Duet Penggebrak Pasar Modal

Dengan mimpi mendemokratisasikan bursa saham, dua sahabat ini membuat aplikasi yang digemari. Bahkan, sempat menjadi alat perlawanan investor ritel terhadap para bandar besar.

Vladimir Tenev dan Baiju Bhatt, founder Robinhood, aplikasi digital perdagangan saham dan kripto.
Vladimir Tenev dan Baiju Bhatt, founder Robinhood, aplikasi digital perdagangan saham dan kripto.

Namanya mengingatkan pada legenda dari tanah Britania: Robin Hood. Namun, ini bukan tentang sang pemanah jagoan dari hutan Sherwood yang hidup di abad ke-13 Masehi saat Inggris dipimpin Raja Richard, yang malang melintang merampok orang kaya untuk membagikannya kepada kaum papa. Yang satu ini ditulis secara digabung: Robinhood. Ia adalah aplikasi digital perdagangan saham dan kripto. Tak ubahnya broker.

Dalam sebulan terakhir, Robinhood menjadi pembicaraan kalangan investor. Ini tak lepas dari aksinya di lantai bursa. Akhir Juli 2021, Robinhood Markets Inc. sebagai pemilik aplikasi ini sukses melakukan IPO di Nasdaq. Dana segar sebesar US$ 2,1 miliar berhasil dikantonginya.

Kisah Robinhood adalah jalinan cerita dua anak muda cerdas, keturunan imigran: Vladimir Tenev dan Baiju Bhatt. “Kami hanya anak-anak yang tumbuh di Virginia, belajar fisika di Stanford, dan kami sama-sama anak imigran karena orang tua belajar Ph.D,” kata Tenev (35 tahun). Keluarga Tenev dari Bulgaria, sementara Bhatt (37 tahun) datang dari India. Mereka bertemu di Universitas Stanford, musim panas 2005, sewaktu mengambil studi matematika.

Jalan mereka sempat terpisah setelah selesai dari Stanford di tahun 2008. Tenev, yang pindah ke Amerika Serikat di usia lima tahun dan anak seorang staf Bank Dunia, lalu mencoba mengambil Ph.D matematika di University of California, Los Angeles (UCLA). Adapun Bhatt bekerja serta mencoba merintis bisnis sendiri.

Dua sahabat yang menjadi teman sekamar saat di Stanford ini seakan bakal berpisah jalan selamanya selepas lulus di tahun 2008 itu. Namun, takdir berkata lain. Tenev drop-out dari UCLA di tahun 2011. Setelah itu, dia menemui kawan karibnya untuk turut mengadu nasib menjadi entrepreneur.

Sewaktu Tenev memutuskan menghentikan kuliahnya, AS dan belahan dunia lain tengah masuk dalam masa transisi. Krisis keuangan menghempas banyak perusahaan seperti Lehmann Brothers. Sementara itu, terjadi gerakan Occupy Wall Street ketika muncul tudingan bursa mengambil untung dari sistem yang tidak seimbang. Gerakan yang meletus pada 17 September 2011 ini memprotes kesenjangan ekonomi dan sosial, terutama menuding kerakusan sektor keuangan. Mereka meneriakkan slogan “We are the 99%” yang merujuk ketidaksetaraan kekayaan antara kaum miskin dan orang-orang yang kaya serta berkuasa, yang berjumlah 1% dari populasi AS.

Di tengah situasi transisi dan pemulihan luka ekonomi seperti itu, Tenev dan Bhatt mendapat ide. Keduanya kemudian sepakat melahirkan Robinhood di tahun 2013. Ini adalah nama legenda tentang orang yang mengambil harta orang kaya, lalu membagikannya ke orang tak punya. Robinhood mereka buat sebagai aplikasi broker perdagangan saham.

