Jurus Adhitya Caesarico Dongkrak Penjualan Aerostreet

Adhitya Caesarico, pendiri dan Direktur Utama PT Adco Pakis Mas
Adhitya Caesarico, pendiri dan Direktur Utama PT Adco Pakis Mas.

Aerostreet, jenama sepatu lokal, membukukan penjualan ribuan pasang sepatu di toko dalam jaringan (daring) pada tahun 2020. Di masa pandemi Covid-19 ini, Adhitya Caesarico, pendiri dan Direktur Utama PT Adco Pakis Mas –produsen Aerostreet– mengimplementasikan strategi bisnis yang adaptif untuk memulihkan penjualan yang sempat menyusut di awal Maret 2020.

Adhitya mengisahkan, omzet sepatu sekolah bikinan Aerostreet turun 90%-95% di bulan Maret itu karena mobilitas masyarakat dibatasi untuk menangkal penyebaran virus corona. Kala itu, kapasitas produksi sepatu Aerostreet hendak ditingkatkan untuk memenuhi permintaan konsumen dari kalangan pelajar. Sayangnya, sekolah tatap muka ditiadakan sehingga berdampak terhadap penjualan sepatu sekolah Aerostreet.

Sebanyak 1.000 pasang sepatu sekolah mengendap di gudang lantaran tidak dibeli konsumen. Rico, demikian sapaan Adhitya, mengubah haluan dengan memproduksi sepatu ber-genre fashion agar bisnisnya tidak merugi.

“Perubahan dilakukan besar-besaran di Aerostreet, seperti mengubah sistem pemasaran dari konvensional ke online, menghentikan produksi sepatu sekolah dan beralih ke sepatu berwarna-warni yang beraksen fashion, menambah jumlah karyawan bagian research and development (R&D), belajar hal baru seperti membuat konten Instagram, dan menjual produk di e-commerce,” tutur Rico.

Penjualan di toko daring merupakan pengalaman baru bagi dia. Sebelumnya, penjualan Aerostreet mengandalkan toko konvesional yang tersebar di kota-kota besar di Sumatera, Sulawesi, hingga Papua.

“Ketika masuk ke sistem penjualan online, kami melakukan perubahan besar-besaran. Kami merekrut pegawai baru yang sebagian besar adalah milenial. Pegawai pemasaran konvensional dan produksi saya alihkan menjadi karyawan bagian customer service. Bahkan, salah satu pegawai yang berusia 50 tahun menjadi admin untuk membalas chat customer,” Rico menerangkan. Kini Aerostreet memiliki 1.600 pegawai.

Aerostreet gencar pula beriklan di media sosial. Inovasi produk juga digalakkan untuk menghasilkan varian sepatu yang memikat konsumen untuk membelinya. Guna menyokong inovasi, Rico merekrut 25 orang dari kalangan milenial untuk tim R&D, dari sebelumnya hanya 2-3 orang.

Contoh inovasinya, meluncurkan varian dan warna sepatu terbaru serta berkolaborasi dengan tokoh ternama, seperti grup band Endank Soekamti. Produksi Aerostreet dikerjakan di pabrik Klaten dan seluruh bahan baku berasal dari lokal. Demi menjamin kualitas, Rico mendorong pegawainya untuk memantau kualitas produk dengan mengecek seluruh sepatu yang diproduksi. Dulu, ketika masih memproduksi sepatu sekolah, metode ini relatif tidak dipraktikkan.

Perlahan-lahan penjualan meningkat. Kapasitas produksi sepatu fashion Aerostreet dipatok sebanyak 9 ribu pasang per hari. Sepatu ini dijual di toko daring, di antaranya aerostreet.co.id, Instagram, serta toko daring resmi Aerostreet di Shopee, JD.id, dan Tokopedia. Rico menyebutkan, penjualan di online ini lebih efisien dan cepat apabila dibandingkan cara konvesional karena model penjualannya: tim pemasaran memasok ke distributor sebelum dijual ke konsumen.

Pencapaiannya, antara lain, varian model sepatu Aerostreet Tiger 2D Cartoon terjual 3 ribu pasang dalam 30 menit, dan sepatu kolaborasi dengan Endank Soekamti itu sold out selama 14 menit sejak diluncurkan. Penjualan sepatu lokal ini diapresiasi berbagai pihak, antara lain dr. Tirta, penggiat kesehatan sekaligus pebisnis sepatu.

Konsumen Aerostreet terbanyak berdomisili di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, juga di Kota Palembang, Kota Makassar, dan kota-kota besar di Kalimantan. “Konsumen dari kalangan milenial, cowok 51% dan cewek 49%. Customer dari semua kalangan karena harganya memang terjangkau,” kata Rico.

Harga sepatu Aerostreet di bawah Rp 100 ribu/pasang. ”Penjualan sekitar 6 ribu pasang per hari,” ungkapnya.

Cikal bakal sepatu fashion Aerostreet itu diawali dari sepatu Aerostreet Tiger 2D Cartoon. Ini adalah produk sepatu berwarna cerah dalam dua dimensi. “Idenya dari saya dan belum ada yang membuat produk serupa. Mungkin dari ide ini penjualan sepatu Aerostreet booming. Dari situ, kami terus berinovasi mengeluarkan produk baru dan unik,” kata Rico. Kendati telah menuai sukses, pria kelahiran 34 tahun silam ini ingin melanjutkan inovasi yang menjadi kunci keberhasilan mendongkrak penjualan di era pagebluk ini.

Bisnis sepatu sekolah Aerostreet dirintis Rico pada 2015. Dia  menjualnya secara konvensional, seperti ke ritel, grosir, dan pasar. Saat itu, diproduksi 12 ribu pasang sepatu sekolah. Perlahan-lahan, bisnis Aerostreet berkembang hingga awal 2020.

Tatkala pandemi Covid-19 menghantam dunia bisnis, seperti disinggung di atas, omzet Aerostreet menyusut. Rico segera berbenah untuk meningkatkan omzet yang teralisasi sejak pandemi melanda hingga awal 2021 ini. Dia menggalakkan kampanye meningkatkan citra merek sepatu lokal bertajuk #LokalTakGentar untuk mengerek persepsi konsumen mengenai kualitas sepatu lokal yang tak kalah dengan sepatu impor. (*)

Andi Hana Mufidah Elmirasari & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)