Bigissimo, Bisnis Pakaian Big Size Dany Aprilla

Dany Aprilla, CEO Bigissimo.
Dany Aprilla, CEO Bigissimo.

Bisnis pakaian berukuran besar (big size) rupanya membawa keberuntungan bagi Dany Aprilla. Berkat kejeliannya menangkap peluang unik ini, lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini berhasil meraih omset ratusan juta per bulan.

Bahkan, kini Dany rela menanggalkan profesi dokter giginya, dan memilih menjadi pebisnis fashion. Menurutnya, berbisnis itu seperti bermain game yang harus terus naik level dengan menciptakan inovasi-inovasi baru, sehingga ia pun sulit meninggalkannya barang sekejap.

Awalnya adalah usaha coba-coba. Yaitu, ketika perempuan kelahiran Semarang, 5 April 1991, ini masih kuliah di Unpad Bandung sekitar 4,5 tahun lalu. Saat sedang jenuh dengan perkuliahan, ia jalan-jalan ke Gasibu, Bandung, yang setiap Minggu banyak yang berjualan di sana dengan aneka rupa dagangan. Kebetulan, di tempat tersebut ia menemukan baju-baju sisa ekspor yang tidak laku karena ukurannya besar. “Dari sana saya, berpikir kenapa baju ukuran besar tidak laku? Tapi, saya yakin bahwa baju tersebut tetap ada market-nya,” katanya. Akhirnya, baju-baju ukuran besar tersebut ia beli dan ia menjualnya lagi secara online, antara lain lewat Instagram.

Baju-baju tersebut ia beri nama Bigissimo. Gabungan dari kata “big” (bahasa Inggris, besar) dan “bellissimo” (bahasa Italia, cantik). “Jadi, saya berharap orang yang memakai baju tersebut bisa terlihat cantik walaupun badannya besar. Saat itu, saya langsung menjualnya di Instagram dan ternyata responsnya bagus. Saat ini saya fokus membangun bisnis ini dan saya merasa tidak ada passion menjadi dentist,” ungkapnya.

Basis Bigissimo saat ini ada di Salatiga, Jawa Tengah. Namun, justru pasar utamanya Jabodetabek. Selain itu, Bigissimo juga memiliki pasar di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan. “Mereka langsung order ke kami dan kami kirim melalui ekspedisi. Untuk di Hong Kong, biasanya pembelinya orang Indonesia yang bekerja di sana, tetapi di Singapura dan Malaysia pembelinya memang warga sana,” kata Dany yang menjadi CEO Bigissimo.

Target pasar Bigissimo adalah wanita dengan rentang usia 18-35 tahun, kelas menengah, mahasiswa atau pekerja. “Dan, spesifik sebenarnya adalah wanita-wanita kantoran bertubuh gemuk yang butuh baju-baju modis,” ungkap Dany yang mengaku dirinya malah menggunakan pakaian berukuran M.

Modal awal yang dikeluarkan Dany untuk membeli 10 pcs baju tersebut adalah Rp 150 ribu. Kemudian, ia menjualnya kembali dengan harga sekitar Rp 88 ribu/pcs. “Menurut saya, ini harganya murah sekali karena dengan harga kurang dari Rp 100 ribu sudah bisa mendapatkan baju branded, “ cetusnya. Uang hasil penjualannya terus diputar sehingga dalam waktu tiga bulan bisa mengumpulkan sekitar Rp 30 jutaan dari penjualan baju-baju tersebut.

Pada akhirnya, ia berpikir tidak bisa mendapatkan supply terus-terusan dari baju-baju sisa ekpspor tersebut karena stoknya terbatas dan modelnya juga itu-itu saja. Selain itu, ia pun melihat model baju untuk orang gemuk tidak variatif, bahkan cenderung sering tidak cocok dengan postur tubuh mereka. Sejak saat itu, Dany mulai mencari bahan dan model baju yang cocok untuk wanita yang berukuran besar. “Dari uang Rp 30 juta, saya memberanikan diri untuk produksi baju sendiri,” ujarnya.

Saat itu, ia mulai memproduksi 300 pcs baju dan produk pertama yang ia buat itu baru habis dalam waktu satu tahun karena masih meraba-raba alias trail and error. “Setelah itu, saya paham mengenai cutting, sizing yang cocok, dan mulai sold out setiap mengeluarkan produk,” katanya. Di tahun pertama, anggota timnya ada lima orang: satu orang di bagian operasional, dua orang di bagian packing, dan dua di customer service. “Walaupun semakin berkembang bisnisnya, saya berusaha membuat tim seramping mungkin. Jadi, sekarang sudah ada 17 anggota tim,” katanya.

Seminggu sekali, ia mengeluarkan empat model baju sehingga sebulan bisa mengeluarkan 16 model baju. Untuk stoknya, biasanya Dany melihat dari data penjualan. Misalnya, ia melihat model tunik atau Korean style biasanya banyak yang suka, maka jumlahnya diperbanyak. Namun, kalau produk yang benar-benar baru dari hasil R&D, hanya diproduksi sedikit untuk tes pasar.

Untuk produksinya, Dany menggunakan vendor di Jakarta. Di masa pandemi ini, ia mulai menggandeng 15 ibu-ibu penjahit di sekitar Tengaran, Semarang, Jawa Tengah. Tujuannya untuk membantu mereka yang minim orderan selama pandemi. Dany datang membawa bahan baku untuk diolah; yaitu 80 dari luar negeri dan 20 dari dalam negeri. “Kelebihan produk kami ada di-cutting dan bahannya,” ujar Dany berpromosi.

Sejauh ini Bigissimo fokus menggunakan online marketing agar bisa merambah berbagai wilayah untuk penjualannya. “Dalam sebulan, kami bisa menjual 5.000-8.000 pcs, tetapi untuk Lebaran bisa hingga 15 ribu-18 ribu pcs dengan harga Rp 155 ribu-400 ribuan,” Dany mengungkapkan. Ia mengakui selama pandemi ini penjualannya turun 30%. Namun, sejauh ini tidak ada pengurangan pekerja.

Tantangan terbesar di bisnis ini adalah produk mudah ditiru. “Jadi, ada brand-brand baru yang mengikuti kami dan mencuri ide kami. Bahkan, produk kami dijiplak persis sekali, dan rentang waktu dia mengeluarkannya hanya beda sedikit dengan kami,” katanya. Misalnya, hari ini pihaknya meluncurkan produk baru, dan dalam waktu dua minggu kemudian, kompetitor juga mengeluarkan produk yang sama.

Ke depan, jika bisnisnya ini tetap lancar, Dany ingin memproduksi sendiri sehingga tidak memakai vendor lagi. Jadi, bisa memberdayakan lebih banyak orang di daerahnya. Selain itu, ia ingin memiliki produk yang lebih variatif lagi dan lebih earth friendly lagi. “Kami juga berharap bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi,” ujarnya. (*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)