Dengan semangat “mendemokratisasi keuangan untuk semua orang”, aplikasi ini sangat disruptif dan inovatif: tak ada komisi dan tak ada saldo minimal. Ini semacam pemberontakan ketika rival seperti E-Trade dan TD Ameritrade mencetak jutaan dolar dari fee semacam itu. Apa yang mereka inginkan adalah siapa pun mudah untuk bertransaksi dalam membeli saham dan kripto tanpa banyak dikutip oleh pihak broker.

Tenev dan Bhatt berbagi tugas. Tenev banyak tampil mempromosikan Robinhood, sementara Bhatt fokus pada aspek desain. Dia berupaya membuat aplikasi yang mereka rancang sangat mudah digunakan. Setiap mendapat kesempatan, dia menyusuri jalan dari kantor Robinhood di Palo Alto ke kampus Stanford, mendekati pelajar, bertanya untuk meminta umpan balik.

Jalan dua sahabat ini tidaklah mudah. Dalam upaya mendapat pendanaan, mereka terantuk berkali-kali. Namun, mereka tak menyerah. Mereka ingin Robinhood terus berjalan dengan menerapkan formula yang mereka anggap membuat Facebook terkenal: aplikasinya gratis, mudah digunakan, dan bikin kecanduan.

Perlahan-lahan, investor dan pasar menyambutnya. Di App Store-nya Apple, Robinhood terus diunduh. Saat resmi diluncurkan pada 2015, aplikasi ini bahkan memenangi Apple Design Award 2015 setelah banyak pelanggan milenial mengaksesnya.

Seperti bola salju yang bergulir membesar, kesuksesan Robinhood terus menggelinding. Pada 2019, Robinhood telah meraih pendanaan US$ 1 miliar dan valuasinya bengkak jadi US$ 7,6 miliar, dengan 500 karyawan dan 6 juta user. Tenet dan Bhatt, keduanya pemilik saham minoritas Robinhood, dengan estimasi 10% saham, ikut terangkut jadi kaya raya.

Model bisnis yang dikembangkan Tenev dan Bhatt terbilang unik. Sejak awal, Robinhood mempertaruhkan profitabilitasnya pada sesuatu yang dikenal dengan sebutan “payment for order flow” atau disingkat menjadi PFOF. Ketimbang mengambil fee di depan dalam bentuk komisi dari para user, Tenev dan Bhatt mencetak uang dari balik layar. Persisnya: menjual data kepada apa yang disebut market makers yang besar, yakni perusahaan quantitative-trading yang canggih, seperti Citadel Securities, Two Sigma Securities, Susquehanna International Group, dan Virtu Financial.

Perusahaan-perusahaan besar itu akan memasok order pelanggan Robinhood ke dalam algoritma mereka dan mencari laba dari harga penawaran serta pembelian. Mereka bertindak seperti middle man antara aplikasi investasi Robinhood dan pasar aktual.

Model bisnis ini berjalan baik. Pada kuartal I/2020, 70% dari pendapatan Robinhood yang sebesar US$ 130 juta datang dari penjualan PFOF. Sementara di kuartal kedua tahun lalu, nilai penjualan PFOF berlipat menjadi US$ 180 juta.

Dengan kekuatan desain serta semangat demokratisasi keuangan, Tenev dan Bhatt sejak awal mendesain poduknya untuk menarik generasi video game, yakni anak-anak muda, para investor yang tak berpengalaman, agar memiliki saham di pasar modal. Belakangan, hal yang kemudian mereka tidak sangka-sangka adalah pandemi yang datang bagai topan di pengujung 2019. Sementara bagi sejumlah kalangan, corona adalah biang musibah, hal yang sebaliknya justru direguk dua sahabat ini.

Covid-19 mendatangkan berkah bagi Robinhood. Pandemi membuat jumlah penggunanya melesat. Termasuk, anak-anak muda yang makin ramai menyerbu pasar modal. Kini Robinhood punya sekitar 13 juta pengguna terdaftar, mendekati broker seperti Charles Schwab yang memiliki 14 juta pelanggan setelah 49 tahun beroperasi, dan dua kali lipat dibandingkan E-Trade dengan 6 juta akun.

