menempatkan posisinya sebagai pemegang saham pengendali di bank tersebut.

“Ekosistem teknologi Akulaku sedang menyiapkan fondasi bagi kawasan Asia Tenggara untuk dapat melewati tahapan layanan perbankan konvensional dan langsung masuk ke layanan keuangan digital yang diharapkan dapat mendorong pemulihan perekonomian kawasan Asia Tenggara,” kata William. Dia pun berencana memperluas layanan Akulaku ke wilayah lain dengan bekal teknologi layanan keuangan mutakhir dan solusi perbankan yang inovatif, dan berharap dapat membantu lebih banyak konsumen mengubah hidup mereka melalui layanan keuangan. (*)

Anastasia A.S. dan Kusnan M. Djawahir

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)