Manisnya Bisnis Es Krim Pasangan Andromeda

Andromeda Sindoro & Yuki Rahmayanti.
Andromeda Sindoro & Yuki Rahmayanti.

Jajanan Yogya dikenal serba manis: bakpia, geplak, enting-enting, bahkan gudeg pun terasa manis bagi sebagian besar lidah masyarakat Indonesia. Namun, bukan karena alasan itu yang mendorong lahirnya Sweet Sundae Ice Cream, es krim asli Indonesia. Es krim ini lahir bukan untuk melengkapi barisan jajanan Yogya yang manis-manis, melainkan murni karena ketidaksengajaan ketika membantu memberdayakan peternak sapi di Sleman, Yogyakarta.

Andromeda Sindoro (32 tahun), yang saat itu masih kuliah di semester VI Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai asisten dosen, bersama teman-temannya diminta membantu proyek dosen membina peternak sapi perah di daerah Cangkringan, Kaliurang. Pada waktu itu --kira-kira medio 2008-- Andro mendapat keluhan dari para peternak tentang harga susu yang jatuh. Ia dan teman-temannya pun mencari jalan keluar lain bagi para peternak, sampai akhirnya muncul ide mengolah susu menjadi es krim. Kebetulan, pembuatan es krim dari susu sapi menjadi salah satu pelajaran di Fakultas Peternakan UGM.

Bersama empat temannya, termasuk Yuki Rahmayanti yang kini menjadi istrinya, selepas proyek selesai, Andro mencoba membeli susu sapi peternak dengan harga lebih tinggi, lalu diolah menjadi es krim agar harga jualnya naik. “Ternyata, penjualannya bagus dan kami berkembang,” ujarnya. Ia memulai dengan menjajakan es krim buatannya di kantin kampus.

Tidak berhenti di situ, ia terus memperbaiki produk karena optimistis bahwa bisnisnya yang masih bayi itu bisa dikembangkan lebih baik dan lebih besar lagi. Ia dengan semangat meminta masukan dari dosen-dosennya serta menggali ilmu dari internet untuk perbaikan kualitas es krimnya.

Dalam perjalanannya, dua rekan bisnis Andro memilih mundur, hingga tersisa Yuki yang notabene istri sendiri. Andro dan Yuki sepakat meneruskan usaha es krim yang saat itu mereka namakan Yogya Ice Cream. Mereka berdua memanfaatkan tabungan pribadi sebagai modal awal. Selain itu, Andro pun rajin mengikuti kompetisi kewirausahaan mahasiswa. Hadiah uang yang diperoleh saat menang menjadi tambahan suntikan modal usaha dan untuk membeli mesin guna memperbesar skala produksi.

Titik balik terjadi usai mengikuti kompetisi startup yang diselenggarakan sebuah produsen bahan bakar minyak multinasional. Setelah Yuki menyelesaikan kuliahnya pada 2011, mereka memantapkan niat fokus menata bisnis. Bisnis yang semula bernama Yogya Ice Cream, karena tidak bisa dipatenkan, diubah menjadi Sweet Sundae Ice Cream.

Agar makin berkembang, Andro juga mengubah model bisnisnya. Semula es krim produksinya dijual dengan dititipkan di warung-warung, kemudian ia mulai mengubah strategi penjualan ke business to business dengan menawarkan produknya ke hotel, restoran, dan katering (horeka). Selain menawarkan ke horeka di Yogya, ia meluaskan pasar ke kota-kota di sekitar Yogya, seperti Solo, Semarang, Magelang, dan Ambarawa.

Menurut Andro, es krim Sweet Sundae memiliki standar produksi tersendiri untuk menjaga kualitasnya. Susu sapi segar yang dipakai sebagai bahan baku didatangkan langsung setiap pagi dan segera diolah sebelum masuk ke lemari pendingin. Ia mengungkapkan, produk yang dibuat menggunakan bahan lokal, alami, dan halal. Produknya pun tidak memakai bahan pengawet, perasa, dan pewarna. Produknya dibuat menggunakan 100% susu segar dari peternak lokal.

Tahun 2015 Andro mulai membuka distributor. Waktu itu yang menjadi distributor cukup banyak hingga luar Pulau Jawa. Namun, seiring berjalannya waktu, yang sampai sekarang aktif dan besar ada di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Kemudian tahun 2016, ia berani mengirim kepala peternak ke Australia selama sebulan untuk mengikuti pelatihan.

Titik balik terjadi tahun 2017, Andro meluncurkan brand premium beserta tokonya yang terletak di daerah Lempongsari, Yogyakarta, yaitu Ademuy Gelato. Gelato ini menggunakan bahan lokal, murni, dan semuanya hasil dari peternak sapi lokal dan petani lokal (untuk varian rasa dan bahan-bahan lainnya).

