Inside Story of Bumame: Dari Deru Pandemi ke Harapan Baru (Part 3: Menganyam Masa Depan)

Bumame berupaya bangkit melalui transformasi besar menuju layanan kesehatan preventif. Dengan dukungan investasi baru, layanan diperluas, klinik modern dibangun, dan teknologi digital diperkuat. Semua demi keinginan tumbuh menjadi klinik dan laboratorium kesehatan terdepan di Indonesia.

Darah Baru

Awal 2025 membawa rasa yang berbeda. Di TB Simatupang, Jakarta, James duduk di ruangan yang dulu pernah terasa begitu sunyi. Dua tahun sebelumnya, di tempat yang sama, lebih banyak kursi kosong dan layar dashboard yang menampilkan angka-angka nol.

Kini, suara percakapan lebih riuh dari sebelumnya. Selain berdatangan karyawan baru, juga ada napas baru yang mengisi ruang itu, seperti hembusan angin hangat setelah musim dingin yang panjang.

Logo Bumame yang berwarna biru tampak lebih terang menempel di beberapa sudut. Ruangan memang sedang disiapkan untuk renovasi sejalan dengan perubahan yang dilakukan. Kantor di Simatupang tak lagi didesain untuk drive-thru PCR, melainkan klinik terpadu.

Namun, di balik senyum dan semangat yang perlahan pulih, sejak 2024, James dan para mitranya tahu betapa rapuhnya semua ini jika tidak segera mendapat suntikan dana segar untuk menguatkan otot-otot finansial. Kenangan akan masa kejatuhan 2023 masih membekas: karyawan yang harus dilepas, cabang yang ditutup, dan mimpi yang runtuh begitu cepat karena besar pasak daripada tiang.

James memang tak melupakan luka. Rasa trauma itu belum hilang sepenuhnya. Ia masih menempel seperti bekas luka di kulit — kadang terasa perih, kadang hanya samar. Namun dari sana, tumbuh tekad yang lebih matang: bila dulu mereka berlari tanpa arah, kini mereka harus berjalan dengan langkah mantap. Tidak gegabah. Lebih perhitungan. Lebih siap.

“Waktu itu, kita sadar nggak bisa lagi jalan sendiri,” kenangnya. “Untuk membangun sesuatu yang lebih besar, kita butuh mitra yang percaya sama visi kita.”

Perjalanan mencari investor bukanlah hal mudah. Di tengah upaya menjalankan tes NIPT yang makin masif, corporate medical check-up, dan home services, diskusi panjang berlangsung, penuh tanya-jawab dan pengujian visi. Deck dipresentasikan. Trust berupaya dibangun. Masa depan ditawarkan. Sampai akhirnya investor datang.

null
Layanan NIPT untuk ibu hamil di Bumame. (Foto: Bumame)

Akhir Februari 2025, Bumame resmi menutup putaran pendanaan Pra-Series A. Putaran ini dipimpin oleh Alpha JWC Ventures, dengan partisipasi 500 Global dan Kopital Ventures. Momen itu menjadi penanda: darah baru mengalir ke tubuh Bumame.

“Habis pivot, kita dibantuin Kopital Ventures, terus 500 Global, dan akhirnya Alpha JWC karena visinya sudah lumayan aligned untuk jangka panjang,” kata James, tersenyum tipis saat mengenang proses itu.

James enggan mengungkap berapa besar dana yang masuk ke laci Bumame. Yang pasti, pendanaan ini bukan sekadar tambahan modal. Ini adalah pengakuan, validasi eksternal, dan bahan bakar baru untuk menganyam masa depan yang lebih kokoh bagi Bumame.

Dana ini bukan hanya darah segar yang mengalir ke tubuh perusahaan, tetapi yang lebih penting lagi, ia membawa keyakinan baru. Bumame kini memiliki pijakan yang lebih kokoh untuk bangkit dan tumbuh kuat.

Eksekusi, Infrastruktur, Hubungan Strategis

Bagi Alpha JWC, keputusan untuk memimpin pendanaan bukanlah langkah yang lahir dalam semalam. Mereka mengikuti perjalanan Bumame dari jauh, sejak hari-hari awal pandemi ketika nama itu mulai bergaung di tengah masyarakat yang cemas. Dari sana, mereka menyaksikan sebuah tim muda bergerak cepat, membangun cabang demi cabang di kota-kota besar, dan melayani puluhan ribu orang setiap hari.

