Kioson, Pentingkan Aspek Kepercayaan dan Keamanan Bertransaksi

Jasin Halim, Komisaris Independen Kioson bersama Doane Cahyadi, Dirut Kioson

Salah satu perusahaan rintisan (startup) yang bersinergi dengan jaringan warung dan kios adalah Kioson (PT Kioson Komersial Indonesia Tbk.). Berdiri pada 29 Juni 2105, Kioson menyediakan platform berupa peranti lunak dan peranti keras untuk bekerjasama dengan kalangan UMKM melalui sistem kemitraan. Para mitra UMKM ini akan bertindak selaku Kioson Cash Point.

Kioson berkiprah di bidang ini karena, menurut Jasin Halim, Komisaris Independen Kioson, pihaknya melihat secara umum perekonomian Indonesia masih menggunakan pembayaran tunai. Adapun perputaran ekonominya 90% berada di kalangan UMKM itu. Sementara itu, kata Jasin lagi, dari sektor e-commerce pembayaran nontunai yang bisa ditangkap baru sekitar 20%, sedangkan 80% belum bisa digapai karena keterbatasan layanan perbankan. “Jadi, kami melihat ini sebagai peluang untuk memasuki wilayah yang belum tersentuh oleh bank,” kata Jasin yang sebelumnya duduk sebagai Dirut Kioson ini.

Jasin mencontohkan, dengan adanya aplikasi Kioson yang digunakan oleh kios/warung tersebut, banyak masalah yang dipecahkan, seperti untuk mengisi ulang e-money seperti Go-Pay dan Ovo. Dengan demikian, masyarakat yang tidak memiliki rekening bank juga bisa melakukan transaksi pembayaran e-commerce.

Sekarang bisnis yang dikelola Kioson adalah penjualan pulsa, sebagai payment point online bank (PPOB), dan jasa menjembatani pembayaran e-commerce. Secara umum, PPOB adalah sistem pembayaran online dengan memanfaatkan fasilitas perbankan. Lewat layanan PPOB ini, banyak transaksi pembayaran yang bisa dilakukan, misalnya tagihan PLN, tagihan PDAM, akses internet, paket data, asuransi, BPJS, kartu kredit, tagihan multifinance, hingga pembelian vocer game. “Kami ingin Kiosan bisa memberikan layanan paling lengkap,” kata Jasin. Ia mengakui sebenarnya jasa yang disediakan Kioson sudah ada di pasar, tetapi umumnya masih terpisah-pisah, belum dalam satu aplikasi.

Jasin menyebutkan, bisnis penjualan pulsa masih yang paling kontributif, berkisar 30-40%, dengan melihat indikator Gross Merchandise Value (GMV) dan revenue. “Kalau dari bisnis PPOB, hanya kami dapatkan fee, jadi masih sangat kecil,” ujarnya.

Kalangan kios yang menjadi mitra Kiosan Cash Point, menurut Doane Cahyadi, Dirut Kioson, pada dasarnya berfungsi sebagai agen dan tempat orang membayar aneka tagihan atau cicilan tersebut. Dari layanan ini, para mitra Kioson mendapatkan fee tertentu. “Kami berharap, para agen ini juga berkembang up-selling-nya, sehingga bisa menawarkan produk lain yang belum tersentuh masyarakat, seperti asuransi, yang potensinya besar sekali,” kata Doane.

Saat ini aplikasi Kioson sudah tersedia di app store seperti Android Market. Jadi, para mitra tinggal mengunduh saja lewat ponsel pintar atau tablet mereka. Selain itu, pihak Kioson mungkin saja membantu penyediaan hardware seperti printer untuk mencetak resi. “Tapi ini tidak semua mitra, hanya by-request,” kata Jasin. Untuk bisa melakukan transaksi, para mitra diwajiblkan memiliki saldo deposit minimal Rp 100 ribu.

Adakah bantuan kredit untuk para mitra kios ini? “Kami akan melihat pola transaksi mereka, kemudian biasanya kami menawarkan bantuan kredit mulai dari Rp 500 ribu,” kata Jasin. Dana kredit ini disalurkan oleh mitra Kioson, yakni Kimo, yang telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Hingga akhir 2018, menurut Doane, Kioson yang diperkuat sekitar 100 personel ini sudah menggandeng 58.050 kios sebagai mitra. Persebarannya terutama di Jawa dan Sumatera, diikuti Sulawesi.

Menurut Jasin, peningkatan pendapatan kios setelah bergabung sebagai mitra Kioson bervariasi, tergantung pada besaran transaksi mereka. Sebab, ada yang volume transaksinya hingga ratusan juta, tetapi ada juga yang baru ratusan ribu. Namun, dia mengklaim rata-rata peningkatan transaksi mitra Kioson ini berkisar 20-30%. Adapun Duone mengklaim, berkat program kemitraan dengan kios-kios ini, GMV Kioson meningkat rata-rata 20%.

Doane menyebutkan, pihaknya tahun ini menargetkan bisa mendapat tambahan 10-15 ribu kios mitra. Menurut Jasin, menjaring mereka sebenarnya tidak sulit, karena apa yang akan diberikan pihaknya merupakan hal yang mudah diterima dan langsung bisa dipakai. “Kendalanya, kami perlu menjelaskan ke kios-kios secara face to face satu per satu, dan ini perlu biaya yang cukup besar buat kami,” katanya.

Karena itu, pihaknya pun mengupayakan agar kios-kios yang sudah bergabung tidak pindah. Juga, agar aplikasi yang telah ada bisa memberikan tingkat layanan yang baik dan mengisinya dengan konten-konten yang bermanfaat buat para mitra.

Ini memang bisnis yang easy come easy go, hari ini daftar, besok bisa keluar. Entry barrier-nya hampir tidak ada,” Doane mengakui. Bicara harga pun sekarang sangat terbuka. “Masalah kepercayaan dan keamanan itulah yang tidak bisa dibeli dengan uang. Inilah yang kami coba bangun antara Kioson dan kios-kios itu,” ia menegaskan. (*)

Joko Sugiarsono & Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)