Pupuk Kaltim, Goreskan Tinta Emas dari Transformasi Digital

Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Kaltim
Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Kaltim.

Revolusi Industri 4.0 merupakan salah satu indikator optimalisasi bisnis PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), seiring penerapan inovasi berbasis teknologi informasi (TI) di berbagai bidang. Untuk itu, Pupuk Kaltim melakukan digitalisasi untuk mendukung kinerja perusahaan dan mengembangkan kompetensi pegawai agar kian mahir mengimplementasikan teknologi terkini serta adaptif merespons era disrupsi ganda.

Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Kaltim, menjabarkan beberapa hasil nyata digitalisasi di tahun lalu. Di antaranya, efisiensi energi di pabrik amoniak mencapai 2,69% dan pabrik urea 3,88% per Mei 2021. “Return on investment dari digitalisasi Pupuk Kaltim yang berdampak terhadap bisnis di antaranya efisiensi energi,” Rahmad mencontohkan.

Implementasi Industri 4.0 itu berlangsung di seluruh divisi usaha perseroan. Misalnya, digitalisasi untuk mengevaluasi kinerja operasional yang mudah diakses secara real time.

“Dengan demikian, proses pengambilan keputusan oleh manajemen akan semakin cepat sehingga Pupuk Kaltim dapat menjalankan proses bisnis operasional secara lebih adaptif, sesuai  dengan kebutuhan pasar dan berdaya saing global,” kata Rahmad. Transformasi bisnis berorientasi Industri 4.0 itu menerapkan artificial intelligence (AI) dan metode forecasting, sehingga berdampak terhadap produktivitas dan efisiensi, serta meningkatkan daya saing Pupuk Kaltim.

Enam tahun lalu perusahaan ini menginisiasi transformasi digital yang berkesinambungan, dan memoles kompetensi pegawai agar kian adaptif dan mahir mengimplementasikan teknologi termutakhir. Manajemen membentuk Tim Champion untuk memperlancar transformasi digital dan mengakselerasi perubahan.

“Karyawan berpartisipasi aktif mengimplementasikan Industri 4.0. Digitalisasi ini juga fokus pada keberlanjutan lingkungan hidup dan ekosistem guna mendukung tercapainya pertumbuhan fase kedua yang berkelanjutan,” Rahmad menjelaskan.

Produsen pupuk urea terbesar di Indonesia ini melakukan self assessment untuk mengetahui lebih lanjut implementasi teknologi digital dalam meningkatkan kinerja berdasarkan konsep Industri 4.0. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian pada 2019 melaksanakan verifikasi self assessment untuk mengukur efektivitas setiap inovasi yang digagas Pupuk Kaltim. Verifikasi ini berdasarkan lima pilar yang tercantum pada Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0).

Guna memuluskan digitalisasi itu, Tim Transformasi Digital dibentuk untuk mengemban tugas pelaksanaan transformasi digital. Tim ini di bawah naungan Direktorat Keuangan dan Umum yang dipimpin oleh Qomaruzzaman. Mereka berkolaborasi dengan seluruh unit bisnis perusahaan.

Rahmad menerangkan, implementasi Industri 4.0 itu selaras dengan Rencana Induk TI (IT Master Plan) Pupuk Kaltim. Rencana induk ini disusun berdasarkan strategi bisnis perusahaan yang melibatkan seluruh unit bisnis dan disetujui seluruh dewan direksi.

“Seiring dengan perkembangan kebutuhan bisnis perusahaan, Pupuk Kaltim harus agile. Oleh karena itu, IT Master Plan ini rutin ditinjau ulang di agenda rapat Komite Pengarah Teknologi Informasi agar selalu sejalan dengan perkembangan perusahaan,” Rahmad menegaskan.

Pacu Produktivitas

Perseroan menerapkan Governance Risk Management (GRC) yang selaras dengan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) dalam mengimplementasikan sistem TI berbasis digital, yang meliputi sistem aplikasi GCG, gratifikasi, manajemen risiko individu, whistle blowing system, sistem manajemen risiko, pakta integritas, dan kepatuhan internal.

