Zalmon Fabric Tommy Surya, Hidupkan Bisnis Keluarga

Tommy Surya Teja, pemilik Zalmon Fabric.
Tommy Surya Teja, pemilik Zalmon Fabric.

Terlahir dari keluarga pebisnis tekstil, sejak kanak-kanak Tommy Surya Teja (29 tahun) sudah terbiasa melihat sang kakek dan ayahandanya memproduksi tekstil secara konvensional dan menjualnya ke toko-toko kain semacam Pasar Tanah Abang. Ketika dewasa dan telah menyelesaikan pendidikan di University of Melbourne, Australia, juga sudah pula bekerja di perusahaan konsultan keuangan, rupanya pria kelahiran Bandung, 3 Februari 1991, ini mengikuti suara hati kecilnya. Jiwa entrepeneurship-nya terpanggil untuk mengolah bisnis keluarga yang sudah mendarah daging.

“Saya berpikir tetap jualan kain tetapi dengan menggunakan cara yang lebih modern,” ungkap Tommy. Yaitu, ia menambahkan, dengan menggunakan internet. “Saya melihat belum ada pemain yang berjualan kain via website ataupun media sosial,” lanjutnya. Semua itu dilakukan dengan tetap menggunakan sumber daya dari perusahaan sang kakek.

Akhirnya, pada medio 2016 lahirlah Zalmon Fabric, perusahaan tekstil yang 95% produknya dijual secara online, sedangkan sisanya dijual secara offline kepada pelanggan yang datang ke workshop langsung. Dinamai Zalmon Fabric karena bisnis yang dijalankan mirip ikan salmon. “Ketika orang jualan kain masih secara konvensional, kami melawan arus dengan menjual secara online. Ibaratnya seperti ikan salmon yang sanggup melawan arus air,” ungkap Tommy mengenai bisnis yang dibangunnya.

Maka, Instagram menjadi pilihan dominan pemasaran Zalmon Fabric. Setelah itu, pemasaran dikembangkan melalui YouTube ads, Google ads. Untuk e-commerce, Zalmon bekerjasama dengan Tokopedia. Dan demi menggaet pasar yang lebih luas, Zalmon juga berkolaborasi dengan beberapa desainer yang memiliki value yang sama, yaitu kain organik. ”Sehingga, kami ingin mendukung orang-orang yang ingin switch ke bahan alami, atau mereka yang mengedepankan sustainability,” Tommy menjelaskan.

Kendati merupakan pembelajar otodidak, Tommy yakin dengan pilihan bisnisnya. Ia pun rela, di awal-awal usaha, turun langsung ke pasar-pasar untuk survei jenis kain dan harga, serta jenis kain apa saja yang paling laku. Bersama sang adik, Tommy berbagi tugas. Ia bertugas di bagian pengembangan bisnis, pemasaran, dan medsos, sementara sang adik membantu di bagian administrasi atau pembukuan.

Diakui Tommy, awal bisnis dimulai sangat struggling. Hingga berbulan-bulan tidak ada yang membeli. “Konsumen pertama dari teman yang order dan itu juga hanya dua meter,” ujarnya mengenang. Namun, ia terus fokus untuk posting gambar-gambar yang bagus di Instagram sehingga membuat orang ingin membeli dan percaya. “Kami pun menjual sample pack kain. Jadi, orang bisa membelinya dan melihat langsung jenis kain-kainnya. Pembelian minimal satu meter,” katanya.

Kini, dikatakan Tommy, pasar mulai terbentuk. Segmen pasar ada dua, yakni ritel dan B2B. Untuk ritel, bisa membeli kain dari satu meter untuk kebutuhan desainer atau mahasiswa fashion untuk kerajinan; sedangkan B2B biasanya membeli dalam ukuran besar. Harga jualnya mulai dari Rp 57 ribu/meter untuk B2B dan untuk ritel di kisaran Rp 140 ribu/meter; tergantung pada desain dan jenis kainnya.

