Gufron Syarif dkk., Membawa Haus! Cepat Melesat

Sigit Sribawono, Gufron Syarif, Daman Wijaya.
Sigit Sribawono, Gufron Syarif, Daman Wijaya.

Kejelian telah membuat Gufron Syarif --didukung rekan-rekannya-- berhasil membawa Haus! melesat cepat. Diluncurkan pada 2018, merek makanan dan minuman ini telah tersebar lewat 110 gerai di Jabodetabek dan Bandung, dan bersiap melebarkan sayap ke banyak kota.

Gufron (37 tahun) disebut jeli karena sewaktu meluncurkan Haus! dia mencermati pasar terlebih dahulu. Pada 2016-2017 itu pasar terbilang ramai dengan produk kopi susu gula aren, dari jenis kopi susu hingga boba. Melihat itu, ia masuk ke medan tempur yang berbeda. “Saya putuskan bermain di segmen C, (karena) pemain kopi susu dan boba di kelas menengah-atas,” ungkapnya.

Menggandeng teman-temannya, maka berdirilah PT Inspirasi Bisnis Nusantara (IBN) dan meluncurlah Haus! Ngomong-ngomong, mengapa nama mereknya itu?

“Karena kami tidak ingin brand ini terasosiasi dengan satu jenis produk tertentu, seperti teh dan kopi. Kami ingin Haus! terasosiasi dengan minuman kekinian yang harganya sangat affordable,” paparnya.

Haus! pertama kali buka di Universitas Bina Nusantara. Awalnya, mereka hanya menargetkan omset Rp 4 juta per hari. Namun di luar dugaan, mereka bisa mencapai Rp 15 juta per hari. Melihat respons itu, Gufron dkk. pun berlari cepat. Caranya, dengan menggunakan sistem crowdfunding di setiap gerai. “Kami mengundang investor untuk invest di outlet-nya, bukan ke holding,” ujar Gufron.

Polanya seperti ini: investor hanya membenamkan investasi senilai Rp 200 juta di awal. Selanjutnya, semua aspek dikelola tim IBN, mulai dari pencarian lokasi hingga manajemen operasionalnya. Laporan keuangan diberikan setiap bulan serta laba dibagi dua antara investor dan IBN.

Pola ini direspons positif oleh pasar. Dalam waktu satu setengah tahun, IBN berhasil membuat 67 gerai Haus! 

Mendapat kepercayaan itu, Gufron dkk. mengelola bisnisnya dengan sebaik mungkin. Para founder berbagi pekerjaan: Gufron menjadi CEO & CMO, Yonathan Augustine sebagai CFO, Ferry Ardian Akbar sebagai COO, Daman Wijaya sebagai CHRO, dan Sigit Sribawono menjadi Deputi COO. Mereka turun langsung ke gerai untuk berinteraksi langsung dengan konsumen di lapangan. 

Kemudian, untuk bisa memenangi hati konsumen, Gufron dkk. menyajikan produk berkualitas. Maka, varian-varian produk pun lahir dengan cepat (kini 35 varian). “Dalam bisnis F&B, kuncinya adalah inovasi produk, packaging, dan cara order. Jadi, per tiga bulan sekali kami meluncurkan produk baru, baik yang seasonal maupun permanen. Atau, per tiga bulan sekali kami meluncurkan kemasan baru. Tujuannya agar konsumen tidak bosan,” Gufron menjelaskan.

Kemudian, menyadari target pasarnya di menengah-bawah, mereka membuat komunikasi secara langsung dan dengan bahasa yang mudah dicerna. Di antaranya, membuat spanduk besar dengan gambar minuman yang menarik dengan tulisan “Hanya Rp 5 ribu”. Model komunikasi ini ternyata berhasil memancing orang untuk datang sehingga tercipta word of mouth. “Walaupun tidak semua minuman harganya Rp 5 ribu, (karena) rata-rata harga produk kami Rp 15 ribu. Ujung-ujungnya, mereka membeli yang Rp 15 ribu,” kata Gufron. Di luar itu, IBN juga menggarap media sosial, yaitu Instagram dan TikTok.

Respons pasar yang positif membuat Gufron dkk. makin tancap gas. Bahkan setelah mempertimbangkan kondisi pasar, mereka melakukan upgrading untuk gerai Haus! “Kami memutuskan membuat toko yang lebih besar. Akhirnya, muncul toko Haus! 4.0 yang luasnya 2-3 kali lebih besar di mana capex-nya mencapai Rp 400 jutaan,” katanya. 

Kebijakan tersebut diambil karena ternyata kelas menengah juga banyak datang ke gerai Haus! Tak seperti gerai sebelumnya, Haus! 4.0 memiliki tempat parkir. Sekarang, Gufron menjelaskan, porsi pasarnya sudah 50:50 antara menengah-bawah dan menengah. Mereka menjadi pembeli 1,2 juta cup per bulan di Haus! (sebelum pandemi Covid-19, mencapai 1,8 juta cup).

Pada akhirnya, situasinya seperti peribahasa “ada gula, ada semut”. Dengan omset Rp 14 miliar per bulan, Haus! memancing sejumlah pemodal ventura untuk datang. Desember 2020, Dana Ventura Sembrani Nusantara dari BRI Ventures menyuntikkan Rp 30 miliar ke IBN untuk pengembangan Haus! “Ada beberapa venture capital yang menghubungi kami. Yang paling cocok dan strategis adalah dari BRI Ventures,” Gufron menegaskan.

Pendanaan ini akan digunakan IBN untuk mengembangkan bisnisnya: 80% untuk memperluas cabang dan 20% untuk membuat aplikasi untuk customer loyalty. Khusus untuk penambahan gerai, tahun ini IBN akan menambah 100 gerai baru yang tersebar di Cirebon, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

Masuknya pemodal ventura telah membuat tim IBN makin percaya diri. Mereka kini telah memasang target tinggi. “(Kami) ingin IPO 3-4 tahun ke depan,” ujar Gufron penuh keyakinan.

“Kami juga menargetkan ekspansi ke luar negeri, seperti Malaysia, Filipina dan beberapa negara di Afrika,” tambah alumni Master of Business IT dari Royal Melbourne Institute of Technology itu. Seperti merek produknya (Haus!), Gufron dkk. juga semakin haus untuk terus berkembang. (*)

Teguh S. Pambudi & Niken Sri Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)