Clubhouse, Sensasi Sang Pendatang Baru

Meski seumur jagung, aplikasi ini melejit menjadi unicorn tercepat. Apa faktor suksesnya?

Paul Davidson dan Rohan Seth, founder Clubhouse (Foto: the4thquarterpush.com).
Paul Davidson (kiri) dan Rohan Seth(kanan), founder Clubhouse (Foto: the4thquarterpush.com).

Mulanya seperti biasa saja. 31 Januari 2021, suami-istri Sriram Krishan dan Aarthi Ramamurthy mengundang Elon Musk di ruang milik mereka yang bertitel The Good Time Show dalam aplikasi Clubhouse. Topiknya, “Special Episode of Good Time with Elon Musk”.

Sriram sebelumnya bekerja di Twitter, Facebook, dan Snap, sementara Aarthi adalah Direktur Produk Facebook.

Perbincangan yang diampu keduanya berlangsung menarik. Lalu, tambah menarik ketika sebagai tamu, Musk mengundang Vladimir Tenev, CEO Robinhood, di penghujung acara. Musk menanyai lelaki kelahiran Bulgaria itu seputar isu-isu yang berlangsung antara Robinhood dan Wall Street Bets.

Yang tak disangka adalah tak lama setelah itu, Clubhouse menjadi buah bibir. Sehari setelah Musk muncul, sedikitnya ada 3,5 juta unduhan untuk aplikasi ini. Terlebih beberapa hari kemudian setelah Musk menjadi bintang tamu, giliran bos Facebook, Mark Zuckerberg, diundang Sriram dan Aarthi menjadi tamu di The Good Time Show. Saat itu Mark bicara tentang divisi Reality Labs Facebook yang tengah membuat produksi produk virtual reality (VR) dan augmented reality (VR). Seusai Mark bicara, jumlah unduhan melesat makin tinggi.

Mengacu pada perusahaan riset analitik App Annie, Clubhouse menjadi nomor wahid di App Store pada lebih dari 30 negara. Itu artinya aplikasi ini lebih populer ketimbang Instagram, TikTok, Zoom, atau WhatsApp. “Pada 1 Februari 2021, aplikasi ini memiliki lebih dari 3,5 juta unduhan global dan 8,1 juta pada 16 Februari 2021, dan dengan cepat menarik perhatian di Inggris, Jerman, Jepang, Brasil, serta Turki,” kata Lexi Sydow, analis App Annie.

Jumlah itu rasanya akan lebih tinggi saat tulisan ini terbit. Lexi sendiri tampaknya belum mencatat bahwa demam Clubhouse juga merangsek ke Indonesia. Ya, selang seminggu setelah bos Tesla mengguncang dunia medsos lewat Clubhouse, popularitas aplikasi ini juga mendarat di Indonesia. Beberapa kali tagar #Clubhouse nangkring menjadi trending topic di Twitter negeri +62 (Indonesia).

Dalam pantauan KompasTekno (18 Februari 2021) sejumlah orang beken atau figur publik di Tanah Air sudah mulai menggunakan aplikasi ini untuk bincang-bincang, berdiskusi, atau sekadar ngobrol santai dengan beragama topik, mulai dari politik, startup, hingga dunia perfilman. Beberapa nama yang mencuat sebagai penggunanya di antaranya adalah mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Indonesia, Wishnutama Kusubandio, yang hadir dalam diskusi berjudul “Ngobrol Seru Bahas Startup" di Clubhouse pada 12 Februari 2021. 

Selain Wishnutama, sesi bincang-bincang itu juga dihadiri Willson Cuaca (co-founder East Ventures) dan William Tanuwijaya (pendiri Tokopedia). Beberapa pelaku industri perfilman Indonesia juga memanfaatkan aplikasi ini untuk berdiskusi, seperti Joko Anwar, Ernest Prakasa, dan Dennis Adishwara.

Yang unik adalah ketika YouTuber Arief Muhammad menggelar bincang-bincang berjudul “Kenapa orang kaya pakai sendal dalam rumah?” Sesi ini dihadiri sederet orang beken seperti William Tanuwijaya, Axton Salim (Direktur Indofood), dan Henry Riady (anak James Riady). Di luar itu, masih banyak pesohor yang membuat ruang ngobrol di Clubhouse.