Rahmad menyebutkan salah satu inisiatif digital tersebut, yaitu smart production. Inisiatif ini bermanfaat untuk mengintegrasikan data secara online di seluruh lini proses produksi, meliputi performa pabrik (produksi, konsumsi energi, inventori, dan operasional pabrik), kualitas dan stok produk, evaluasi kesehatan dan pemeliharaan aset, kinerja lingkungan, serta dilengkapi dengan sistem pendeteksi dini. Setiap lini terhubung dengan aplikasi dashboard yang telah dirancang sesuai dengan kebutuhan untuk memudahkan pengambilan keputusan.

Selain smart production, perseroan sudah menerapkan smart operation, smart maintenance, smart distribution, digital performance management system, smart farming solution, dan digitalisasi di lini operasional lainnya. BUMN pupuk yang beroperasi sejak 1977 ini juga mengawasi proses distribusi pupuk secara digital yang bertujuan menjamin pupuk subsidi dapat disalurkan secara tepat guna ke masyarakat yang membutuhkan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah menggunakan teknologi Distribution Planning & Control System (DPCS) sebagai preanti digital untuk mengawasi distribusi pupuk secara real time dari lini 1-4.

Sistem DPCS ini juga dilengkapi dengan early warning system, yang dapat memberikan peringatan bila stok mulai menipis pada tingkat daerah, untuk kemudian diantisipasi. “Selain stok pupuk, data yang dihimpun dalam sistem DPCS juga meliputi penjualan; alokasi di setiap daerah; kapasitas gudang; posisi pupuk yang dalam perjalanan, baik darat maupun laut; kontak staf pemasaran di masing-masing wilayah, distributor, dan pengecer; serta detail informasi lainnya,” kata Rahmad.

Pupuk Kaltim menggunakan Retail Management System yang bermanfaat untuk memudahkan pengawasan stok dan transaksi pupuk. Termasuk, mengidentifikasi pihak yang ingin melakukan penebusan pupuk di tingkat ritel (kios dan pengecer pupuk).

Selama pandemi Covid-19, Pupuk Kaltim mengembangkan 16 aplikasi untuk mendukung produktivitas karyawan, di antaranya PKT Andalanku, Maintenance Dashboard, iPerform, E-Permit, EMOKA, PKT Sehat, PKT Juara, SPIRIT, IDMS, SK3, Master, iPortLog, Safety Rep, SINOVA, STK, dan Portal GCG. Transformasi digital menyeluruh mulai dari produksi, distribusi, hingga teknologi pemupukan itu, menurut Rahmad, terbukti memacu pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan sehingga produktivitas meroket hingga 141%.

Inisiatif digital di BUMN pupuk ini diapresiasi pemerintah lantaran transformasi digital itu melahirkan beragam inovasi. Kementerian Perindustrian pada 2020 mengganjar Pupuk Kaltim penghargaan Lighthouse Transformation Industry 4.0. “Kami dinilai Kemenperin sebagai perusahaan yang menjadi panutan perusahaan di industri sejenis maupun industri lainnya. Hal ini membuktikan bahwa inisiatif di Pupuk Kaltim itu berdampak positif terhadap keberlangsungan bisnis,” tutur Rahmad.

Hasil nyata ditorehkan Pupuk Kaltim. Perseroan pada 2021 mengantongi laba bersih Rp 6,17 triliun, melonjak 240% dari Rp 1,81 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Perolehan tersebut melesat 311% dari target. “Perolehan laba ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Pupuk Kaltim berdiri,” ungkapnya.

Kinerja Pupuk Kaltim telah diakui berbagai instansi melalui sejumlah penghargaan. Antara lain, penghargaan The Most Trusted Companies dari SWA pada ajang Indonesia Most Trusted Company 2021 dan Peringkat Emas Proper Nasional untuk kelima kalinya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di 2021. (*)

Vina Anggita & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)