Jurus Dimas Jadikan DBM Case Digandrungi Musisi

Beberapa tahun belakangan ini, ada produk lokal yang sukses mencuri perhatian pemusik Tanah Air -dari profesional hingga amatir- khususnya pemain gitar dan bass. Produk yang kerap berseliweran di jagat media sosial musisi papan atas ini adalah DBM Case, besutan Dimas Bagus Mulanda.
Sejak masuk ke pasar di akhir 2014, tas spesialis instrumen musik (biasa disebut softcase atau gigbag) yang mereknya menggunakan akronim pendirinya ini mampu bersanding dengan gigbag luar negeri. Tidak jarang produknya ludes dalam waktu singkat.
Apa rahasia DBM Case bisa laris manis?
Semuanya berawal dari kejelian Dimas melihat peluang ketika menjadi gitaris profesional semasa kuliah. Akrab dengan berbagai peralatan musik, anak muda 32 tahun ini mendapati satu fakta: belum banyak tas gitar merek lokal yang bisa melayani pesanan custom (dibentuk sesuai pesanan).
Bermodalkan uang dari menjual gitarnya, Dimas terjun mempelajari seluk-beluk pembuatan tas sampai ke akar-akarnya. Mulai dari mengulik bahan baku di Pasar Tanah Abang, menganalisis produk asing yang eksis di pasar, hingga rela bolak-balik dari rumahnya di Jakarta Utara ke Serang, Banten, untuk berguru pada penjahit, tak ragu dilakoninya.
Dari keuletannya itu, Dimas akhirnya bisa menemukan pola softcase-nya sendiri. “Tahap riset inilah yang sangat bernilai. Demi mencari komposisi yang pas. Inilah kenapa DBM bisa menerima custom karena saya mempelajari komposisi tas. Mungkin kalau saya tidak belajar bikin tas, belum tentu DBM bisa custom,” tuturnya.
Namun, jalan sukses tak semudah menjentik senar gitar. Awalnya, Dimas menawarkan secara door to door ke teman-temannya. Sampai akhirnya, pada 2015 produknya dilirik toko musik Chic’s Rawamangun dan MG Music. Mereka memintanya untuk menjual DBM di sana.
Saat itu, kata Dimas, DBM diminati pelanggan karena menerapkan motif kotak-kotak, desain yang kontras dengan gigbag merek lain yang didominasi warna polos. Dari sini, DBM Case mulai melenggang ke pasar yang lebih luas dengan mass product-nya. Jangan heran, tahun 2017 DBM Case sudah mencicipi profit.
Keharuman namanya kemudian tercium dua penggawa gitar Tanah Air, Aria Baron dan Baim. Keduanya pun merasa puas dengan pesanan custom-nya dan membagikan pengalamannya itu di media sosial.
Sejak itu, DBM Case makin melejit serta menjadi langganan di kalangan musisi. Nama-nama seperti Tohpati, Dewa Budjana, Eross SheilaOn7, Andra Dewa19, hingga Once dan Raisa turut memesan DBM Case buat peralatan musiknya.
Situasi ini tidak disia-siakan Dimas. Seiring waktu berjalan, menjaga hubungan baik dengan musisi ternama menjadi bagian dari strateginya.
“Itu inisiatif mereka sendiri karena puas dengan DBM. Produk custom di Instagram DBM ataupun yang diunggah oleh pembeli berseliweran, membuat orang melihat merek DBM kemudian mencarinya di toko musik. Ini merupakan promo berjalan,” tuturnya.
Dimas sadar betul keunggulan DBM Case yang mampu membuat pesanan custom harus terus dijaganya. Karena itu, dia mengawal langsung prosesnya: mulai dari riset, desain, hingga arahan ke penjahit di pabriknya di Tanjung Priok, Jakarta.
Dia menggunakan sistem antrean. Untuk pemesanan mass product, pihak toko biasanya harus menunggu tiga minggu untuk dikirim lagi jika sudah habis. Sementara untuk custom, kuotanya 7-8 tas per minggu.
Dibanderol mulai dari Rp 600 ribu, DBM Case kini sudah tersebar di toko musik di 12 kota. Sebelum pandemi, DBM Case mencatatkan penjualan sekitar 300 tas dalam sebulan. “Tahun 2018-2019 itu puncak penjualan,” ujarnya.
Di tengah situasi pandemi, Dimas mengaku DBM Case mampu kokoh bertahan, bahkan penjualannya meningkat signifikan. Bagaimana bisa?
Dia menjelaskan, penjualan DBM sempat menurun drastis di awal pandemi lantaran banyak toko musik yang bangkrut. Melihat hal ini, dia menerapkan strategi baru: masuk ke segmen pasar kelas C dengan meluncurkan second brand, NB Cas, pada Juni 2020, yang dibanderol Rp 300 ribu.
Hasilnya, ciamik. Penjualan NB Case melampaui DBM Case. “Ini strategi bertahan kami,” ujarnya. Cara bertahan lainnya adalah mengerjakan secara original equipment manufacturer (OEM) untuk merek lain.
Tak mengherankan, kini DBM Case memiliki empat lini bisnis: DBM Case, NB Case, Custom Product, dan OEM. Selain di Indonesia, Dimas juga telah memiliki dealer di negeri jiran, Malaysia dan Singapura. Dari empat lini bisnisnya itu, DBM Case terjual sekitar 400 buah setiap bulan. “Omzet ratusan juta rupiah per bulan,” ungkap Dimas.
Belajar dari perkembangan semasa pandemi, Dimas akan menetapkan positioning bagi kedua mereknya: DBM tas gitar premium untuk kelas A, sementara NB buat kelas di bawahnya. Demi mewujudkannya, dia secara bertahap merilis seri terbaru kedua merek. Awal tahun lalu diluncurkan seri DBM X dengan fitur tambahan port USB dan neck rest. Lalu, NB Pro Dual Guitar yang mampu menampung dua gitar sekaligus.
“Ini dalam rangka coba-coba pasar. Ke depannya, saya mau memosisikan DBM sebagai tas gitar premium di Indonesia. Menjadi local pride-nya tas gitar,” ujarnya tandas. (*)