Clubhouse sebenarnya tergolong aplikasi yang baru nongol. Muncul April 2020, Clubhouse adalah aplikasi jejaring sosial berbasis audio yang dikembangkan oleh Paul Davidson dan Rohan Seth, mantan karyawan Google. Di dalam aplikasi Clubhouse, terdapat ruang virtual di mana Anda bisa masuk dan mendengarkan ataupun berpartisipasi dalam percakapan tentang topik tertentu. Anda juga bisa membuat ruangan dengan topik yang ditentukan sendiri. Syaratnya, Anda harus punya iPhone karena aplikasi ini baru tersedia di iOS. Syarat lain: Anda harus diundang untuk masuk ke room tertentu.

Clubhouse diluncurkan di bawah bendera Alpha Exploration Co. Paul dan Rohan menggambarkan aplikasi besutan mereka sebagai “invitation-only audio-chat social media app”.

Diluncurkan di masa pandemi, bisa dikatakan Clubhouse adalah produk pemenang Covid-19. Hanya sebulan setelah meluncur dan diunduh 1.500 orang, Clubhouse mendapat injeksi seri A sebesar US$12 juta dari Andreessen Horowitz. Setelah itu, tanpa dinyana, apalikasi ini terus merangsek. Desember 2020, nilainya mencapai US$100 juta, dan setelah “Musk Effect”, nilainya melejit menjadi US$1 miliar. Kurang dari satu tahun, aplikasi ini telah menjadi unicorn. Kejora di tengah pandemi.

Mengapa ia menjadi istimewa?

Elon Musk dan Mark Zuckerberg mempromosikan Cubhouse (Foto: financialtimes.com).

Sebenarnya, kalau kita perhatikan, tidak ada hal yang begitu luar biasa ditinjau dari sisi teknis. Jika dibandingkan Zoom yang bisa menampilkan video serta teks, Clubhouse hanya memperdengarkan suara. Artinya, ia minus. Ia mirip dengan podcast (siniar). Bedanya, kalau di siniar, orang hanya duduk diam untuk mendengar suara para host yang bicara, entah itu monolog atau diskusi, sementara pada Clubhouse, orang berpeluang untuk diberi kesempatan bicara oleh si empunya ruangan.

Kemudian, secara global, sebenarnya aplikasi obrolan audio telah banyak tersedia  seperti Dizhua, Tiya, dan Yalla. Kalau begitu, mengapa Clubhouse menjadi demikian populer? Mengapa kehadirannya dianggap menjadi menjadi pemicu tren baru dalam aplikasi?

Ada beberapa asumsi yang menyebut sebagai faktor-faktor kesuksesan Clubhouse. Pertama, momentum. Lahir di tengah pandemi ketika orang-orang banyak terkurung di rumah, terpisah, sehingga membuat sebagian orang merasa teralienasi, menjadikan Clubhouse alternatif keluar dari kesumpekan.

Memang ada Zoom yang membuat orang terkoneksi satu sama lain di luar medium komunikasi lain seperti WhatsApp, Facebook Messenger, atau Face Time. Namun, Zoom sepertinya hanya urusan pekerjaan yang serius: rapat demi rapat. Atau webinar yang memang menambah ilmu, tetapi membuat tambah puyeng bagi sebagian orang sehingga merasa mabuk Zoom karena dalam sehari berpindah-pindah ruangan Zoom.

Podcast juga sudah ada sebelumnya. Selain menawarkan pilihan untuk mendengarkan topik yang sekiranya cocok dan menarik, platform siniar (seperti Spotify) juga bisa melepas kejenuhan. Akan tetapi, dalam ruang ini, pendengar hanya pasif. Cuma diam mendengar orang ngoceh. Persis seperti mendengar radio tradisional, hanya diakses secara digital.

Inilah faktor kedua yang membuat Clubhouse sukses: kombinasi. Aplikasi ini didesain dengan mengombinasikan ruangan conference call ala Zoom dan radio. Clubhouse memungkinkan pengguna membuat dan bergabung dalam satu ruang konferensi virtual untuk mengobrol dengan orang lain. Pengguna dapat bergabung dan meninggalkan panggilan kapan saja. Juga bisa membuat ruangan sendiri, lalu menjadikannya semacam aula rapat umum.

