INDEF: Waspadai Defisit Ganda dan Inflasi!

Di balik pertumbuhan ekonomi yang cukup cemerlang, yakni 6,23%, ternyata negeri ini sedang menghadapi banyak persoalan fundamental yang mengkhawatirkan dan serius. Indonesia mengalami defisit neraca, defisit keseimbangan primer dan inflasi yang sangat tinggi. Pemerintah diminta jangan terlalu terlena.

"Kami ingin memberikan peringatan kepada pemerintah bahwa kondisi keuangan kita saat ini lampu merah," kata ekonom yang juga pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini, di Jakarta, Selasa (9/4).

INDEF menyampaikan setidaknya ada tiga tantangan yang dapat menjadi batu sandungan bagi perekonomian Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan dan pemerataan pada 2013.

Tantangan pertama, defisit perdagangan pada 2012 dan awal 2013. Pada 2012 kinerja perdagangan mengalami defisit US$ 1,63 miliar. Padahal, pada 2011 perdagangan Indonesia surplus US$ 26,1 miliar. "Sementara itu, pada Januari hingga Februari 2013 juga telah terjadi defisit perdagangan US$ 0,4 miliar. Surplus neraca perdagangan nonmigas semakin menipis, tetapi neraca perdagangan migas semakin defisit," katanya.

Tantangan kedua, defisit keseimbangan primer dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Defisit keseimbangan primer 2012 tercatat Rp 45,5 triliun. Pada 2013, defisit fiskal dalam APBN ditargetkan 1,65% dari PDB dan defisit keseimbangan primer berada pada angka Rp 36,9 triliun.

Tantangan ketiga, kenaikan inflasi pada triwulan I 2013 yang tinggi. Inflasi Januari sebesar 1,03%, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Inflasi Februari juga tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Begitu pula dengan inflasi Maret sebesar 0,63%, juga rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Untuk menghindari defisit ganda dan tingginya inflasi tersebut agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi di masa mendatang, INDEF memberikan tiga rekomendasi.

Rekomendasi pertama, pemerintah harus mengurangi defisit neraca perdagangan melalui pengendalian impor migas, meningkatkan harga BBM. Rekomendasi ke-2, mengurangi tekanan defisit neraca perdagangan melalui kebijakan optimalisasi non tarif barrier dan pemanfaatan pasar domestik.  Rekomendasi ke-3, kebijakan pengendalian inflasi harus menyentuh akar permasalahan. Potensi inflasi dari volatile foods terkait erat dengan persoalan pada struktur pasar komoditas pangan.

“Harus ada upaya riil dari pemerintah untuk menertibkan tata niaga komoditas pangan dan memperbaiki jalur distribusi barang dan jasa,” tambahnya. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)