Jumlah pengguna Robinhood melejit cepat dibandingkan lima tahun sebelumnya. Pada 2017, pengguna aplikasi ini hanya di angka 2 juta. Jika ditelaah, pertumbuhannya memang sangat luar biasa.

Sangat wajar jika aplikasi trading saham dan kripto ini digemari. Sebelum Robinhood hadir, setiap orang yang ingin membeli saham di AS akan dikenai biaya US$ 5-10. Mereka juga perlu mendepositkan dana minimal US$ 500 untuk membuka akun baru. “Kami tak melakukan ini, tak mewajibkan minimal dana saat membuat akun. Kami membuka pasar buat para investor yang sebelumnya tak bisa masuk karena regulasi semacam ini,” kata Bhatt. “Jadi, buat kami, Robinhood itu membuka pasar mikroinvestor,” dia melanjutkan.

Dengan konsep yang dipaparkan Tenev ke publik seperti itu, tak mengherankan, sebelum resmi meluncur pun, Robinhood sudah populer. Pada Maret 2015, atau sebulan sebelum resmi diluncurkan ke pasar, angka mereka yang mendaftar dan sign-up di App Store telah mencapai 700 ribu. Anak-anak muda, terutama, yang datang dari Eropa, Australia, dan Amerika Selatan, juga aktif mengikuti forum-forum yang digelar Robinhood, sekaligus memohon agar aplikasi ini juga diluncurkan di negara mereka.

Di antara yang kemudian makin melambungkan Robinhood, tentu saja saat kekacauan GameStop, pada Januari 2021. GameStop, perusahaan distributor video game, menjadi buah bibir di dunia setelah menjungkirbalikkan prediksi dan nilai perdagangan saham yang membuat Wall Street kacau. Tanpa fundamental yang bagus, bahkan perusahaan video game ini megap-megap, sahamnya tiba-tiba meroket 1.700% dalam kurun sebulan. Dalam laporan New York Times disebutkan, awalnya saham GameStop bernilai US$ 2 miliar, melejit menjadi US$ 24 miliar.

Ini peristiwa yang aneh. Selidik punya selidik, itu semua tak lepas dari para investor individual yang ingin melawan kalangan hedge fund yang selama ini dianggap menguasai lantai pasar modal. Para investor individual ini kemudian memompa serta menggoreng saham sehingga harga GameStop melejit gila-gilaan, dari US$ 6 per lembar, terbang menjadi US$ 400-600. Dengan menggalang para investor ritel lewat forum Reddit, mereka mengibarkan bendera yang menyebut diri mereka sebagai “WallStreetBets”. Mereka ingin “menghukum” para hedge fund yang selama ini menguasai pasar modal, terutama Melvin Capital dan Citron Research. Apa yang sebenarnya terjadi?

Di jagat saham, hedge fund menjadi musuh utama investor ritel alias investor kelas teri. Para hedge fund ini memiliki modal untuk “menyerok” saham, biasanya dalam bentuk short selling seenaknya. Ini adalah istilah transaksi spekulatif yang digunakan dalam perdagangan saham. Ilustrasinya: seorang investor meminjam saham dari sebuah sekuritas lalu menjualnya. Dia berharap, dalam beberapa waktu ke depan, harga saham akan jatuh. Dia lalu membelinya kala harga jatuh, lalu mengembalikannya ke sekuritas. Dia berharap dapat gain dari selisih saat meminjam dan mengembalikan saham. Biasanya pola ini berlangsung secara harian alias transaksi dalam waktu cepat.

Dalam kasus GameStop, para analis, juga hedge fund, memperkirakan saham perusahaan ini akan tertidur, atau kalaupun diperjualbelikan, akan fluktuatif di harga rendah. Inilah yang membuat para hedge fund melakukan short sell di harga bawah, level US$ 4 per lembar. Mereka ingin memainkan saham ini.

