Martin Reyhan dkk., Lewat Otoklix Hubungkan Bengkel dengan Pelanggan
Dalam urusan servis atau perawatan kendaraan, tidak jarang konsumen menggunakan jasa bengkel independen. Alasannya: jarak yang dekat, reparasi yang bisa sesuai dengan kebutuhan, dan tentu saja faktor biaya yang relatif lebih murah dibandingkan bengkel resmi.

Namun, tak selamanya memanfaatkan bengkel independen sepi dari masalah. Isu yang kerap muncul biasanya adalah transparansi (harga dan informasi) serta waktu pengerjaan yang tidak menentu lantaran model manajemennya sederhana.
Inilah yang dialami langsung Martin Reyhan Suryohusodo. “Dulu saya pernah punya mobil, tapi lebih sering di bengkel daripada digunakan. Saya juga pernah beli lampu angel eyes seharga Rp 2 juta. Ketika saya tanya ke komunitas mobil, ternyata harganya hanya Rp 500 ribu. Di situlah saya merasa telah ditipu dan ingin mengubah keadaan itu,” tuturnya.
Terinspirasi dari pengalamannya sebagai konsultan keuangan yang pernah membantu sebuah perusahaan ritel di Australia bertransformasi ke konsep omnichannel, Martin optimistis bisa mewujudkan keinginannya karena melihat bisnis bengkel belum terjamah oleh konsep ini. Dia menggandeng kawannya, Joseph Alexander Ananto, menggodok ide tersebut sampai akhirnya bertemu Benny Sutedjo. Sosok yang telah malang melintang di industri otomotif lebih dari 20 tahun ini melengkapi ide mereka untuk direalisasikan.
Bermodal tidak lebih dari Rp 2 miliar, berdirilah Otoklix pada 2019. Konsep yang diterapkan adalah O2O (online to offline). Artinya, Otoklix menghubungkan pemilik mobil dengan bengkel melalui aplikasi yang menyajikan lokasi beserta informasi detail tentang bengkel, termasuk booking jadwal servis.
“Kami menyortir bengkel yang bagus dan dapat diandalkan (melakukan kurasi). Tujuannya, membuat transparansi harga sehingga pemilik mobil bisa dengan mudah mencari bengkel yang tepat dan bisa melihat harga yang telah ditentukan,” kata Martin.
Lelaki yang didapuk menjadi CEO Otoklix itu mengatakan, targetnya adalah bengkel umum berkapasitas pengerjaan lima mobil per hari atau mempunyai 2-3 parking slot. “Fokus kami adalah bengkel menengah, kami mencoba memberdayakan mereka,” kata pria kelahiran 1995 itu.
Model bisnis Otoklix sederhana. Mitra bengkel yang sudah dikurasi dimasukkan dalam aplikasi, lalu ada yang diposisikan menjadi powered atau official store seperti di marketplace.
Kepada bengkel tersebut, Otoklix membantu meningkatkan kualitasnya. Caranya, memberikan sistem untuk administrasi dan operasional, branding, membantu suku cadang dari distributor resmi, hingga menyiapkan orang melakukan quality control guna memastikan pemilik mobil merasakan experience yang baik. Semua ini dilakukan, kata Martin, agar terwujud transparansi serta penanganan mobil yang benar dan tepat waktu.
“Konsumen akan disambut oleh ambassador yang akan menerangkan permasalahan mobilnya. Setelah selesai servis, mereka juga akan menjelaskan tentang komponen mobil secara detail, sehingga transparansi dan reliablility-nya terjaga. Pengalaman konsumen dalam menggunakan Otoklix juga terbentuk,” katanya menjelaskan.
Selain transparansi, pelanggan pun mendapatkan car health record agar bisa memperkirakan waktu servis berikutnya sekaligus mengetahui kondisi suku cadang mobilnya. Otoklix pun memberikan jaminan satu bulan untuk mobil yang telah diservis.
Dalam menjalankan Otoklix di fase awal, Martin berperan mencari investor, serta memimpin bagian produk, teknologi informasi, human resources, dan keuangan. Benny memimpin bagian pengadaan untuk memastikan suku cadang bisa sampai ke bengkel dengan baik dan tepat waktu. Adapun Joseph fokus pada operasional bagian ritel, bertanggung jawab dalam implementasi produk ke bengkel serta konsumen.
Perjuangan Martin dan kawan-kawan berbuah manis. Perusahaan rintisan mereka mengantongi pendanaan awal senilai US$ 2 juta (Rp 28 miliar pada Desember 2020), yang dipimpin Surge, program akselerator milik Sequoia Capital India. Turut berpartisipasi dalam pendanaan itu: GK Plug and Play, Kenangan Investment Fund 1, Lentor Ventures, Noble Star Ventures, dan Andree Susanto selaku pendiri Waresix.
Sampai Juni 2021, ada 2.176 bengkel yang sudah dirangkul. Sebanyak 156 bengkel berstatus powered atau official. Otoklix menargetkan menggandeng lagi 250 bengkel di 215 kecamatan di Jabodetabek sampai akhir tahun 2021 sebelum berekspansi ke kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Bandung di tahun 2022.
“Targetnya, kami memiliki satu bengkel di setiap kecamatan di Jabodetabek. Selain itu, juga tidak menutup kemungkinan kami masuk ke wilayah tier 2,” ungkap Martin.
Dia menambahkan, pandemi Covid-19 sangat berdampak pada bisnis: revenue turun 90%. Kendati pandemi menjadi masa yang sangat sulit bagi bisnis bengkel, di sisi lain, kondisi ini menjadi momentum Otoklix untuk berinovasi.
Di antaranya, membantu mencarikan konsumen untuk bengkel dengan inovasi home pick up delivery (penjemputan gratis) agar konsumen bisa tetap melakukan servis di masa pandemi dengan aman. Mobil pelanggan akan dicek dan dijemput tim Otoklix. Setelah selesai, mobil diantarkan kembali dengan protokol ketat seperti sterilisasi mobil.
Inovasi lainnya, berkolaborasi dengan OLX Auto meluncurkan produk Otoklix Guarantee Plus. Konsumen yang membeli mobil bekas dari OLX mendapat garansi mobil selama satu tahun yang bisa diaktivasi di bengkel Otoklix.
Pencapaian yang ada tak membuat Martin dkk. berpuas diri. Dalam tiga tahun ke depan, Otoklix berencana melayani seluruh kebutuhan mobil konsumen (one stop solution), dari pembelian yang bekerjasama dengan OLX Auto, servis, hingga perpanjangan asuransi dan STNK. “Selain itu, di awal tahun 2023 kami ingin masuk ke pasar sepeda motor dan trucking,” ungkap Martin. (*)
Yosa Maulana & Anastasia AS