Nusantics, Biotech Startup yang Makin Kinclong di Era Covid

Vincent Kurniawan,  Sharlini Eriza Putri dan Revata Utama.
Vincent Kurniawan, Sharlini Eriza Putri dan Revata Utama.

Tak salah bila menyebut Nusantics sebagai startup yang tengah naik daun. Belum lama ini diberitakan startup ini digandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Biofarma, sebagai bagian dari tim Task Force pembuatan test kit Covid-19. Nusantics ditugaskan membuat prototipe, koordinasi bahan baku, dan transfer knowledge ke Biofarma. Setelah prototipe hasil pengembangan Nusantics tersebut jadi, BPPT, Bio Farma, dan Indonesia International Institute for Life Science akan memproduksinya secara massal.

Test kit yang didesain Nusantics itu diberi nama BioCoV TFRIC-19. Per akhir Juni 2020, sudah didistribusikan 100.000 test kit secara bertahap ke seluruh Indonesia.

Siapakah Nusantics? Perusahaan ini merupakan usaha rintisan (startup) yang bisnisnya mengaplikasikan teknologi genomik ke indusri. Genomik adalah studi yang mempelajari genome, termasuk bagaimana organisme bekerja dan apa interaksinya dengan organisme lainnya. Nusantics mendiagnosis keberagaman microbiome di tubuh manusia untuk diaplikasikan pada perbaikan gaya hidup, khususnya menarget orang-orang yang peduli kesehatan.

"Kami sudah meriset microbiome kulit sejak tahun lalu. Teknologi yang kami gunakan rupanya sama dengan teknologi yang dipakai untuk mengidentifikasi Covid-19. Bahkan, background tim Nusantics juga dari medical diagnose. Di bulan Maret, kami menawarkan diri untuk mendesain test kit Covid-19," tutur co-founder yang juga CEO Nusantics, Sharlini Eriza Putri.

Nusantics didirikan oleh tiga sekawan, yakni Sharlini, Revata Utama, dan Vincent Kurniawan. Sharlini adalah lulusan Teknik Kimia ITB dan mengambil master di Imperial College London di bidang Sustainable Energy. Revata (sebagai CTO) yang sebelumnya bekerja di perusahaan diagnosis medis di Singapura adalah ilmuwan bioteknologi genomik lulusan National University of Singapore. Adapun Vincent (COO) lulusan California State Polytechnic University-Pomona (SA), yang sudah terlibat di banyak proyek global untuk meneliti pola hubungan mutasi DNA.

Mereka bertiga tertarik mendirikan startup ini berdasarkan pengalaman mereka sebagai engineer. Mereka juga menemukan kesadaran bahwa inovasi industri di Indonesia masih terbatas karena ketidakpahaman terhadap life science dan microbiome. "Riset dan pengetahuan microbiome yang luas harus ada karena microbiome bisa menjawab perbedaan keadaan tubuh masing-masing individu," Sharlini menjelaskan.

Namun, menyadarkan tetang hal itu jelas tak mudah, apalagi membisniskannya. Karena itu, dalam rangka aplikasi ilmu dan teknologi yang digagas tim Nusantics, mereka memulainya dengan menggarap industri kecantikan terlebih dahulu yang dianggap lebih siap, bukan industri pangan.

"Kalau kita penetrasi pasar dari food industry dahulu, akan susah. Pemahaman masyarakat tentang microbiome di industri pangan masih jauh. Kenapa kita masuk ke industri kecantikan karena market sudah ada dan sangat potensial untuk dibisniskan. Kami fokus pada riset yang hasilnya mau dibeli orang," kata Sharlini. “Contoh mudahnya, kalau kulit berjerawat, berarti microbiome-nya tidak seimbang. Sementara orang yang microbiome-nya seimbang dan beragam, keadaan kulitnya bagus. Lebih mudah menjelaskannya," tambahnya.

Saat ini Nusantics menyediakan jasa screening kondisi kulit dengan memberikan full report. "Contoh, di kulit si A ada spesies microbiome apa, bagaimana keseimbangan microbiome-nya. Lalu, kami berikan solusi bahan-bahan apa yang bisa membantu mengembalikan keseimbangan microbiome," kata Sharlini. Sejauh ini, Nusantics yang berkantor di Jl. Senopati, Jakarta, memiliki tiga layanan, yakni Nusantics Biome Scan, Nusantics Biome Facial Bar, dan Nusantics Biome Beauty.

"Di luar negeri, microbiome telah menjadi sesuatu yang booming. Sebenarnya microbiome bisa digunakan untuk banyak hal. Di Korea Selatan, Jerman, Amerika, pemilihan makanan atau treatment menurut microbiome sudah menjadi hal yang diperhatikan, tapi di Indonesia memang masih asing," katanya. Tak mengherankan, pihaknya juga masih sulit mencari lebih banyak orang yang memiliki technical competency untuk diajak bergabung dalam Nusantics. Didukung 10 anggota tim, pihaknya kini membutuhkan lebih banyak peneliti, pakar AI, dan pemasar.

Karena keahliannya itu, Nusantics kemudian diajak bergabung menjadi bagian dari Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC-19) yang dibentuk BPPT. "Bulan Maret lalu kami menawarkan diri untuk mendesain test kit Covid-19. Test kit-nya tidak terlalu rumit dan bisa dirakit di dalam negeri dalam waktu yang singkat," Sharlini menceritakan mengapa Nusantic terlibat dalam gugus tugas lembaga pemerintah tersebut. Dalam proyek ini, Biofarma yang menyediakan fasilitas dan sumber daya manusia untuk memproduksi test kit secara massal serta mendistribusikannya ke seluruh Indonesia.

Yang pasti, dalam rangka pengembangan bisnisnya ke depan, Nusantics telah menerima funding dari lembaga modal ventura, East Ventures. Suntikan dana tersebut akan digunakan untuk mengakselerasi pengembangan teknologi, meluncurkan bisnis, dan memperkuat riset. Ya, keberadaan Nusantics jelas bisa memacu kalangan anak muda terdidik lainnya di negeri ini untuk melahirkan usaha-usaha rintisan yang berbasis riset dan keilmuan, sebagaimana Nusantics sudah merintisnya di industri biotech. Selamat berkarya! (*)

Sudarmadi & Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)