KaIND, Sustainable Fashion Besutan Melie | SWA.co.id

KaIND, Sustainable Fashion Besutan Melie

Merek lokal ini bukan busana semata. Selain memberdayakan petani sutra lokal, ia juga mengusung ekonomi sirkular.

Melie Indarto, Founder & Director kaIND.
Melie Indarto, Founder & Director KaIND.

Cukup sewindu bagi KaIND untuk unjuk gigi, menorehkan prestasi, sekaligus memberikan dampak besar. Dikibarkan mulai tahun 2014, produk tenun dan batik ini telah menjadi langganan para pesohor negeri.

KaIND juga menjadi cenderamata resmi perhelatan dunia G20. Sang perintis, Melie Indarto, bahkan meraih posisi nomor wahid dalam ajang Pengusaha Muda BRILian 2022 yang digelar BRI, mengalahkan ribuan UMKM lainnya.

Sulit dimungkiri, prestasi itu tercapai berkat daya tarik produk KaIND yang menggunakan bahan dasar sutra eri yang dikembangkan petani sutra lokal di Pasuruan, Jawa Timur. Seperti diketahui luas, sutra eri dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan dan alami.

Namun, yang paling menarik adalah Melie menjalankan bisnisnya dengan menerapkan nilai-nilai circular fashion, yakni empower village, preserve heritage, ethical silk cultivation, circular fashion, dan fair trade. Bagaimana dia mengembangkan elemen keberlanjutan tersebut?

Benar kata orang: cinta sering menjadi landasan kuat untuk berbisnis. Begitu pun Melie. Perempuan kelahiran 1989 itu menuturkan usahanya terbentuk karena kecintaannya kepada fashion dan tanah kelahirannya, Pasuruan.

“Saya ingin memberikan dampak bagi daerah saya. Tahun 2014, saya blusukan mencari tahu ada potensi fashion apa di Pasuruan. Akhirnya, bertemu dengan desa penenun, pembatik, petani sutra. Secara bisnis mereka tidak sustain. Kemudian, saya membangun komunitas dan brainstorming tentang cara membuat produk yang nyaman,” tuturnya.

Berbekal pendidikan serta pengalaman berkarier di dunia mode, Melie membina para petani sutra eri di Pasuruan. Kepada mereka, dia memperkenalkan tren fashion, membangun komunitas, hingga membantu modal untuk bibit, pakan, serta peratalan lain yang dibutuhkan. Semua dana dirogoh dari koceknya.

Maka, muncullah KaIND. “Nama KaIND diambil karena produknya kain. Pakai IND supaya ada kesan Indonesianya. IND juga inisial dari nama saya Indarto. Dan, penyebutannya menyerupai bahasa Inggris ‘kind’ yang artinya baik,” Melie menjelaskan filosofi nama mereknya.

Dalam melakukan budidaya ulat sutra, Melie menggunakan cara yang ethical, yakni tidak membunuh pupa dalam kepompong, melainkan dikeluarkan satu per satu sehingga ulat tidak mati dan dapat bermetamorfosis menjadi ngengat sutra seminggu kemudian. “Sebelum saya datang itu, ulatnya dimatikan. Saya coba mengubah sistem itu.”

Lazimnya bisnis baru, Melie tak bisa langsung berlari. Dia menjual produknya ke teman-teman terdekat melalui website dan marketplace. Namun, seiring dengan waktu yang bergulir, produk kaIND mampu merebut pasar.

Tahun 2017, untuk mewadahi permintaan yang kian meningkat, Melie pun resmi mendirikan CV Karya Temanesia guna menaungi kaIND sekaligus mendaftarkan mereknya ke HAKI. Sejak itu, kaIND pun mulai wara-wiri di pameran-pameran besar di Jakarta, seperti Inacraft, Trade Expo, serta aneka pameran yang dihelat beberapa kementerian.

KaIND semakin menemukan kekuatannya pada tahun 2019 ketika Melie membentuk tim riset dan pengembangan yang memungkinkannya melakukan proses fabrikasi sutra eri. Tak berhenti sampai di situ, sutra eri ini kemudian dikombinasikannya dengan bahan tencel, yang menjadi sebuah inovasi baru.