“Kami meluncurkan gelato untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar yang ternyata bervariasi, bukan hanya menyukai es krim,” ungkap Andro yang pada tahun itu menjadi juara dua untuk lomba Entrepeneur Muda Syariah BI tingkat nasional. “Sejak itulah, kami mulai bekerjasama dengan instansi pemerintahan, terutama Kementerian Pariwisata dan Kementerian Koperasi,” ungkap Andro yang pada 2019 dikirim Kemenkop untuk mengikuti Asia Pacific Economy Conference (APEC).

“Di sana kami menjadi juara 1 dan berkesempatan mempresentasikan Sweet Sundae di depan Teten Masduki,” ujarnya. Kemudian, bisnisnya berhasil menjadi UMKM binaan Bank Indonesia Jawa Tengah.

Terakhir, Sweet Sundae Ice Cream mendapatkan penghargaan Best of the Best Challenger DSC|X 2019 yang digelar Wismilak. Andro pun mendapat hibah modal usaha Rp 220 juta ditambah penghargaan senilai Rp 50 juta. "Modal ini nantinya akan saya gunakan untuk memperluas ruang produksi agar target saya menyuplai perusahaan-perusahaan bisa segera terealisasi. Kami juga sedang menggodok aplikasi untuk masyarakat berinvestasi sapi perah. Saat ini kami masih mengurus izin ke OJK," ungkapnya.

Bagi Andro yang saat ini membina 935 KK dengan total 2.600 ekor sapi, tantangan yang dihadapi adalah belum memiliki pengalaman yang banyak, dan belum punya kredibilitas yang cukup untuk bisa menyampaikan ide memberdayakan peternak sapi lokal ke pemerintah ataupun investor.

“Dulu kalau kami mau mengajukan pinjaman, sangat rumit prosesnya. Tapi melalui berbagai perlombaan yang kami ikuti, juga usaha kami membangun jejaring, sekarang kami punya cukup modal dan kredibilitas untuk terlibat dalam proyek-proyek besar dalam menjalankan misi kami tersebut,” katanya. Ia  bangga karena sudah dipercaya investor untuk menjalankan tiga  proyek berbeda yang sedang berlangsung saat ini.

Kini ada dua produk yang dikembangkan.. yaitu Sweet Sundae yang disuplai ke horeka dan Ademuy Gelato yang store-nya ada di Yogyakarta dan Jakarta. Adapun varian yang dijual yaitu natural gelato, natural ice cream, pasteurisasi milk, natural icem cream powder & softmix, greek yoghurt, dan mozarella cheese. Bahkan, mereka menerima pesanan customize dairy products.

Dari semua produk, yang paling diminati adalah es krim ukuran 10 liter. Horeka biasanya memakai itu. Sebagai gambaran, satu katering bisa order minimal 80 ember 10 liter (800 liter es krim) sebulan untuk pesta pernikahan. Apalagi, kalau satu katering tersebut memegang lebih dari satu pernikahan dalam sehari, jumlah pesanan bisa lebih dari 80 ember. “Di Yogyakarta, kami pegang 26 katering. Ini baru bicara katering, belum bicara kafe, restoran, dan hotel. Jadi, kami melihat pangsa horeka ke depan masih potensial,” katanya bangga.

Bagi Andro, dalam menjalankan bisnis, yang penting adalah misi meningkatkan value susu dari peternak lokal. “Kami mengedepankan close circle yang berputar di peternak sebagai pemain utama dan kami sebagai pengolah,” ia menegaskan. Sehingga, hasil dari peternak akan kembali untuk peternak.

Saat ini, permasalahan utama koperasi susu bukan pada fasilitasnya, melainkan pada kemampuan mereka untuk branding dan menjual. Soal perawatan sapi dan lain-lain, menurut Andro, tidak perlu diragukan.

Benchmark kami dalam mengembangkan koperasi sapi adalah Friesland Campina di Belanda. Mereka adalah koperasi susu dengan sumber daya yang besar, bahkan revenue-nya lebih dari industri yang mereka suplai,” Andro bercerita. Sehingga, Friesland Campina menciptakan produk sendiri dan menjadi perusahaan susu dengan berbagai akuisisi. “Di Indonesia, saya inginnya seperti itu. Tetapi, kebanyakan peternak sapi kita tidak memiliki pengalaman branding dan jual,” ia mengeluhkan.

Namun, Andro tetap optimistis melihat ke depan. Pandemi Covid tidak mengendurkan semangatnya. Di awal-awal penjualan memang sempat turun, tetapi kini kondisi mulai menggeliat lagi, terutama kafe dan restoran karena mereka bisa melayani pesan-antar. Begitu juga dengan katering dan hotel, sedikit demi sedikit mulai naik lagi.

Bahkan, saat ini Andro sedang dalam proses membangun pabrik. Ia ingin memperluas cakupan distributor ke kota-kota lain di seluruh Indonesia. “Paling tidak satu provinsi satu distributor sehingga seluruh horeka di kota/kabupaten bisa mendapat supply dari distributor tersebut. Tapi distributor ini bentuknya diusahakan adalah store, karena selama ini distributor kami adalah rumahan,” katanya menegaskan. (*)

Dyah Hasto Palupi/ Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)