Faktor ketiga adalah eksklusivitas. “Satu hal sentral yang menarik dari Clubhouse adalah sistem invite-only yang membuat orang merasa memasuki klub eksklusif,” ujar Robert Glazer, pendiri dan CEO Acceleration Partners.

Dalam Clubhouse, pihak host dan moderator yang diberi hak prerogatif untuk bicara mengontrol alur perbincangan. Mereka yang menentukan siapa yang akan bicara, dan kapan. Sebagai pendengar, Anda berhak dan bisa menggunakan fungsi “raise your hand”, tetapi moderator yang akan menentukan siapa yang bicara. Jika Anda di-follow moderator atau host, avatar Anda akan ditempatkan di posisi atas audiens lain. Well… bukankah itu bikin bangga?

Namun, dibandingkan tiga faktor itu, yang keempatlah yang disebut-sebut mendongkrak popularitas Clubhouse: selebritas. Pada aplikasi-aplikasi pendahulunya, seperti Dizhua dan Yalla, para pengguna yang masuk dilaporkan hanya untuk mencari kenalan lalu berkencan. Tak lebih dari itu.

Ini berbeda dibandingkan Clubhouse. Desember 2020, jumlah unduhan aplikasi ini 600 ribu. Nama-nama tenar, seperti MC Hammer, Van Jones (komentator politik), Shaka Sengor (penulis dan aktivis), dan Ben Horowitz (venture capitalist) turut membuat aplikasi anyar ini banyak diunduh karena orang ingin eksklusif berada satu klub dengan orang tenar. Puncaknya ya… saat Elon Musk muncul dihadiri 5.000 orang. Clubhouse meledak.

Faktor selebritas ini tak bisa dielakkan karena kalau eksklusif saja tetapi tanpa faktor figur yang ternama dan menjual, Clubhouse mungkin akan menjadi aplikasi yang biasa saja: tempat orang nongkrong berdiskusi tanpa video dan teks. Karena, mengacu pada Robert Glazer, perasaan eksklusif itu akan bertambah berlipat-lipat dan menimbulkan semacam gengsi pada seseorang yang merasa satu klub dengan orang-orang top untuk mendiskusikan sesuatu.

Itulah faktor utama yang membuat Clubhouse melambung sehingga tanpa bisa ditahan melejit menjadi unicorn tercepat.

Pertanyaan bagi Clubhouse kini adalah “what next”? Apakah mereka bisa melakukan scalling-up?

Ini pertanyaan menarik karena sejumlah pihak khawatir Clubhouse hanyalah one wonder season alias kejutan sesaat. Maklum, dibandingkan dengan para raksasa, aplikasi yang dalam sebulan punya 8 juta active user ini masih liliput: Facebook, 2,8 miliar pengguna aktif tiap bulan, termasuk Instagram dan WhatsApp; TikTok, 1 miliar; Twitter, 330 juta; dan Snapchat, 249 juta.

Sejauh ini, para pendiri Clubhouse sendiri menyatakan mereka telah menyiapkan fitur-fitur baru yang akan rilis, seperti tippingtickets atau subscriptions, untuk membayar kreator secara langsung di aplikasi. Di luar itu, mereka juga akan membuka akses sehingga aplikasinya bisa diunduh di Android. Lalu, Andreessen Horowitz tengah mencari pendanaan baru. Ngomong-ngomong, di tengah popularitas aplikasinya, Paul dan Rohan sendiri belum sering tampil untuk bicara.

Bagaimana perjalanan Clubhouse tentunya masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, Facebook dan Twitter tengah mengembangkan fitur chat audio seperti yang menjadi andalan Clubhouse di layanan mereka. Twitter, contohnya, sejak Desember 2020 sedang menguji coba fitur bernama Spaces, yang memungkinkan pengguna berbagi klip audio dalam tweet serta direct message (DM). Spaces akan diunduh di Android.

Apa pun yang akan terjadi kelak, setidaknya Clubhouse telah membuktikan dirinya menjadi pemenang di tengah pandemi lewat kejeliannya membangun empat faktor sukses seperti yang disebutkan di atas. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)