Namun, apa yang terjadi kemudian sangat mengejutkan. Lewat komunikasi di Reddit, para investor ritel yang sudah muak dengan hedge fund yang rakus, justru bersama-sama memompa saham agar melambung tinggi. Mereka terus membeli saham secara serentak pada tanggal-tanggal tertentu secara bersama-sama, membuat para hedge fund kalang kabut karena harus segera menutup pola short sell-nya dengan membeli saham GameStop sebelum harganya semakin melejit, sebab mereka harus cepat-cepat mengembalikan saham kepada para sekuritas pemilik saham.

Gara-gara tekanan investor ritel ini, otomatis bursa pun kacau. Banyak yang memburu saham GameStop sehingga harganya bergerak liar, cenderung gila-gilaan. Dalam kebingungannya, para hedge fund besar akhirnya banyak yang harus menutup kerugian short sell dalam jumlah yang besar. Mereka rugi hingga ratusan juta dolar. Melvin Capital bahkan dikabarkan bangkrut.

Yang menarik, Robinhood ditengarai menjadi titik sentral dalam kemelut ini. WallStreetBets disebut bisa melakukan perlawanan —atau demokratisasi pasar— terhadap para pemodal besar dengan cara menggunakan aplikasi ciptaan Tenev dan Bhatt. Lewat ponselnya, mereka serentak melakukan “serangan”, memompa harga GameStop terus terbang tinggi.

Akhirnya, di tengah kisruh ini, Robinhood mengambil kebijakan menghentikan penggunaan aplikasinya untuk melakukan perdagangan. Langkah ini diambil karena sekalipun menguntungkan bagi investor yang memegang saham GameStop sejak sebelum lonjakan harga terjadi, jika diteruskan, akan merugikan kalangan investor lain yang baru mengikuti tren belakangan, tapi kemudian harganya terbanting dan terjun bebas.

Aksi Robinhood ini memancing protes dari kalangan investor individual. Terutama, yang belum menangguk untung lantaran membeli di harga tinggi. Faktanya, harga GameStop memang kemudian terjun bebas setelah dalam pekan-pekan terakhir di Januari 2021 meroket. Akan tetapi, langkah itu diambil Robinhood karena memang sangat membahayakan dan demi mencegah kerugian yang lebih besar, bahkan mengguncang pasar saham.

Terlepas dari cibiran dan kemarahan investor yang merugi, pastinya, Robinhood disebut-sebut telah menimbulkan fenomena. Robinhood telah menggoyang pasar. Ia memungkinkan investor-investor kecil bersatu melawan para bandar besar Wall Street. Media-media bahkan menyebut peristiwa di Januari 2021 itu adalah momen ketika “Domba-bomba bersatu melawan para serigala Wall Street”. Total, bandar-bandar Wall Street ditaksir rugi Rp 267 triliun dari kasus GameStop.

Sorotan pada Tenev dan Bhatt memang mencuat. Mereka juga disindir kalangan investor ritel tidak membuat Robinhood menjadi “perampok” kaum kaya, malah memihak mereka dengan menghentikan perdagangan. Namun, keduanya bergeming, dan terbukti Robinhood bisa melenggang lewat IPO.

Dalam sebuah wawancara setelah IPO, Tenev bahkan mengungkapkan ambisinya. “Kami ingin menjadikan Robinhood sebagai single money app secara global. Anda bisa melakukan investasi deposito dan transaksi finansial lainnya lewat Robinhood, termasuk tabungan pensiun,” katanya.

Itu artinya dia ingin aplikasinya menjadi semacam bank digital. Bukan lagi broker perdagangan saham dan kripto semata. Bagaimana realisasi ambisinya itu, tentu menarik untuk ditunggu. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)