Yuki Mahardhito Adhitya Wardhana, Menerapkan Visi dan Inovasi Lead by Exampel

Yuki Mahardhito Adhitya Wardhana, Senior Vice President Underwriting PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (Persero).
Yuki Mahardhito Adhitya Wardhana, Senior Vice President Underwriting PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (Persero).

Lead by Exampel: Adaptif, Kolaboratif, dan Inovatif. Itulah visi dan inovasi yang dijalankan Yuki Mahardhito Adhitya Wardhana sebagai Senior Vice President Underwriting PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PII sejak 2017 dalam pengembangan karier dan bisnisnya.

Adaptif adalah mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, kebutuhan, dan tantangan di depan serta selalu siap meninggalkan zona nyaman. “Hal ini merupakan prinsip yang selalu saya pegang dan saya tularkan kepada tim dan mahasiswa saya,” ujar mantan GM Communication and Corporate Affairs Division Asia Pulp and Paper (2014 - Januari 2017) ini.

Inovasi pertama dari Adaptif adalah belajar tanpa kenal batas. Menurut Yuki, selama bekerja di tiga perusahaan (dari awal meniti karier sampai saat ini) ia memiliki role yang berbeda. Bahkan, saat ini ia menduduki posisi yang mensyaratkan kemampuan di bidang teknis infrastruktur dan finansial, yang berbeda jauh dengan latar belakang pendidikan serta pengalaman kerjanya.

“Selama proses belajar sambil bekerja, saya belajar ilmu infrastruktur dari Harvard Kennedy School, Renewable Energy Germany, University of Queensland, dan beberapa institusi lainnya. Belajar juga dilakukan dari kolega dan tim yang memiliki pengalaman,” ungkap pria kelahiran Sukabumi, 20 Februari 1982, ini.

Inovasi kedua, Fast learner. Belajar dan menguasai bidang pekerjaan tanpa takut bertanya adalah kunci untuk dapat beradaptasi. “Hasil dari Adaptif ini, pemenuhan Key Performance Indicators (KPI) selalu di atas 100% dengan predikat istimewa,” ujar mantan Lead Auditor dan Technical Expert sertifikasi PT Sucofindo (2004-2014) ini.

Lalu, Kolaboratif adalah bekerja sebagai satu tim dengan kolega dan anggota tim untuk mencapai tujuan dan tumbuh bersama. Kolaboratif diimbangi rasa empati sehingga menciptakan kondisi yang positif.

Inovasi pertama dari Kolaboratif ini adalah membangun multikompetensi di dalam tim sehingga dapat meningkatkan kemampuan personel dan iklim kerjasama dapat terbentuk. Sebagai contoh, seorang financial modeler mendapatkan peran sebagai hub dengan klien sehingga dapat memperkuat fungsi business development.

Kedua, menghilangkan sekat-sekat di dalam tim berdasarkan fungsi dan struktur organisasi, serta membudayakan “apa yang bisa saya bantu”. Ketiga, memberikan kepercayaan kepada anggota tim untuk presentasi di hadapan direksi sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan pengalaman tersendiri.

Hasil dari kolaboratif ini, menurut Yuki, anggota tim bahu-membahu, suasana lebih kondusif, dan kemampuan personel jadi lebih meningkat.

Kemudian, Inovatif adalah menggunakan cara-cara baru untuk meningkatkan produktivitas. Inovatif diperlukan untuk meningkatkan kualitas kerja dan produk yang berdampak positif pada perusahaan.

Inovasi pertama dari Inovatif ini adalah menggunakan mekanisme kerja bersama dalam menyiapkan pekerjaan dengan menggunakan menu sharingfile melalui MS Teams. Kedua, memberikan reward kepada anggota tim yang mampu mendapatkan pengetahuan baru melalui cara-cara yang inovatif, seperti mendapatkan beasiswa short course di luar negeri.