Setelah empat tahun berjalan, Tommy bersyukur. Penjualan di tahun pertama masih di bawah Rp 50 juta, sedangkan kini terus bergerak naik. Terutama dalam dua tahun terakhir, ia mengaku omsetnya sudah mencapai ratusan juta per bulan.

Zalmon Fabric juga berhasil bekerjasama dengan kurang-lebih 50 merek lokal dan asing, antara lain Billionaire’s Project, Smitten by Pattern, dan Duha. “Saya melihat sekarang trennya yaitu brand local dan mereka mainnya yang print colour dan abstrak motifnya,” kata Tommy yang memiliki tim yang terdiri atas 18 orang, di antaranya menangani layanan pelanggan, konten, TI, pemasaran, atau keuangan.

Setelah di awal hanya menjual custom kain, sekarang sudah ada 33 jenis kain yang siap pakai. Pelanggan tinggal pilih sesuai dengan keperluan: apakah merchandise, baju, totebag, atau lainnya. Setiap tiga bulan Zalmon Fabric juga mengeluarkan jenis kain baru, agar pelanggan tidak bosan. “Karena, produsen yang ada saat ini hanya melihat demand yang ada, sedangkan kami ingin meng-create demand dengan menghadirkan jenis kain baru,” ungkapnya.

Salah satu inovasi layanan Zalmon Fabric adalah jasa celup kain. Hasilnya berupa kain celup dengan warna full di bagian depan dan belakang menggunakan tinta reaktif. Semua jenis kain tersebut terbuat dari 100% kain berbahan dasar serat alami, tanpa poliester. “Kami menyediakan business package untuk UMKM, yaitu Program Kain Cicilan, Jasa Desain Tekstil, Jasa Pembuatan Scarf, Jasa Buat Fashion Items & Accessories,” Tommy menjelaskan.

Menurutnya, Zalmon Fabric merupakan produsen kain serat alami pertama di Indonesia sekaligus perusahaan jasa digital printing kain yang menawarkan kualitas serta brand baru bagi pencinta fashion. Zalmon mengangkat dan menjunjung tinggi pemanfaatan bahan 100% organik dan memberikan layanan desain, matching warna, dan Green Garment Service.

“Kain yang kami jual merupakan bahan serat alami, menggunakan serat tumbuhan, seperti katun dan rayon,” kata Tommy. Sebenarnya jika mencari di internet, banyak yang menjual kain printing, tetapi kebanyakan menggunakan bahan poliester yang ada campuran plastiknya. “Jadi, selain organik, kami juga ingin mengedepankan ramah lingkungan,” ujarnya bangga.

Diakui Tommy, upaya Zalmon Fabric mengedepankan ramah lingkungan merupakan bagian dari strategi pemasaran. Pasalnya, produsen tekstil biasanya ingin mencari bahan yang murah dan buatnya mudah, yaitu poliester. Dengan memosisikan di kelas premium, ia berharap bisa lebih berjangka panjang.

Memang, diakuinya juga, dengan memilih konsep bisnis yang tidak lazim, baik dalam produksi maupun pemasarannya, Zalmon Fabric harus mengedukasi pasar dan menghadapi tantangan terkait trust (kepercayaan) dan kualitas. “Bagaimanapun, kami harus membangun trust pada konsumen,” ia menegaskan. Selain itu, juga kualitas. “Jika penjualan online, mereka tidak bisa melihat bahannya langsung walaupun mereka bisa membeli sample pack,” kata Tommy yang berusaha mengedukasi pasar.

Ke depan, Zalmon Fabric tidak hanya menjual produk kain, tetapi juga produk jadi, seperti kemeja dan tas. “Selain itu, kami juga ingin ada kelas online, sehingga konsumen bisa belajar membuat pattern kain,” ungkap Tommy tentang mimpi yang akan segera diwujudkan. (*)

Dyah Hasto Palupi/ Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)