Rasa Tak Puas yang Melahirkan Kejayaan

Pamor dan kinerja Shopify kian mencorong di masa pandemi. Siapa sangka itu bermula dari rasa tidak puas atas layanan yang digunakan.

Tobias Lütke, bersama dua rekannya Scott Lake dan Daniel Weinand mendirikan Shopify.

Ketika karantina di banyak negara diterapkan, para peritel brick-and-mortar kecil (toko-toko) sangat menderita karena selama ini bergantung pada pembeli yang datang. Namun, penderitaan mereka relatif bisa dikurangi berkat pertolongan Shopify. Aplikasi ini memungkinkan para pebisnis beroperasi secara daring (dalam jaringan/online) dalam sekejap lewat toko e-commerce yang mereka buat.

Itulah pernyataan Fast Company yang melatari mereka memberikan peringkat ketiga bagi Shopify dalam daftar World’s Most Innovative Companies 2021. Sebuah penghargaan yang bisa dimengerti. Bukan saja karena aplikasi ini membantu banyak pedagang memanfaatkan jalur daring untuk berbisnis, tetapi juga kinerjanya memang ciamik. Pendapatan 2020 mencapai US$ 2,9 miliar, naik 86% dibandingkan 2019. Sementara gross profit tumbuh 78% menjadi US$ 1,5 miliar dibandingkan tahun 2019 (US$ 865 juta).

Sukses Shopify tak ayal mengingatkan kembali pada pernyataan Paul Zane Pitzer, seorang ekonom dan social entrepreneur dari New York. Ia mengatakan, “Ketika Anda merasakan ketidakpuasan sebagai customer, Anda harus memulai bisnis sendiri.”

Itulah yang terjadi pada Shopify. Tahun 2004, Tobias Lütke bersama Scott Lake mendirikan Snowdevil, toko online untuk peralatan snowboarding. Pada saat itu, peranti lunak toko daring dibangun untuk perusahaan-perusahaan besar yang sedang bertransisi ke arah online setelah lama berkubang di jagat offline. Harganya mahal, fiturnya kompleks, dan tidak fleksibel ketika digunakan.

Snowdevil lumayan memberikan keuntungan. Namun, kualitas aplikasi yang digunakan ternyata mengecewakan. “Saya membuat toko online berbasis sistem yang bervariasi, seperti Miva, OsCommerce, dan Yahoo! Store. Terus terang, semua sistem itu membuat saya susah karena jelek sekali,” kata Lütke.

Merasa frustrasi dengan platform e-commerce yang ada, Lütke yang memang seorang software engineer berpikir ulang. Dia pun kemudian mendesain tools sendiri untuk mengoperasikan Snowdevil. Pada saat itu, bergabung Daniel Weinand. Lalu, mereka bertiga pun melempar aplikasi yang dibuat itu ke sejumlah kenalan untuk diuji coba.

Tiada dinyana, responsnya ternyata positif. Ini bisa dimengerti karena aplikasi yang dibuat tergolong user friendly. Akhirnya, tiga sekawan ini pun sadar: peranti lunak yang dibuat Lütke lebih bernilai ketimbang situs untuk Snowdevil itu sendiri. Mereka memutuskan fokus membangun aplikasi ini untuk menolong merchant lain dalam membangun tokonya. “Pada awalnya, tak ada rencana besar,” ujar Lütke. Mereka hanya ingin memberikan tools untuk kalangan merchant kecil (kalangan UKM) yang ingin terjun di dunia e-commerce.

Lütke dkk. memang tak punya rencana besar. Namun, belokan akbar dalam kehidupan tengah mereka buat. Selama kurang-lebih setahun, mereka berupaya menyempurnakan aplikasi yang mereka lahirkan itu. Terinspirasi pengalaman mereka dalam menjalankan Snowdevil, aplikasi yang mereka lahirkan diposisikan sebagai tool for merchants untuk membangun situsnya sendiri. Sebagai arsiteknya, Lütke memberikan kemudahan pada hal-hal esensial seperti template toko yang bisa dikustomisasi, menelusuri order, mengelola inventori, dan memproses pembayaran, termasuk integrasi PayPal dan kartu kredit. Aplikasi ini kemudian disebut Shopify.

Juni 2006, tiga sahabat ini resmi meluncurkan Shopify. Akan tetapi, tidak seperti harapan semula, perkembangan aplikasi ini bisa dikatakan lambat. Salah satunya karena model bisnisnya. Lütke dan teman-temannya menerapkan model persentase penjualan dari merchant yang menggunakan Shopify. Cara ini akhirnya diubah menjadi model berlangganan: merchant solution (persentase yang fixed dari penjualan) dan subscription solution (langganan bulanan untuk layanan software).