Ketiga, pada masa work from home, mengalokasikan waktu bersama untuk melakukan permainan secara online untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan menghilangkan kejenuhan. Keempat, membudayakan haus ilmu dan kompetensi di dalam tim. “Hasil dari Inovatif adalah 80% anggota divisi mendapatkan beasiswa short course, 0% resign, dan KPI terpenuhi,” ungkap lulusan S-1 dan S-2 dari IPB University ini.

Untuk creating leaders, ia mempunyai prinsip bahwa great leader adalah seorang pemimpin yang mampu menghasilkan pemimpin baru yang kualitasnya minimal sama atau melebihi pemimpin tersebut. “Metode yang saya lakukan adalah coaching, mentoring, memberikan opportunities, dan suportif,” ujar Yuki yang meraih gelar Doktor Ilmu Lingkungan dari Universitas Indonesia pada usia 30 tahun ini.

Lalu, bagaimana mendifinisikan sukses di PII dan bagaimana juga melakukan inovasi serta terobosannya? “Perspektifnya dilihat dari investor. Secara appetite risk-nya dari investor global itu adalah melihat Indonesia masih rawan untuk risiko-risiko yang ada di pemerintah,” katanya.

Untuk itu, menurut Ketua Umum Indonesia Environmental Scientist Assosiation (2020-2024) ini, PII harus maju untuk meyakinkan mereka bahwa jangan khawatir karena pihaknya akan menjamin. Yang berbeda dengan asuransi atau Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), di PII ini core-nya manusia. Knowledge adalah core-nya, terutama mengenai risk management. “Makanya, saya ambil ke Harvard dll. karena saya tahu bahwa itu risk management,” ujarnya.

Jadi, pihaknya harus memonitor risiko itu jangan sampai terjadi. Ada early warning system-nya dan itu dimandatkan berdasarkan regulasi. “Alhamdulillah, dari 39 proyek yang Rp 314 triliun itu, sampai dengan saat ini tidak gagal bayar karena early warning system-nya jalan,” kata Dosen Praktisi jenjang S-2 Sekolah Ilmu Lingkungan UI (sejak 2014) dan Dosen Praktisi S-2 Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (sejak 2021) ini.

Nah, bagaimana pihaknya menjalankan early warning system dengan baik jika knowledge-nya tidak baik? Itu yang dibangun di PII. Dengan cukup banyak milenial, tingkat knowledge-nya juga cukup baik. “Alhamdulillah, early warning system jalan, dan risk management juga jalan,” Yuki menegaskan.

Tugas Yuki sehari-hari ketika ada proyek adalah menstrukturkan kelayakan dan risikonya. Ini dilakukan sebelum ditandatangani perjanjian penjaminannya. Dari situ, ia rumuskan risk mitigation plan terhadap proyek. Itu ia mandatkan kepada penerima penjaminan dan yang ia jaminkan.

 Jadi, risikonya sudah ada dari sebelum proyek dijalankan. Namun, risiko itu bersifat dinamis sehingga risk mitigation plan itu bisa berubah dan dievaluasi setiap bulan atau bahkan setiap waktu ketika kemungkinan terjadinya risiko sehingga bisa diantisipasi.

“Buktinya apa? Sudah 11 tahun PT PII menjamin, alhamdulillah sampai saat ini klaim itu masih 0. Karena, risikonya bisa diidentifikasi dari awal,” katanya.

Yuki pun percaya, manajemen risiko itu core-nya ada di orang, karena teknologi hanya menjadi tools, sedangkan knowledge-nya harus ada di orang itu. Maka, ia sangat concern untuk membangun kemampuan orangnya.

Ia juga membuat database, proyek yang dijamin PII itu sudah banyak sektornya dari 39 proyek. Jadi, berdasarkan database itu, perusahaannya bisa melihat risiko profilnya seperti apa. “Kami harus belajar juga, mungkin di masa lalu belum tepat, sekarang kami harus perbaiki,” ujarnya.

Keberhasilan penjaminan itu adalah ketika investasi infrastruktur naik dan mau dibiayai oleh bank serta investor pun tertarik, sehingga risk itu turun. (*)

Dede Suryadi dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)