Joshua Santoso, Investment Director Alpha JWC, masih menyimpan kesan itu dengan jelas. Ia masih ingat jelas bagaimana dalam waktu singkat Bumame mampu mengelola 60 cabang drive-thru dan melayani puluhan ribu tes setiap hari. Sesuatu yang mengesankan.

“Kami melihat kemampuan eksekusi yang luar biasa dari awal. Di masa pandemi, Bumame mampu melakukan hingga 60.000 tes per hari, menunjukkan kekuatan operasional dan infrastruktur tim yang solid," katanya kepada SWA.co.id.

"Setelah pandemi mereda, mereka tidak hanya bertahan, tapi dengan cepat melihat kesempatan dan bertransformasi dan berhasil masuk ke layanan genomik seperti NIPT, di mana mereka kini menjadi pemain utama di Indonesia,” dia menambahkan.

Di mata Joshua, kemampuan itu lebih dari sekadar angka. Pasar NIPT yang sebelumnya dikuasai pemain internasional dengan harga tinggi, berhasil mereka masuki dengan lincah. “Ini menunjukkan tim yang adaptif, memiliki koneksi strategis, dan tahu bagaimana mengeksekusi di sektor kesehatan yang kompleks,” ujarnya memuji.

null
Joshua Santoso, Investment Director Alpha JWC

Bagi Alpha JWC, Joshua menjelaskan lagi, yang mereka temukan di Bumame bukan sekadar bisnis yang menjanjikan. Mereka melihat fondasi yang jarang dimiliki pemain baru: infrastruktur yang lahir dari pengalaman operasional berskala nasional, disiplin yang memungkinkan layanan berjalan seragam dari satu kota ke kota lainnya, dan akses teknologi global berkat kemitraan dengan penyedia seperti BGI Group, raksasa genomik asal Tiongkok.

Namun, di atas semua itu, yang paling menarik perhatian Alpha JWC adalah satu hal yang tak bisa dibeli: kepercayaan publik. Dalam ingatan masyarakat, nama Bumame melekat dengan momen-momen genting. Orang mempercayakan hasil tes mereka kepada Bumame, keputusan yang pada masa itu menentukan perjalanan, pekerjaan, bahkan keselamatan keluarga.

“Masyarakat pernah mempercayakan hasil tes Bumame untuk keperluan penting — mulai dari perjalanan, rumah sakit, hingga instansi resmi. Itu adalah bentuk brand equity yang tidak mudah dibangun dari nol,” ujar Joshua.

Baginya, kepercayaan itu bukan beban, melainkan aset strategis yang — jika dikelola dengan tepat — bisa menggeser narasi dan brand positioning Bumame yang tengah melakukan transformasi: dari sekadar penyedia tes (test provider) menjadi mitra kesehatan (healthcare partner) jangka panjang. Sebuah merek yang harganya sangat bernilai. .

Lalu, dari perspektif makro, Alpha JWC juga melihat gelombang besar yang sedang terjadi di sektor healthtech Indonesia. Mereka melihat sektor healthtech di Indonesia sedang berada di titik infleksi (momen perubahan besar dalam suatu tren atau perjalanan), didukung oleh kelas menengah yang terus tumbuh dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan preventif.

Data yang mereka kumpulkan menunjukkan Indonesia memiliki satu laboratorium berjejaring untuk setiap 317.000 orang. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memiliki rasio 1:112.000 dan Singapura 1:46.500.

Angka ini, papar Joshua, menunjukkan ruang pertumbuhan yang luar biasa, sekaligus tantangan besar: bagaimana mengedukasi pasar agar melihat skrining dini sebagai investasi kesehatan dan hidup yang lebih baik, bukan sekadar biaya mengecek kesehatan.

null
Pameran Lab Indonesia 2024 di JCC, Jakarta. Dari waktu ke waktu, peluang bisnis laboratorium di Indonesia sangat terbuka dan makin menggiurkan. (Foto: Bisnis/Himawan L Nugraha)

Perkuat Fondasi dan Layanan

Dengan dana segar ini, James dan para mitranya segera bergerak cepat. Prioritas pertama adalah integrasi sistem laboratorium dengan platform digital, agar seluruh alur layanan — dari booking, registrasi, pengambilan sampel, hingga pelaporan hasil — makin berjalan mulus dalam satu dashboard terpadu.