Usai urusan model bisnis, Lütke dkk. akhirnya bisa fokus dalam mengembangkan produk dan menghadirkan fitur-fitur yang membuat merchant bisa menjual produk lebih banyak. Bisnis pun menanjak pasti. Aplikasi ini masuk radar para investor. Tahun 2007, John Phillips, seorang angel investor dari Toronto mengirim cek senilai US$ 250 ribu. Dia menghargai Shopify senilai US$ 3 juta.

Dalam waktu singkat, Shopify telah berdiri mentereng. Pada 2009, aplikasi ini telah memosisikan diri dengan value yang tinggi, yakni sebagai e-commerce tool yang lebih sederhana, lebih murah, dan lebih baik daripada tools lama, seperti Yahoo! Store dan Microsoft Commerce.

Namun, Lütke dkk. tak mau berhenti di sini. Daya inovasi mereka meledak-ledak. Menyadari kekuatan evolusi yang disajikan platform open-source, mereka mengambil keputusan penting dengan mengembangkan API (Application Programming Interface) eksternal dan membuat sebuah app store. Langkah ini disebut keputusan penting karena API dan app store menggantikan peranti lunak lama yang memiliki user interface yang relatif lebih kompleks dan fitur yang begitu gemuk.

Faktanya, langkah ini memang menjadi titik penting dalam perjalanan Shopify. Ia seperti pegas yang akan melambungkan Shopify. Pasalnya, API dan app store memungkinkan mitra-mitra Shopify (desainer, developer, agensi) untuk bekerjasama memodifikasi aplikasi sehingga menyempurnakan pengalaman para merchant dan membuka pintu untuk menjadi sebuah platform. Ya, Shopify telah menggeser positioning dirinya dari tool menjadi platform. Sebab, API memungkinkan pengembang membuat aplikasi untuk toko online Shopify dan kemudian menjualnya kepada Shopify App Store.

Para pengamat, ketika mereka mengulas kesuksesan Shopify, menilai langkah yang dibuat Lütke dkk. adalah wujud dari “the power of partnership”. Di tahun 2010 itu, Shopify memiliki sekitar 40 apps yang bisa digunakan para penjual untuk mengoperasionalkan bisnisnya. Apps yang dikembangkan pihak ketiga ini sangat mendukung perkembangan bisnis para merchant. Shopify AR, misalnya, memungkinkan para pemilik toko memberikan produk secara realistis dan interaktif lewat teknologi augmented reality.

Bagi Lütke dkk., alih-alih dipandang pesaing, deretan aplikasi itu sendiri menjadi “pencetak uang”. Dari setiap pendapatan yang dihasilkan lewat sebuah app milik mitra, Shopify mengantongi 20%. Lumayan.

Buat para pemilik toko, keberadaan apps ini juga menguntungkan karena memberikan layanan yang membuat tampilan produk atau layanan milik mereka menjadi kian menarik di mata pembeli. Jadi, situasinya adalah win-win bagi semuanya. Apalagi, Lütke dkk. juga tidak pelit. Mereka akan memberikan hadiah buat pemilik toko yang bisa mengajak orang lain menggunakan Shopify.

Langkah terobosan ini belum berhenti di sini. April 2010, Shopify meluncurkan aplikasi mobile gratis di Apple App Store. Aplikasi ini memungkinkan pemilik toko Shopify melihat dan mengelola toko mereka dari perangkat mobile iOS. Setelah pengembangan API, keberadaan Shopify mobile merupakan sebuah game-changer karena memungkinkan penjual memonitor toko daringnya, melihat informasi customer, dan order dari telepon mereka. Saat itu, m-commerce sedang mulai bergerak. Semakin banyak orang menggunakan smartphone dan jual-beli secara daring. Ini adalah peluang besar dari kanal baru.

Shopify juga mempromosikan e-commerce-nya dengan meluncurkan kompetisi “Build a Business”. Kontes ini menantang para pemilik toko untuk membuat toko selama delapan bulan di atas platform Shopify. Toko yang paling sukses akan mengantongi uang US$ 100 ribu dan mendapat mentorship dari sejumlah pengusaha selebritas seperti Richard Branson dan Eric Ries. Kontes ini mendapat respons besar. Lebih dari 1.000 toko online baru hadir, menghasilkan penjualan US$ 3 juta, dan diliput New York Times.

Tanpa bisa tertahan, pamor Shopify kian mencorong. Di tahun 2010 itu mereka menyabet penghargaan Fastest Growing Ottawa oleh Jurnal Bisnis Ottawa. Namun, yang lebih menyenangkan, uang investor terus masuk: US$ 7 juta dari dana putaran Seri A awal Desember 2010, dan US$ 15 juta putaran pendanaan Seri B pada Oktober 2011.