“Jadi, kami melakukan perpaduan antara serat eri dan tencel, sehingga saat ini komposisi materialnya 30% eri silk dan 70% tencel. Perpaduan inilah yang membedakan kami dengan yang lain,” katanya bangga.

Mengusung konsep ramah lingkungan, dalam hal pewarnaan, KaIND menggunakan pewarna dari bahan alami yang ada di sekitar area produksinya, seperti daun mangga, secang, atau mahoni. Melie juga menyebut semua produknya dibuat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Dalam hal ini, KaIND memiliki lebih dari 50 artisan.

Perihal motif, tema Pasuruan diangkat Melie dalam motif-motif pada produk tenun dan batiknya, seperti motif bunga, gunung bromo, pasir berbisik, chrysantemum, dan simbol ikonik Pasuruan lainnya. KaIND juga menampilkan sticker artisan yang berisi info tentang nama penenun atau pembatiknya di setiap produk.

“(Ini) Supaya product knowledge tersampaikan dengan baik, karena KaIND kan tidak hanya berjualan produk, tetapi juga ingin menyampaikan story telling tentang local wisdom yang diangkat dalam produk,” ucapnya.

Selain proses membatik yang menggunakan bahan ramah lingkugan, Melie mengatakan, aktivitas produksinya pun tidak menggunakan air dari tanah, melainkan membuat kolam penampungan air hujan dan kolam filter untuk menyaring semua air yang akan dipakai. Dia juga mengupayakan zero waste melalui pengolahan limbah produksi, di antaranya dimanfaatkan untuk produk daur ulang. Selain itu, tidak menggunakan plastik. Bahkan, untuk brand tag, digunakan tali.

Kepada para pengrajinnya, Melie memberikan kesempatan untuk melengkapi keterampilan dengan berbagai pelatihan dan menyediakan ruang kerja yang nyaman. “Orang yang gabung di KaIND harus di-uwongke. Makanya, workshop kami dirancang senyaman mungkin, sirkulasi udara bagus. Bahkan, banyak rombongan yang datang ke workshop kami untuk eduwisata. Mereka melihat alur produksi dari awal sampai akhir,” dia menjelaskan.

Tanpa dinyana, KaIND akhirnya dilirik pemerintah. Melie diminta membuat suvenir resmi bagi perwakilan negara-negara undangan di acara G20 di Bali. Sebanyak 400 small scarf dikerjakan dalam waktu dua minggu.

Pada gilirannya, keberhasilan memberdayakan sutra eri lokal yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pasar membuat Melie optimistis para petani sutra di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan nasional. Hal inilah yang ingin digaungkannya kelak. Dia ingin menyampaikan bahwa sudah ada sutra lokal di Indonesia yang sebetulnya siap ke level industri.

Dia juga berharap ada kemandirian serat di Indonesia, karena sebenarnya serat Indonesia itu banyak, seperti nanas dan daun pisang, yang bisa menjadi baju sehingga sebetulnya tidak perlu impor. “Inilah yang perlu perhatian, perlu banyak offtaker lain yang menangani di setiap daerah,” ujarnya.

Berangkat dari nol, saat ini KaIND telah memiliki lebih dari 50 SKU, mulai dari scarf, baju, outer, kemeja, dress, hingga alas kaki. Keseluruhan produk berada di rentang harga antara Rp 300 ribu dan Rp 1,6 juta. kaIND saat ini bisa memproduksi 12 pcs. sehari atau mencapai 300-500 pcs. sebulan.

Melie mengatakan, selain melalui kanal online, produk-produk KaIND juga dipasarkan melalui toko, mal, dan hotel, di wilayah Jakarta dan Bali. “Sekarang ada di 10 toko. Keinginan saya, bisa mencapai 50 toko nantinya,” ujarnya.

Untuk selanjutnya, Melie punya banyak rencana. Terutama, berinovasi menggunakan variasi benang lain di luar tencel, seperti rayon silk atau cotton silk. Tentunya, dengan mempertahankan unsur utama KaIND: menggunakan ATBM. (*)

Yosa Maulana

www.swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)