Bagi manajemen Bumame, teknologi bukan sekadar pelengkap, tetapi tulang punggung mutu dan konsistensi. Dengan digitalisasi, kesalahan manual bisa dikurangi, waktu pemrosesan dipercepat, dan transparansi penuh diberikan kepada pelanggan.

Pendanaan ini juga memperkuat kapasitas untuk membangun operational excellence, memastikan setiap layanan memiliki standar yang seragam, efisien, dan terukur.

Diakui James, manajemen Bumame belajar dari pengalaman drive-thru PCR, ketika pertumbuhan yang terlalu cepat membuat kualitas di beberapa cabang kadang bisa berbeda. Kali ini, mereka memastikan setiap layanan memberikan pengalaman yang sama. Dengan fondasi ini, visi jangka panjang Bumame menjadi lebih nyata: laboratorium modern yang relevan bagi masyarakat urban Indonesia.

Corporate medical check-up dan home service tetap menjadi strategi pertumbuhan yang asset-light; memperluas jangkauan pasar tanpa harus mengulang model cabang fisik seperti era drive-thru PCR. Armada tenaga kesehatan mobile bergerak melayani pelanggan yang bisa dijangkau.

Langkah ini mencerminkan strategic agility. Jika dulu pertumbuhan dipicu kebutuhan mendesak pandemi, kini ekspansi digerakkan pemahaman mendalam tentang perilaku pelanggan. Home service memungkinkan layanan berkualitas hadir di rumah pelanggan, sembari menguji pasar baru dengan risiko investasi yang rendah.

Suntikan segar ini memang tak membuat James dan para mitranya "lupa diri". Jika dulu, di masa PCR, pertumbuhan terjadi bak ledakan tak terkontrol, kali ini ekspansi dilakukan secara terukur dan cermat.

James mengungkap pendekatan yang mereka terapkan sekarang sungguh jauh berbeda. Ia mengaku tidak lupa pada pelajaran mahal dari masa lalu. “Dulu kita bisa ekspansi 60 cabang dalam 15 bulan, tapi semua hilang dalam setahun,” kenangnya.

Kali ini, langkah yang diambil lebih hati-hati. Fokus bukan lagi memperluas wilayah semata, tetapi membangun fondasi yang kokoh: sistem yang kuat, teknologi yang terintegrasi, SDM yang kompeten, dan yang terpenting, kepercayaan publik bahwa Bumame adalah laboratorium klinik modern yang menjadi mitra kesehatan masyarakat. Ini adalah strategi scalable growth: pertumbuhan yang cepat sekaligus bisa dipertahankan dalam jangka panjang.

Bersiap Ekspansi

Memasuki pertengahan 2025, tanda-tanda pemulihan makin jelas terlihat. Volume layanan NIPT relatif stabil, permintaan corporate medical check-up terus meningkat, dan home service diterima dengan baik oleh masyarakat urban.

Sementara ini, puncak dari langkah pivot dan transformasi ditandai dengan peresmian Klinik Cideng pada pertengahan September 2025. Klinik ini bukan hanya bangunan baru, tetapi simbol nyata bahwa Bumame perlahan-lahan telah keluar dari bayang-bayang pandemi. Klinik ini sendiri dibuka tak berapa lama setelah klinik di BSD diresmikan, melengkapi klinik di Karawang dan Simatupang.

null
Klinik terbaru Bumame di Cideng, yang dulunya melayani PCR. (Foto: Darandono/SWA)

Berbeda dengan fasilitas PCR yang bersifat darurat, Klinik Cideng (juga 3 klinik lainnya) dirancang sebagai pusat layanan preventif modern. Di sini pasien tidak hanya datang untuk tes, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat: skrining genetik, pemeriksaan kanker dini, vaksinasi, hingga konsultasi gaya hidup. Model layanan ini, papar James, kelak akan menjadi acuan bagi klinik-klinik berikutnya yang direncanakan akan dibangun di Jabodetabek pada 2026.