Pendanaan tersebut tentu saja menjadi amunisi yang sangat berarti. Agustus 2013, Lütke dkk. mengakuisisi Jet Cooper, studio desain dengan 25 karyawan. Di tahun itu juga mereka meluncurkan sistem pembayaran Shopify, yang memungkinkan para pedagang menerima kartu kredit tanpa memerlukan gateway pembayaran dari pihak ketiga. Di ujung tahun itu, US$ 100 juta masuk lagi sebagai wujud pendanaan Seri C.

Setelah satu dekade berdiri, Shopify bisa dikatakan telah kokoh menjejak bumi. Akhir 2014 mereka meraup pendapatan US$ 104 juta, dua kali lebih banyak dibandingkan 2013. Mereka menjadi tuan rumah bagi sekitar 120 ribu pengecer daring, dan terdaftar sebagai nomor 3 di daftar Deloitte Fast50 dari Kanada, serta nomor 7 di Deloitte Fast 500 dari Amerika Utara.

Melihat momentum yang lebih tinggi, langkah besar segera dibuat Lütke dkk. Pada 14 April 2015, Shopify mengajukan IPO di Bursa Efek New York dan Bursa Efek Toronto. Akhirnya, Shopify resmi go public pada 21 Mei 2015, diperdagangkan pada harga saham US$ 28 per lembar.

        Setelah itu, Shopify seakan terus berlari. Sederet akuisisi dilakukan, di antaranya Boltmade, Tiny Hearts, dan Oberlo yang memungkinan para pedagang terhubung dengan pemasok yang mengapalkan produk langsung ke pembeli.

Inovasi pun digeber. Di antaranya meluncurkan Frenzy, mobile app yang digunakan untuk flash sales, dan yang menarik adalah peluncuran Shopify Studios di tahun 2019. Ini adalah perusahaan produksi full service film dan televisi dengan misi untuk menginspirasi dan meredefinisi kewirausahaan lewat tayangan yang orisinal, menghibur, serta menantang kreativitas pikiran.

Selain menggandeng Amazon dan Alipay dalam kemitraan untuk mendukung para pedagang, langkah mutakhir yang menarik adalah pada Februari 2021 ketika Lütke dkk. meluncurkan tim e-sport Shopify Rebellion untuk berkompetisi di turnamen internasional StarCraft II. Anggota tim ini di antaranya adalah juara dunia, Byun Hyun-woo dan Sasha Hostyn.

Banyak spekulasi beredar mengapa Shopify masuk e-sport. Memang, Lütke dikenal sebagai penggila e-sport. Dia juga kadang menjadi sponsor bagi tim yang didukungnya. Akan tetapi, membuat tim e-sport sendiri jelas berbiaya lebih mahal dibandingkan menjadi sponsor.

Salah satu analisis menarik diungkapkan Dan Ciccone, CEO Stacked Entertainment. Menurutnya, Shopify telah lama menjadi platform pilihan bagi para pemain e-sport dan tim yang menjual merchandise-nya. Kemudian, dia menambahkan, kebanyakan fans e-sport adalah anak muda yang sangat melek teknologi. “Mereka bisa menjadi generasi wirausaha baru,” katanya. Ini membuat langkah Shopify masuk ke e-sport dinilai sangat jitu karena bisa meraih para fans menjadi customer Shopify masa depan.

Tentu saja, langkah mutakhir ini perlu diuji dalam beberapa waktu mendatang. Pastinya, posisi Shopify kini kian kokoh, terlebih di masa pandemi. Per Januari 2021, Shopify melaporkan mereka digunakan lebih dari 1 juta pebisnis di 175 negara. Investor pasar modal juga menyukainya. Per 19 Maret 2021, harga per lembar sahamnya mencapai US$ 1.120,95 di New York dan CAD 1.399 di bursa Toronto. Kapitalisasi pasar di New York mencapai US$ 137,5 miliar, sementara di Toronto CAD 171,8 miliar. Sebagai informasi, CAD 1 = US$ 0,8. Shopify adalah perusahaan Kanada dengan kapitalisasi pasar terbesar.

Melihat kondisi sekarang, tentunya kejayaan itu tidak akan pernah terjadi jika Lütke yang tak puas atas aplikasi e-commerce untuk Snowdevil memilih berdiam diri, tak mengambil langkah drastis seperti pernyataan Paul Zane Pitzer: “Ketika Anda merasakan ketidakpuasan sebagai customer, Anda harus memulai bisnis sendiri.” (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)