Jadi, Bumame akan ekspansi?

Ya. James sering mengingatkan timnya: Bumame tak boleh lagi bergantung pada satu produk atau satu krisis seperti saat pandemi. Ke depan, portofolio layanan akan diperluas. Dari NIPT, pemeriksaan kanker, medical check-up reguler, vaksinasi, hingga layanan genetika berbasis teknologi mutakhir. Semua ini sejalan dengan tren global personalized medicine dan preventive healthcare.

Kini, James dan para mitranya tak hanya membangun perusahaan, tetapi juga mencoba mengubah perilaku masyarakat. Ia ingin Bumame hadir bukan sekadar ketika orang sakit, melainkan sebagai mitra dalam perjalanan gaya hidup sehat.

Namun James tetap realistis. Ia tahu membangun reputasi sebagai laboratorium modern adalah maraton, bukan sprint. Ia juga mengungkap bahwa pihaknya menyadari, memenangkan pasar laboratorium modern jauh lebih kompleks dibanding pasar tes Covid. "Kompetisinya ketat," katanya dengan nada serius.

James Wihardja, CEO Bumame. (Foto: Wisnu Tri Rahardjjo/SWA)
Kendati persaingan ketat, James Wihardja meyakini Bumame akan tumbuh jadi pemain besar yang disegani. (Foto: Wisnu Tri Rahardjjo/SWA)

Ia mengakui pemain lama memiliki modal besar, jaringan rumah sakit luas, dan brand yang sudah mengakar. "Tapi kami optimistis bisa menjadi pemain besar," tandas James penuh antusiasme. Caranya?

Tiga Pilar

Menurut James, strategi Bumame akan berpijak pada tiga pilar yang telah menjadi DNA sejak hari pertama drive-thru PCR di SCBD: harga kompetitif, waktu layanan yang cepat, dan pengalaman pasien yang nyaman.

Ketiga pilar ini diterjemahkan dalam customer journey yang sederhana: digital booking yang mudah, waktu tunggu minim, dan hasil tes yang jelas serta akurat. “Speed and trust,” kata James dengan mata berbinar. Inilah dua kata sederhana yang menurutnya akan membedakan Bumame di pasar yang sering lamban dan birokratis.

Meski pertumbuhan mulai terlihat dan punya amunisi, James kembali menegaskan pihaknya tidak akan gegabah dan grasak-grusuk. Sustainable business menjadi tujuan.

Waktu memang mendewasakan mereka. Perjalanan yang ditempuh sejak awal 2020 yang mereka alami penuh liku: membeli alat rapid test terlalu banyak, pertumbuhan kilat drive-thru PCR, kejatuhan mendadak, hingga kebangkitan lewat NIPT dan layanan kesehatan yang relevan untuk pasar korporasi serta individu.

Jalan memang masih panjang, tetapi dengan visi yang lebih jelas dan langkah yang lebih matang, James percaya Bumame tidak hanya tengah menganyam masa depannya sendiri, melainkan juga ikut merenda kesehatan Indonesia — benang demi benang, berbekal pengalaman pahit dan tekad yang tak tergoyahkan

Lalu, apa gambaran Bumame dalam 3-5 tahun ke depan?

"Saya membayangkan Bumame tumbuh menjadi laboratorium kesehatan terbesar di Indonesia, bukan hanya dari jumlah klinik, tetapi juga dari dampak yang dihadirkan: mengubah cara masyarakat memandang kesehatan dan membangun budaya layanan preventif yang berkelanjutan," katanya dengan senyum.

Yakin?

"Harus yakin," katanya diiringi derai tawa. (Selesai)

Sebelumnya:

https://swa.co.id/read/462871/inside-story-of-bumame-dari-deru-pandemi-ke-harapan-baru-part-1-muncul-di-tengah-krisis

https://swa.co.id/read/462873/inside-story-of-bumame-dari-deru-pandemi-ke-harapan-baru-part-2-membangun-kehidupan-kedua

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag